Sabtu, 18 Agustus 2018 | 05:50:15 WIB

Keakraban Masyarakat dan TNI Jalankan Program TMMD ke-98 di Bangkalan

Kamis, 4 Mei 2017 | 12:13 WIB
Keakraban Masyarakat dan TNI Jalankan Program TMMD ke-98 di Bangkalan

(FOTO: PENDAM V/BRW/LINDO)

BANGKALAN, LINDO - Di tengah menjalankan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-98, anggota TNI bersama warga Desa Bragang, Kecamatan Klampis, Bangkalan, Madura, bersantai bersama.

Mereka melepas melepas penat selepas beraktivitas dalam pengerjaan program-program TMMD.

Suasana akrab prajurit dan warga tampak tak hanya saat bekerja, namun di sela sore disempatkan pergi memancing ikan ke sungai.

Tak itu saja, mereka juga bersama-sama berburu biawak ke kawasan perbukitan di malam hari.

"Biawak dibuat sate dan dimakan bersama," kata Komandan Koramil Klampis, Kapten Kav Handre Tjahjo.

Sebelum digelar TMMD, kesan seram dan perasan grogi, canggung menyeruak di benak masyarakat setempat karena 150 prajurit sejak 5 April hingga 5 Mei 2017 akan berada di kampung mereka.

150 tentara yang terdiri dari Batalyon Artileri Pertahanan Udara (63 personel), Pasukan Marinir (30 personel), Kodim 0829 (15 personel), Polri (10 personel), Zipur (10 personel), Bintal (2 personel), Kesrem (3 personel), dan Penrem (2 personel).

Namun, setelah beberapa hari bersama dan tinggal di 22 rumah penduduk, warga malah berat berpisah setelah siang malam bekerja dan berkumpul bersama.

Seperti ungkapan Jawa "Witing Tresno Jalaran Soko Kulino" yang Cinta tumbuh karena terbiasa rasanya tepat menggambarkan keadaan tersebut.

"Warga sudah terbiasa bertemu dan beraktivitas dan perlahan merasa kagum," ungkapnya.

Bersama tentara, warga bahu-membahu dalam membangun 3 unit MCK, mengaspal jalan kampung sepanjang 2,425 kilometer dengan luas 2,5 meter, mendirikan tembok penahan jalan sepanjang 15 meter, mendirikan satu unit buk pinggir jalan, membangun 25 unit jamban warga, pavingisasi halaman masjid seluas 550 meter persegi, hingga pembuatan tiga unit pos kamling.

Selain itu, keakraban antara warga dan tentara semakin bersemi saat aktif dalam penyuluhan bencana dan wawasan kebangsaan, penyuluhan kesehatan dan sanitasi, penyuluhan undang - undang perkawinan, penyuluhan pertanian dan peternakan, penyuluhan bahaya narkoba, pengobatan gratis, pelayanan KB, dan penyuluhan keamanan lingkungan.

Kepala Desa Bragang Busiri mengungkapkan, hubungan antara warga dan para tentara awalnya berjalan kaku karena terbayang sosok seram dan tegas dari para tentara.

Maklum, selama ini jarang ada tentara berkunjung, apalagi hingga menginap selama 30 hari.

"Ya takut karena tidak pernah ada tamu tentara. Tapi setelah berbaur beberapa hari, warga senang dan kagum. Apalagi, para tentara masih muda - muda, fisiknya kuat," ungkap Busiri.

Keakraban para tentara dan warga tergambar dari kegiatan di luar pengerjaan program TMMD. Seperti pergi memancing ke sungai di sore hari selepas mereka lelah beraktivitas bersama.

"Ikan - ikan hasil memancing dimasak dan dimakan bersama saat malam. Selepas itu bercengkrama dengan suguhan hasil bumi seperti singkong, ketela, dan kacang," katanya.

Warga pemilik rumah yang ditempati para tentara bahkan akan menggelar acara perpisahan untuk melepas para tentara kembali ke masing-masing kesatuan dan keluarga mereka.

"Nantinya akan disiapkan acara khusus di setiap rumah yang ditempati tentara. Selain itu, pelaksanaan TMMD nanti juga akan ditutup dengan tasyakuran," paparnya.

Sementara itu, berdasarkan laporan hingga Kamis (4/5/2017) atau hari ke-29 TMMD, pembangunan fisik berupa pengaspalan jalan sudah mencapai 100 persen, satu unit buk 100 persen, 25 jamban 100 persen, dan pekerjaan keramik untuk dua kelas madrasah berjalan 100 persen.

Pembuatan tembok penahan jalan, empat unit gorong-gorong, tiga MCK, pavingisasi halaman masjid seluas 550 meter persegi, tiga pos kamling, dan penghijauan 2.150 bibit sudah mencapai 100 persen.

Sedanglan, dari sembilan sasaran non fisik, delapan di antaranya sudah 100 persen terlaksana atau tinggal pelaksanaan pengamanan lingkungan.

