Minggu, 22 Oktober 2017 | 00:31:59 WIB

Kemnaker : Pengusaha Wajib Susun Serta Terapkan Struktur Dan Skala Upah

Kamis, 12 Oktober 2017 | 16:29 WIB
Kemnaker : Pengusaha Wajib Susun Serta Terapkan Struktur Dan Skala Upah

(FOTO : HUMASNAKER/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) telah mengeluarkan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) No.1 tahun 2017 tentang Struktur dan Skala Upah. 

Peraturan tersebut yang merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah (PP) No.78 tahun 2015 tentang Pengupahan ini, mewajibkan pengusaha untuk menyusun dan menerapkan struktur dan skala upah paling lambat pada 23 Oktober 2017.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Sosial dan Jaminan Sosial Tenaga kerja (Dirjen PHI dan Jamsos) Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Haiyani Rumondang, mewakili Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri, saat membuka Acara Konsolidasi Dewan Pengupahan Tahun 2017, di Jakarta, Rabu Malam  (11/10).

Menurutnya, pengupahan adalah salah satu aspek yang berpengaruh besar karena berkait erat dengan kepentingan pengusaha dan kesejahteraan pekerja/buruh. Oleh karena itu,  penerapan struktur dan skala upah di perusahaan merupakan suatu hal yang mutlak harus dilaksanakan sesuai peraturan.

Peraturan tersebut menegaskan, bahwa pengusaha wajib menyusun struktur dan skala upah dengan memperhatikan golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan dan kompetensi.  Struktur skala upah ini memiliki manfaat, antara lain sebagai pedoman penetapan upah sehingga buruh mendapatkan kepastian besar upah dan untuk mengurangi kesenjangan upah tertinggi dan terendah di perusahaan.

Struktur dan Skala Upah ditetapkan oleh Pimpinan Perusahaan dalam Bentuk Surat Keputusan  (BSK). Struktur dan Skala Upah harus dilampirkan pada saat pendaftaran, perpanjangan atau pembaharuan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) atau Peraturan Perusahaan, dengan diperlihatkan kepada pejabat terkait. pengusaha juga wajib memberitahukan struktur skala upah kepada pekerja/buruh.

“Penerapan struktur dan skala upah di perusahaan akan menciptakan keadilan internal dan eksternal di perusahaan serta secara bersamaan menjadi alat bantu perusahaan untuk dapat mencapai visi dan misi perusahaan,” terang Haiyani. 

Pemahaman sistem pengupahan serta pengaturannya tambahnya, sangat diperlukan untuk memperoleh kesatuan pengertian dan penafsiran terutama antara pekerja/buruh dan pengusaha.

”Upah Minimum hanya berfungsi sebagai jaring pengaman (Safety Net) untuk menghindari agar upah tidak merosot sampai ke level yang paling rendah sebagai akibat ketimpangan pasar kerja.  Penerima Upah Minimum dimaksud hanya berlaku bagi pekerja/buruh dengan masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun,” jelas Haiyani.

Perencanaan pengupahan tambahnya, merupakan suatu hal yang mutlak dan harus ditata sedemikan rupa sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh serta pada saat yang bersamaan dapat mewujudkan kondisi yang kondusif bagi pengembangan dunia usaha.  Keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan peluang yang ada dan melalui berbagai tantangan sangat ditentukan oleh masyarakat Indonesia sendiri.

“Masyarakat sangat berperan sesuai dengan fungsi masing-masing, termasuk seluruh Anggota Dewan Pengupahan baik Dewan Pengupahan Nasional, Dewan Pengupahan Provinsi maupun Dewan Pengupahan Kabupaten/Kota serta semua pihak yang hadir dalam acara Konsolidasi Dewan Pengupahan Nasional Se-Indonesia ini,” ujarnya.

Oleh karena itu, Haiyani mengajak semua yang hadir untuk tidak hanya memikirkan penyempurnaan dan penerapan sistem yang ada, tetapi juga memulai memikirkan dan mengembangkan konsep mengenai sistem pengupahan yang dibangun secara relevan dan realistik sesuai dengan kondisi dunia kerja dan industri di Indonesia saat ini dan ke depan.

Untuk diketahui, Konsolidasi Dewan Pengupahan ini diikuti oleh 365 orang, terdiri dari Anggota Dewan Pengupahan Nasional, utusan Dewan Pengupahan Provinsi dan Dewan Pengupahan Kabupaten/Kota terpilih dan Peserta Peninjau.

EDITOR : ARMAN R

Berita Terkait

Baca Juga