Jumat, 20 Oktober 2017 | 03:10:51 WIB

Ketua MPR : Selesaikan Tiga Agenda Besar Bangsa Indonesia

Minggu, 24 September 2017 | 04:20 WIB
Ketua MPR : Selesaikan Tiga Agenda Besar Bangsa Indonesia

Ketua MPR Zulkifli Hasan sedang menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di hadapan ratusan anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Sabtu (23/9). (FOTO: HUMAS MPR RI/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menegaskan Indonesia dapat menjadi negara maju dan bersaing dengan negara-negara maju di dunia jika mampu menyelesaikan tiga agenda besar bangsa.

"Ketiga agenda besar tersebut adalah, mengejar ketertinggalan bangsa dalam berbagai bidang, menyejahterakan ekonomi rakyat, serta yang paling krusial adalah menjahit kembali merah putih," kata Zulkifli Hasan saat menyampaikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di hadapan ratusan anggota Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Sabtu (23/9).

Hadir pada acara tersebut antara lain, Ketua Umum ICMI Jimly Asshiddiqie, Pimpinan Pondok Pesantren Tebuireng KH Shalahuddin Wahid, dan ratusan Delegasi Perwakilan ICMI dari seluruh Indonesia.

Menurut Zulkifli Hasan, sang saka Merah Putih yang telah dikibarkan sejak proses perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, saat ini telah terkoyak oleh berbagai kesalahpahaman dan paham yang merusak bangsa Indonesia.

"Ada yang beranggapan beragama berarti jauh dari berbangsa, tunduk pada ajaran agama dianggap tidak setia pada paham kebangsaan. Ini pandangan yang keliru," tambah Zulkifli.

Ketua Dewan Pakar Pusat ICMI periode 2015-2020 ini menegaskan, Pancasila yang merupakan ideologi negara Indonesia memiliki nilai-nilai luhur bangsa dan sejalan dengan semua ajaran agama di Indonesia.

Menurut Zulkifli, kesalahpahaman dalam mengartikulasikan, memahami, serta mengimplementasikan paham keagamaan dan kebangsaan tersebut, adalah hal yang sangat serius dan dapat berdampak negatif jika terus dibiarkan.

Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) ini menegaskan, hal yang lebih membahayakan adalah ketika kesalahpahaman tersebut masuk dalam arena kontestasi politik, seperti pilkada dan pemilu.

"Pemahaman yang keliru tersebut digunakan untuk mengkotak-kotakan rakyat sesuai pilihan politik baik itu parpol atau kepala daerah," katanya.

Zulkifli mengingatkan, dalam kontestasi politik, baik pilkada maupun pemilu, menang atau kalah adalah hal biasa dalam berdemokrasi.

Calon yang menang maupun yang kalah, kata dia, hendaknya menerima hasil pemilu dan pilkada dan kemudian bersama kembali setelah usai kontestasi politik.

"Jangan sampai calon yang kalah, tidak menerima kekalahan dan kemudian memprovokasi rakyat untuk menjadi terpecah-belah," katanya.

Di hadapan Dewan Pakar ICMI, Zulkifl Hasan mengungkapkan bahwa faktanya di Indonesia paham keagamaan dan kebangsaan saling menopang, menjadi pemeluk agama yang taat adalah jalan menjadi warga negara yang baik.

Bahkan dalam ajaran agama Islam, kata dia, mencintai tanah air adalah bagian dari iman. (ANT)

EDITOR : ALDY MADJIT

Berita Terkait

Baca Juga