Kamis, 22 November 2018 | 01:34:35 WIB

Sertu Mar (Purn) Rachmat Subekti Mengisi Masa Pensiun dengan Bisnis Kuliner

Senin, 9 Oktober 2017 | 13:59 WIB
Sertu Mar (Purn) Rachmat Subekti Mengisi Masa Pensiun dengan Bisnis Kuliner

(FOTO: DISPENKORMAR/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Berbisnis perlu keberanian dan harus tahan uji. Karena bisnis itu keras (Bussiness is hard), you must do hard. Jangan pernah menyerah jika gagal , karena kegagalan adalah sebuah kesuksesan yang tertunda harus bangkit dan ulangi lagi, lagi dan lagi.

Hal itu diungkapkan Sertu Mar (Purn) Rachmad Subekti, seorang Purnawirawan Marinir yang saat ini melakoni bisnis kuliner.  Menurutnya, dalam menjalankan bisnis untuk memilih satu bidang saja dan ditekun serta jangan berganti ganti.

“Nanti pasti kita akan paham dari a sampai z.  Bila gonta ganti usaha sejatinya kita tidak pernah pintar dengan satu hal dan mencerminkan kita adalah orang yang mudah menyerah dan putus asa, sebaiknya bersabar dan selalu memohon petunjuk Yang Maha Kuasa,” terang Sertu Mar (Purn) Rachmad Subekti.

Sertu Mar (Purn) Rachmad Subekti merupakan salah satu anggota Marinir yang punya naluri bisnis sejak masih aktif sebagai Marinir. Gemblengan sebagai Marinir yang keras menambah jiwa bisnisnya semakin matang.

Kini ketika sudah pensiun pria kelahiran Jogjakarta  50 tahun lalu ini membuka sebuah resto makanan "steak" yang cukup berkelas.

Bersama istrinya Ny Sri Haryati, Bang Bekti sapaan akrab di angkatannya Dikcatam (Pendidikan Calon Tamtama ) Angkatan 59 tahun 1984, membuka makanan ala “Western“ yang butuh penanganan ekstra ini.

Ia memperkerjakan tidak kurang 18 orang di dua ruko 3 lantai, Bang Bekti menyajikan aneka rasa steak ala New Zeland, Australia dan Amerika.

Dua ruko disulap menjadi satu dan dijadikan  tempat "kongkow" yang cukup artistik penuh keunikan.  Tempatnya yang tidak di pinggir jalan raya membuat susana nyaman. Lampu warna warni dengan dinding model "bata merah" tertapi rapi. Ornamen dan hiasan ekslusif menambah serasa makan di resto negeri jiran dengan harga terjangkau. Jadi tidak perlu lagi ke negeri orang untuk menikmati lezatnya kuliner para "Cowboy" ini.

"Memang semua ini saya bangun dengan kerja, usaha dan doa yang keras. Semua saya berusaha mendesain sendiri dengan memanfaatkan sosial media . Semua murni ide saya masalah desain interior ini," ungkap Alumni Dikcabareg (Pendidikan Calon Bintara Reguler ) tahun 2012 ini.

Ia menuturkan, pernah mencari pengalaman di Selandia Baru.  Di sana punya pengalaman membuat steak.  “Alhamdulillah itu bisa saya pakai. Sekarang saya sudah pensiun jadi saya sekarang sudah punya waktu penuh kelola usaha ini.  Bahan Baku seperti daging sapi,  didukung oleh importir terkemuka. Untuk daging impor seperti PT Indoguna Masuya dan PT Sukandah," jelas  pria yang sudah menunaikan ibadah haji 2013 lalu.

Nuansa restonya memang artistik, satu hal yang unik yakni dengan membutuhkan bahasa Jawa untuk membedakan "toilet"  yakni "lanang" untuk pria dan "wadon" untuk wanita.

"Resto steak ini saya kasih nama "Steak house 818" memang ada sejarahnya. Beberapa nama memang pernah istri dan keluarga usulkan.  Namun 818 yang pas di hati.  Semoga membawa keberkahan  818 gabungan dari Angola kelahiran ke dua anak saya dan istri saya.  Angka 818 berasal dari ke dua anak saya lahirnya tanggal 8 , sedang 18 berasal dari tanggal lahir istri saya. Dihitung itung jika dihitung jumlahnya 8. Angka bagus menurut hitungan Jawa," ungkapnya.

Menurutnya, Berbisnis harus ulet dan jangan lupa untuk selalu berdoa dan berusaha bekerja dan bersabar serta bertawakal agar berhasil.  Semua yang diberikan Tuhan kepada kita adalah ujian.

"Manusia sering lupa jika diberi lebih.  Akhirnya salah jalan. Tuhan akhirnya mencabut nikmat itu. Setelah itu kita baru sadar. Saya beberapa kali mengalami ini. Bisnis saya hancur, anak yang saya cintai lebih dahulu meninggalkan saya," tutur Pria yang pernah berdinas di Timor Timur dan Ambon ini.

Ia ingin mengisi masa tuanya dengan berbisnis dan beribadah, sambil menjaga keluarga, Bang Bekti juga mengajak rekan rekan untuk berwira usaha. Banyak waktu yang bisa di lakukan dan is siap berbagi pengalaman.

"Menjalani Pendidikan Marinir memang berat, tetapi lebih berat menjaga diri selama berdinas sebagai Marinir. Alhamdulillah saya lulus menjalani tugas sebagai Marinir hingga pensiun dengan hormat setelah mengabdi selama 31 tahun dengan berbagai macam dinamikanya," pungkas Bang Bekti di restonya yang berlokasi di Jalan Lotus Timur Unit Blok RSOD 18 Grand Galxay Bekasi Timur yang baru dilakukan "soft opening" 1  Oktober 2017 lalu.

Ayah dari Fadjar Fadli, Febby Qorry Marini, Fiscal Hafidz Rafif, berharap semoga usaha yang dijalaninya menjadikan barokah dunia akhirat.

Berita Terkait