Kamis, 16 Agustus 2018 | 00:17:26 WIB

Tarmizi : Kalau Bisa Program Kelapa, Kopi dan Pala Jangan Kalah dengan Sawit

Selasa, 26 September 2017 | 22:37 WIB
Tarmizi : Kalau Bisa Program Kelapa, Kopi dan Pala Jangan Kalah dengan Sawit

Tarmizi AGE Inisiator Aceh Goet yang juga petani kampung sedang berpose di pabrik berbahan baku kelapa di kawasan Batee Geulungku, Kecamatan Pandrah, Bireuen. (FOTO: TARMIZI/LINDO)

BANDA ACEH, LINDO - Adanya informasi bahwa program sawit masih tetap mengungguli program kelapa di Aceh, jika hal ini benar maka pertanyaannya, kapankah program kelapa bisa menjadi salah satu program unggulan di Aceh.

Demikian hal itu dikatakan Tarmizi AGE inisiator Aceh Goet yang juga petani dikampung asal Bireuen di Banda Aceh, Selasa (26/9).

Menurutnya, Aceh merupakan salah satu kawasan strategis pengembangan perkebunan/pertanian dan industri di Indonesia diharap mampu menampung kebutuhan dunia saat ini dan masa mendatang dalam berbagai mata kebutuhan termasuk kelapa.

"Jangan sampai terindikasi sawit monopoli anggaran perkebunan/pertanian Aceh, kalau pun kelapa tidak jadi program utama, tidak mengapa, tapi jangan sampai kelapa itu kecil sekali bahkan tidak ada langsung dalam mata anggaran, ini progaram sakit," ujar Tarmizi AGE.

Dia menjelaskan kelapa itu dibutuhkan dunia, kelapa itu diperlukan semua orang, kelapa itu uang saku orang Aceh, untuk itu pemerintah dan para stakeholder terkait untuk menyadari pentingnya peluang ekomomi bagi rakyat di desa-desa agar di perkuat, salah satunya dengan program peremajaan dan pengembangan kelapa.

"Kalau kelapa itu diperlukan semua orang, maka pemerintah dan para stakeholder terkait untuk menyadari pentingnya peluang ekomomi bagi masyarakat dengan cara program peremajaan dan pengembangan kelapa di desa-desa," tandas Tarmizi AGE.

Alangkah baiknya pemerintahan Kabupaten melakukan pemetaan yang kongkrit menyangkut luas lahan yang terlantar dan tanah kosong di setiap daerah dan kemudian digarap dengan cara terstruktur dan sistematis dengan program-program pasti seperti penanaman kelapa, kopi dan pala, sekaligus membuka industri-industri dilapangan.

"Jika setiap kabupaten bisa menggarap seratusan hektar dalam setahun dengan anggaran yang tersedia dari APBN, APBA dan APBK maka bisa dikatakan disitu ada peluang ekonomi, dan bisa ada peluang pekerjaan di Aceh. Ini sesuatu yang rasional dan maju, mohon pertimbangan pemerintah, baik itu eksekutif maupun legislatif," tegasnya. (NENENG)

Berita Terkait