Kamis, 21 Juni 2018 | 09:55:37 WIB

TNI AL : Sebagai Negara Kepulauan Terbesar Di Dunia, Indonesia Sangat Membutuhkan Intelijen Maritim

Selasa, 15 Desember 2015 | 18:27 WIB
TNI AL : Sebagai Negara Kepulauan Terbesar Di Dunia, Indonesia Sangat  Membutuhkan Intelijen  Maritim

Staf Pengamanan Kasal (Spamal) menggelar latihan operasi intelijen terpadu Tahun Anggaran (TA) 2015. (FOTO : DISPENAL/LINDO)

CIBUBUR, LINDO - Dalam upaya meningkatkan kualitas dan profesionalisme Sumber Daya Manusia (SDM) personel intelijen menghadapi tantangan dan dinamika tugas yang semakin kompleks, Tentara Nasional Indonesia Angkatan  Laut (TNI AL), dalam hal ini Staf Pengamanan Kasal (Spamal) menggelar latihan operasi intelijen terpadu Tahun Anggaran (TA) 2015, yang dibuka oleh Aspam Kasal Laksda TNI Agus Heryana, di Wiladatika, Cibubur, Jakarta Timur, Selasa (15/12).

Latihan yang digelar selama empat hari ini, berlangsung mulai 15-18 Desember 2015 di Mega Mendung, Bogor, dan dilaksanakan dalam bentuk pembekalan dan latihan parsial.  Sedangkan latihan akhir akan dilaksanakan pada 19-21 Desember 2015 bertempat di Jakarta Utara.

Adapun sasaran latihan yang melibatkan pasukan khusus dari Denjaka, Satkopaska dan Taifib ini bertujuan untuk membangun sinergitas kemampuan intelijen dengan pasukan khusus dalam penggunaan kekuatan TNI AL untuk operasi intelijen.

Pada kesempatan tersebut, Aspam Kasal mengingatkan sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia tentu  sangat membutuhkan intelijen maritim.  Terlebih lagi dengan konsep “Poros Maritim Dunia,” yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo.

“Maka sudah sewajarnya bila Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengembangkan strategi keamanan maritim, dan tentu intelijen maritim merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kepentingan tersebut,” ujarnya.

Kegiatan ini diikuti total 75 personil diantaranya 20 anggota intelijen, sembilan anggota Denjaka, sembilan anggota Kopaska, sembilan personil anggota intai Ampibi Marinir, dan penyelenggara latihan 28 orang.

Adapun materi-materi yang latihan yang diberikan diantaranya dasar-dasar operasi Klandestin dan kontra intelijen, prinsip-prinsip dasar security intelijen (cover, concealment, compartement, communication/sandi), pengorganisasian operasi intelijen dan penyelamatan kapal (pembebasan sandera).

“Perkembangan lingkungan strategis saat ini begitu dinamis.  Masing-masing negara di lingkup global maupun regional tetap berupaya untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan militernya,” jelas Laksda TNI Agus Heryana.

Disisi lain tambahnya, permasalahan perbatasan laut dengan negara tetangga, khususnya di Laut Cina Selatan yang berlarut – larut, tidak menutup kemungkinan terjadinya konflik terbuka dan maraknya kegiatan perompakan dan ancaman keamanan lainnya di wilayah laut Indonesia.

Menurutnya, untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terburuk, intelijen TNI AL bersama Pasukan Khusus Angkatan Laut perlu meningkatkan kemampuan dan sinergitas.  Sehingga dengan adanya latihan intelijen terpadu ini, setiap saat siap dan mampu menjalankan misi-misi khusus untuk kepentingan bangsa dan negara.

Berita Terkait