Kamis, 18 Oktober 2018 | 01:46:34 WIB

Tol Layang Pettarani Solusi Kemacetan Makassar

Jum'at, 20 Oktober 2017 | 02:01 WIB
Tol Layang Pettarani Solusi Kemacetan Makassar

Menteri Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono (tengah) didampingi Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (kanan), dan Direktur Utama PT Bosowa Marga Nusantara Anwar Toha (kedua kiri) melihat maket rancangan pembangunan tol layang AP Pettarani saat peletakan batu pertama (Groundbreaking), Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (19/10). (FOTO: TRIBUNNEWS/LINDO)

MAKASSAR, LINDO - Tol layang Perttarani yang akan dibangun bertingkat tiga, dinilai akan menjadi solusi kemacetan di Kota Makassar.

"Kehadiran tol layang Pettarani dan juga under pass Mandai akan menjadi solusi kemacetan di Kota Makassar," kata Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono pada kegiatan "ground breaking" tol layang AP Pettarani di Makassar, Kamis (19/10).

Dia mengatakan, selain untuk pembangunan tol tersebut, Kementerian PUPR juga masih akan melanjutkan pembangunan Bendungan Passeloreng dan Bendungan Karalloe di Sulsel.

Sedang untuk di sektor jalan, lanjut dia, akses jalan yang tidak mendukung di daerah objek wisata Tana Toraja menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah.

Khusus pembangunan tol layang bertingkat tiga di Makassar, PT Bosowa Marga Nusantara (BMN) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Makassar dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Kegiatan yang berlangsung di jalan Jendral Urip Sumoharjo diresmikan langsung oleh menteri PUPR Harry Trisasputra Zuna, Kepala DPRD Sulsel H Muh Roem dan walikota makassar Ramdan Pomanto.

Sementara itu Dirut PT Jalan Tol Seksi Empat (JTSE) Anwar Toha mengatakan, pihaknya terus berupaya memberikan solusi dan inovasi terbaik melalui pengimentasian desain dengan menggunakan teknologi yang dapat disepakati berbagai pihak.

"Selama masa konstruksi, tentu kenyamanan para pengguna jalan akan sedikit terganggu. Untuk itu, kami mengharapkan dukungan serta kerjasama dari semua pihak agar pembangunan dapat berjalan lancar dan selesai tepat waktu," ujarnya.

Desain jalan tol layang yang memiliki panjang 4,3 km memiliki nilai investasi lebih dari Rp2 triliun dengan menggunakan desain kantilever (double dacker) yang merupakan teknologi pertama di Indonesia.

Setelah proses "ground breaking", sedikitnya membutuhkan waktu sekitar enam bulan persiapan untuk menuju ke tahap pembangunan yang membutuhkan waktu sekitar dua tahun masa konstruksi. (ANT)

Berita Terkait