Salah satu sasaran program TMMD memang untuk lebih mendekatkan tentara kepada masyarakat sebagaimana jati diri TNI sebagai Tentara Rakyat yang harus maju dan berkembang bersama rakyat, sesuai dengan Doktrin Sitem Pertahanan Semesta (Sishanta).

Selama 30 hari, para tentara menginap dan makan di rumah warga dan uang makan milik tentara diberikan ke pemilik rumah.

Pemilihan Desa Bragang sebagai sasaran TMMD kali ini tak lepas dari hasil usulan dengan mekanisme "Buttom Up Planning" atau usulan berangkat dari tingkat desa yang dibahas dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa untuk diajukan ke tingkat kecamatan dan diteruskan ke tingkat kabupaten/kota.

Selanjutnya, dipertimbangkan sasaran yang paling cocok dengan kriteria menyangkut kepentingan hidup dan bisa langsung dirasakan manfaatnya bagi masyarakat, terutama di daerah pedalaman dan terpencil yang sulit terjangkau pembangunan.

Desa Bragang sendiri berlokasi di kawasan perbukitan dengan jarak sekitar 35 kilometer ke utara Kota Bangkalan.

Dengan kondisi wilayah seperti itu, desa dengan jumlah populasi sebanyak 3.000 penduduk itu kekurangan air bersih, fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).

Data kepela desa setempat, dari seratus rumah, sekitar tiga rumah yang punya sumur. Sementara WC, dari sepuluh rumah, hanya satu rumah yang memiliki.

Untuk buang air besar, warga sudah terbiasa menumpang di rumah tetangga.

Selain pergi ke sungai, warga bisa memanfaatkan embung seluas sekitar 2000 meter persegi untuk keperluan mencuci.

Embung tadah hujan hasil bantuan pemerintah pusat di tahun 1993 itu nyaris tidak pernah surut

Manfaat TMMD

 Semenjak tahun 1980 yang dicetuskan jendral M. Yusuf Program ABRI masuk Desa (AMD) yang ditujukan untuk membantu masyarakat Desa dalam menyelesaikan setiap permasalahan di desa selain itu AMD pada waktu itu juga membantu memaksimalkan potensi desa karena desa merupakan sumber penyuplai bahan-bahan pangan Nasional serta sebagai sumber ketenagakerjaan.

Dalam perkembanganya dari waktu kewaktu program ini mendapat tempat dan respon yang positif baik dari Pemerintah selaku penyedia anggaran dan masyarakat yang langsung merasakan kemanfaatanya.

Seiring dengan perubahan nama ABRI menjadi TNI paska berpisahnya institusi Polri diluar Kementrian Kemhan, maka AMD berubah namanya menjadi TNI manunggal membangun Desa yang disingkat TMMD.

Urgensi TMMD mengandung Subtansi dua aspek yaitu aspek kesejahteraan Masyarakat dan apek pertahanan dan keamanan. Sinergitas dua aspek tersebut menjadikan TMMD program yang terus lestari dan semakin menjadi solusi dalam pembangunan di daerah terutama di daerah terpencil yang tidak terjangkau pembangunan.

Kegiatan TMMD bersifat fisik dan non fisik. Pembangunan fisik berupa pembangunan infrastruktur yang langsung menyentuh kepada kebutuhan hidup Masyarakat, sedangkan kegiatan yang bersifat non fisik sebagai sarana penyadaran Masyarakat akan penting kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sebagai edukasi dan memberi pemahaman masyarakat maka selanjutnya akan diulas tentang proses penentuan sasaran TMMD dan urgensi TMMD.

Menentukan sasaran TMMD sendiri sebelumnya juga dilakukan pendampingan aparat teritorial dalam mengawal usulan dari Babinsa untuk tingkat desa, Danramil untuk tingkat Kecamatan dan Dandim di tingkat Kabupaten/Kota.

Dari beberepa usulan tersebut selanjutnya dipertimbangkan sasaran yang paling cocok untuk program TMMD yang kriterianya menyangkut kepentingan hidup yang langsung dirasakan manfaatnya bagi masyarakat terutama di daerah pedalaman dan terpencil yang sulit terjangkau pembangunan.

Contohnya akses jalan  penghubung antar kampung/desa, pembangunan rumah tidak layak huni, jamban dan sanitasi, kebutuhan air bersih dan kebutuhan mendasar lainnya sesuai dengan kondisi yang dihadapi masyarakat.

Setelah mengarah pada kampung/desa tertentu yang memenuhi kriteria tersebut selanjutnya diusulkan kepada musyawarah perencanaan pembangunan Kabupaten/Kota agar diakomodasi dalam APBD.

Pengusulan TMMD ini dilaksanakan dalam kurun waktu satu tahun sebelumnya sehingga dapat diakomodasi dalam usulan program APBD tahun yang akan datang.

Setelah usulan tersebut diakomodasi, maka instansi teknis terkait akan menghitung anggaran berdasarkan peninjauan di lapangan dan dalam pelaksanaanya dikerjakan secara bergotong royong sehingga dari sisi anggaran akan lebih efesien.

