Minggu, 22 Oktober 2017 | 07:41:03 WIB

Merusak Lingkungan, Yayasan Pecinta Danau Toba Gugat Ratusan Triliun Rupiah

Selasa, 10 Oktober 2017 | 15:25 WIB
Merusak Lingkungan, Yayasan Pecinta Danau Toba Gugat Ratusan Triliun Rupiah

Para Kuasa Hukum Yayasan Pecinta Danau Toba (YPDT) saat melayangkan gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (10/10). (FOTO: AYUB/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Yayasan Pecinta Danau Toba (YPDT) pada Selasa (10/10) menggugat PT Aquafarm Nusantara, PT Suri Tani Pemuka, dan Menteri Lingkungan Hidup. Mereka menuntut atas pemulihan air Danau Toba senilai Rp.905.667.000.000.000,- (Sembilan Ratus Lima Triliun Enam Ratus Enam Puluh Tujuh Milyar Rupiah).

"Kami menuntut pada PT Aquafarm Nusantara, PT Suri Tani Pemuka, dan Kementerian Lingkungan Hidup senilai Sembilan Ratus Lima Triliun Enam Ratus Enam Puluh Tujuh Milyar Rupiah, karena sudah merusak air Danau Toba," kata Deka Saputra Saragih SH MH, selaku kuasa hukum dan  penggugat Yayasan Pecinta Danau Toba di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (10/10).

Deka menjelaskan sebelumnya Presiden Jokowi sudah mengadakan rapat terbatas dengan menteri-menteri pada bulan Agustus 2016, pada saat kegiatan Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba di Simalungun.

"Hasil rapat tersebut menghasilkan beberapa poin penting dan Presiden Jojowi menyatakan bahwa Danau Toba merupakan bagian dari 10 kawasan strategis pariwisata nasional yang diprioritaskan untuk dikembangkan oleh Kementerian Pariwisata. Selain itu pemerintah pusat dan daerah harus merencanakan kegiatan terkait kelestarian Danau Toba, termasuk pembersihan lingkungan Danau Toba dan evaluasi terkait keramba-keramba (Jaring Apung) milik perusahaan yang ada di dalam Danau Toba," tegasnya.

Sementara kuasa hukum Maraup Siahaan juga menambahkan kegiatan usaha perikanan dengan cara membuat keramba jaring apung di perairan Danau Toba oleh PT Aquafarm Nusantara dan PT Suri Tani Pemuka adalah sebuah pelanggaran berat dan mengabaikan instruksi presiden.

"Hingga saat ini PT Aquafarm Nusantara dan PT Suri Tani Pemuka masih melakukan kegiatan usaha perikanan dengan cara membuat keramba jaring apung di perairan Danau Toba. Mereka ini telah membuat air Danau Toba menjadi tercemar," ungkapnya.

Terkait gugatan yang di layangkan oleh Yayasan Pecinta Danau Toba di Pengadilan Jakarta Pusat, karena mereka sudah melakukan test dengan cara melakukan pengambilan data. Dan hasil riset oleh PT Sucofindo (Persero), menuturkan bahwa pengolahan dan analisis terhadap kualitas air Danau Toba, pada tanggal 10 November 2016 di sebelas titik dinyatakan kondisi Air Danau Toba tercemar dan tidak layak dikonsumsi.

"Hasil test dan analisis oleh PT Sucofindo (Persero) kualitas air Danau Toba sudah tercemar dan tidak layak dikonsumsi lagi," paparnya.

Sedangkan pada bulan Februari 2016, Pelaksana tugas Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi menjelaskan bahwa Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pernah melepas 250 ton pakan yang di masukkan ke Danau Toba setiap harinya, tidak dimakan oleh ikan-ikan yang ada di dalam dasar air, hal inilah yang menyebabkan Air Danau Toba sudah tercemar.

"Kami dari Tim Litigasi Yayasan Pecinta Danau Toba berharap agar persoalan Danau Toba yang kondisi tercemar bisa seperti semula lagi, agar masyarakat khususnya yang kena dampak air tercemar dapat menikmati lingkungan asri, nyaman, sehat serta damai," tandasnya. (AYUB NASUTION)

EDITOR : ALDY MADJIT

Berita Terkait

Baca Juga