Jumat, 20 Oktober 2017 | 03:10:33 WIB

Kemnaker : Untuk Menggaet Anggota, Serikat Pekerja Harus Perbaiki Citra

Rabu, 27 September 2017 | 23:18 WIB
Kemnaker : Untuk Menggaet Anggota, Serikat Pekerja Harus Perbaiki Citra

(FOTO : HUMASNAKER/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Serikat Pekerja (SP) untuk terus menggugah kesadaran buruh akan pentingnya berserikat. Dengan makin banyak anggota, maka serikat makin kuat, sekaligus mempernaiki citra organisasi SP.

“Jangan sampai muncul stigma bahwa ikut SP atau Serikat Buruh (SB0) hanya disuruh demonstrasi dan dipungut iuran saja,” kata Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Hubungan Industri (KKHI), Direktorat Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial (Ditjen) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker)  Aswansyah mewakili Menaker M. Hanif Dhakiri, pada acara Resepsi Harlah ke-62 Konfederasi Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi), di Pendopo Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (Jatim), Rabu (27/9).

Karena stigma tersebut lanjutnya, saat ini para buruh mengalami penurunan gairah berserikat.  Data di Kemenaker menyebutkan, pada lima tahun terakhir terjadi penurunan jumlah SP serta penurunan anggotanya.  Dari semula SP 11.852 menjadi 7.294.  Dari jumlah buruh yang berserikat 3.414.455 orang menjadi 2.717.961 orang.

“Terjadinya penurunan anggota, harus menjadi refleksi pengurus serikat, apakah keberadaan serikat sudah memenuhi harapan anggotanya atau belum.  Citra serikat pekerja harus terus diperbaiki,” ujar Aswansyah.

Oleh karenanya tambah Aswansyah, agar SP bergeser dari isu konvensional yang hanya berkutat pada isu upah minimum.  Pasalnya, upah minimum merupakan jaring pengaman yang tidak akan pernah dapat mensejahterakan pekerja, jika tak didukung oleh instrument kesejahteraan yang lain.  Misalnya meningkatkan keterampilan pekerja dan keluarganya, sehingga menambah produktiifitas mereka.

Pada saat yang sama kata Aswansyah, pemerintah juga terus mengupayakan kesejahteraan bagi pekerja melalui skema Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, subsidi perumahan, bantuan modal usaha dan sebagainya.

Ia juga mengingatkan agar peran organisasi SP tidak melemah, harus fokus pada kepentingan SP  dan tak terjebak pada hal-hal yang tak terkait langsung dengan isu di luar kebutuhan pekerja.  

Aswansyah berharap, memasuki usia 62 tahun, Sarbumusi konsisten, solid, kreatif, inovatif dan professional dalam memperjuangkan, melindungi, dan membela kepentingan dan meningkatkan kesejahteraan pekerja serta keluarganya.

Ketua panitia Harlah Sarbumusi, Muhid Efendi menyatakan siap menindaklanjuti arahan pemerintah.  “Sarbumusi akan memberikan warna kehidupan dan bermanfaat bagi seluruh anggota dan keluarganya,” ujarnya.  

Sekretaris Jenderal Sarbumusi Eko Darwantoro mengatakan, Sarbumusi saat ini mengalami kebangkitan kedua setelah kebangkitan pertama pada kelahirannya tahun 1965, di Sidoarjo. Organisasi buruh di bawah Nahdlatul Ulama (NU) ini juga terbukti mampu hidup di tiga masa, orde lama, orde baru dan reformasi.

EDITOR : ARMAN R

Berita Terkait

Baca Juga