Sebagaimana telah disinggung di depan bahwa urgensi TMMD mengandung dua aspek yaitu aspek kesejahteraan dan aspek pertahanan keamanan.

Aspek kesejahteraan bahwa sasaran TMMD harus merupakan sasaran yang nyata dan memberikan kemanfaatan bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat.

Aspek kesejahteraan ini menjadi pertimbangan utama yang implementasinya berupa kegiatan pembangunana fisik dan non fisik.

Hal ini sejalan dengan program pemerintah baik pusat maupan daerah sehinggah dapat sinergi dalam pengalokasian anggaran dalam APBD.

Mekanisme pelaksanaan TMMD dikerjakan dengan cara bergotong royong yang melibatkan unsur TNI, Polri, dan komponen masyarakat setempat sehingga dapat lebih efisien dari sisi anggaran dibandingkan dengan mekanisme penggangaran dengan kontraktual/lelang yang berjalan secara reguler dalam pengalokasian anggaran di Pemerintah Daerah.

Keuntungan program TMMD diantaranya efesiensi anggaran,kecepatan dalam penyerapan anggaran serta penyelesaian pelaksanaan program, dapat menjangkau pembangunan di daerah terpencil serta dalam pelaksanaanya melibatkan dan memberdayakan masyarakat setempat sehinggah akan menumbuhkan rasa memiliki dan tumbunya jiwa membangun desa dan kampung halaman.

Kecepatan penyerapan anggaran dalam pelaksanaan program TMMD karena dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia dan dibatasi dalam kurun waktu 30 hari kerja.

Pada waktu penutupan TMMD program diharapkan selesai 100 persen dan langsung diserahkan hasilnya kepada pemerintah daerah.

Dalam mencapai target waktu tersebut dapat disiasati dengan melaksanakan kegiatan Pra TMMD apabila dirasa pengerjaan sasaran TMMD tidak cukup waktu selama 30 hari.

Kriteria penentuan sasaran TMMD di wilayah terpencil akan memacu perkembangan Desa/Kampung sehingga akan dapat berkembang mengikuti Desa lain yang sudah lebih maju.

Pelaksanaan TMMD dengan cara bergotong royong akan menumbuhkan jiwa kebersamaan dan saling membantu yang merupakan ciri khas bangsa Indonesia yang harus terus dilestarikan.

Sedangkan dari aspek pertahanan keamanan pelaksanaan TMMD diarahkan pada penyiapan geografi, demografi, dan kondisi sosial untuk mendukung pertahanan keamanan.

Pembangunan fisik jalan penghubung antar kampung dapat memberikan kelancaran manuver pasukan dan Alutsista dalam situasi perang disesuaikan dengan konsep produk sistem perencanaan dan pengendalian Binter (Sirendal Binter) Kodim, Korem, dan Kodam sesuai dengan pembagian mandala perang pada daerah pertempuran, daerah komunikasi dan daerah belakang.

Demikian juga pembangunan fisik lainnya harus mampu memberikan dampak pendukung pertahanan keamanan. Sedangkan kegiatan non fisik memberikan kesadaran kehidupan berbangsa bernegara, meningkatkan rasa nasionalisme dan patritisme bangsa dalam mengisi kemerdekaan dan kesiapan ketahanan wilayah.

Dari aspek pertahanan keamanan, TMMD merupakan media untuk mengarahkan rakyat secara sadar maupun tidak sadar turut andil dan menjadi komponen penting dalam pertahanan keamanan.

Kegiatan non fisik juga diharapkan untuk menepis dan menetralkan pengaruh negatif masyarakat pada pola hidup individualistik.

Dalam perjalanan sejarah telah memberi bukti bahwa persatuan dan kesatuan menjadi senjata yang ampuh dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Program TMMD harus memberikan dampak terciptanya kemanunggalanTNI rakyat. Perintah untuk tidur dan makan prajurit di rumah penduduk yang dijadikan TMMD membuat eratnya hubungan emosional dan jalinan persaudaraan yang tidak saja terjalin selama pelaksanaan TMMD melainkan terus terjalin paska TMMD sepanjang masa.

Perilaku dan semangat membantu masyarakat yang ditunjukkan prajurit kepada masyarkat dapat menimbulkan simpati dan kepercayaan rakyat terhadap institusi TNI dan pemerintah pada umumnya.

Kesederhanaan prajurit dengan makan apa adanya yang dimasak tuan rumah dan kegiatan keagamaan serta kegiatan sosial lainnya menghilangkan sekat dan jarak antara TNI dan rakyat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa program TMMD akan memiliki keunggulan yaitu efisiensi anggaran, kecepatan pelaksanaan program, jangkaun pembangunan ke daerah terpencil, terpeliharanya budaya gotong royong, meningkatnya taraf hidup rakyat, semakin sadar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta terciptanya kemanunggalan TNI dan rakyat. (Oleh Letkol Inf Sunardi Istanto SH)

Berita Terkait