Rabu, 21 November 2018 | 19:28:33 WIB

Parlemen Afsel Dukung Indonesia Tingkatkan Perdagangan

Senin, 24 Juli 2017 | 15:09 WIB
Parlemen Afsel Dukung Indonesia Tingkatkan Perdagangan

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (kiri) bersama dengan Mendag dan Industri Afsel di Pretoria, Afsel, dan sepakat tingkatkan kerja sama perdagangan kedua negara, Jumat (21/7). (FOTO: TWITTER/LINDO)

LAGOS, LINDO - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan anggota parlemen dan beberapa negara bagian di Afrika Selatan mendukung keinginan Indonesia untuk meningkatkan hubungan dagang kedua negara, salah satunya terkait study nontariff.

"Beberapa negara bagian Afrika Selatan dan parlemen mendukung keinginan Indonesia untuk meningkatkan hubungan dagang selain juga menyetujui apa yang kita sepakati soal study nontariff," kata Enggartiasto, di Lagos, Minggu (23/7) waktu setempat.

Kesepakatan terkait study nontariff tersebut muncul setelah kedua negara melakukan Joint Trade Committee (JTC).

Salah satu poin yang akan dalam study nontariff yang akan diidentifikasi oleh kedua negara adalah tingkat kecocokan struktur ekspor impor antara Indonesia dengan Afrika Selatan dan sebaliknya.

Menteri Perdagangan tengah melakukan kunjungan kerja ke Afrika Selatan dan Nigeria dalam upaya untuk meningkatkan hubungan dagang dengan Indonesia.

Dukungan tersebut diutarakan oleh pihak Afrika Selatan saat jamuan makan malam di rumah dinas Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Cape Town.

Enggartiasto menambahkan, dukungan tersebut disampaikan oleh salah satu anggota parlemen Republik Afrika Selatan Shahid Esau bersama dengan Provincial Minister of Economic Opportunities of Western Cape Alan Winde dan Provincial Minister of Finance and International Relations of Western Cape Ivan Meyer.

Indonesia berkeinginan supaya Afrika Selatan bisa memulai perundingan terkait kesepakatan South African Custom Union Preferential Trade Agreement (SACU-PTA). SACU beranggotakan lima negara yakni Botswana, Lesotho, Namibia, Swaziland dan Afrika Selatan.

"Mereka juga menyampaikan dukungan agar PTA sudah mulai dipersiapkan, karena mereka berpendapat bahwa tariff juga akan meningkatkan hubungan dagang serta menguntungkan masyarakat Afrika Selatan," kata Enggartiasto.

Menurut Enggartiasto, jika nantinya SACU-PTA berhasil disepakati maka produk Indonesia akan lebih kompetitif untuk masuk dalam pasar Afrika Selatan karena adanya penyesuaian tariff dimana saat ini produk dalam negeri dikenakan bea masuk sebesar 20-40 persen.

Salah satu opsi yang sempat ditawarkan Menteri Perdagangan dan Industri Afrika Selatan Rob Davies adalah membuka peluang ekspor sapi dan daging sapi ke Indonesia.

"Daging sapi itu potensial, selama memenuhi persyaratan," kata Enggartiasto.

Tercatat, impor Afrika Selatan dari Indonesia antara lain adalah adalah bubuk kayu, alumunium, buah-buahan, dan tembaga. Sementara ekspor Indonesia berupa kelapa sawit, karet, otomotif produk, bahan kimia, sepatu, dan kakao.

Total perdagangan kedua negara pada 2016 baru pada kisaran satu miliar dolar Amerika Serikat. Dari total nilai perdagangan tersebut, nilai ekspor mencapai 727,8 juta dcxolar AS dan impor senilai290,8 juta dolar AS, sehingga Indonesia mengantongi surplus sebesar 437 juta dolar AS. (ANT)

Berita Terkait