Senin, 20 November 2017 | 14:32:56 WIB

AP2LN Siap Rebut Kembali Pasar Pemagangan Jepang

Sabtu, 11 November 2017 | 01:07 WIB
AP2LN Siap Rebut Kembali Pasar Pemagangan Jepang

(FOTO : ARMAN/LINDO)

JAKARTA, LINDO – Program pemagangan mempunyai tujuan utama, yaitu meningkatkan kompetensi angakatan kerja dengan langsung menjalani proses pemagangan di dunia industri, yang berorientasi pada suatu jabatan tertentu dan sesuai standar industri, yang akan memberikan angkatan kerja keterampilan yang sesuai dengan dunia industri.

Hal demikian disampaikan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri, saat membuka acara Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Asosiasi Penyelenggara Pemagangan Luar Negeri (AP2LN) , sekaligus pengukuhan Pengurus AP2LN Periode 2017-2021, di Hotel Santika, TMII, Jakarta Timur (Jaktim), Jumat (10/11).

Menurutnya, progran pemagangan juga  bertujuan utamanya memberikan kesempatan kepada anak muda untuk mendapatkan keterampilan. Dengan agenda bertajuk “Meningkatkan Profesionalisme dan Sinergitas Penyelenggara Pemagangan Luar Negeri di Era Persaingan Kompetensi Global” ini, Menaker juga menegaskan pemagangan sebagai bagian dari sistem pelatihan nasional, yang merupakan bagian dari sistem pendidian nasional.

Karena dalam proses magang ada keahlian tertentu yang di ajarkan pada peserta untuk mendapatkan skill, alih teknologi, dan berbagai keterampilan.  “Jadi di era persaingan, ini menjadi alat pertahanannya adalah Kompetensi,” terang Menaker.

Angkatan kerja lanjutnya, masih didominasi oleh masyarakat berpendidikan rendah. Di mana 60 persen dari total 131,5 juta angkatan kerja di Indonesia merupakan lulusan SD dan SMP. Pengangguran akan terjadi kalau diantara beberapa orang tidak memiliki kompetensi.

Pemerintah Indonesia kata Hanif, terus meningkatkan akses dan mutu pelatihan kerja untuk menjawab tantangan ketenagakerjaan yang ada.  Baik itu, vocational training maupun retraining sebagai jembatan untuk masuk ke pasar kerja.

“Mereka (angkatan kerja) bisa memperbaiki karir dan meningkatkan kualitas pekerjaannya. Oleh karena itu, pendidikan dan pelatihan yang berkualitas sangat penting,”  jelas menteri asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Seperti diketahui, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) juga telah menciptakan program pemagangan nasional yang diresmikan langsung oleh Presiden Joko Widodo pada 23 Desember tahun 2016 lalu.  Pada 2018, ditargetkan prog¬¬¬ram pemagangan bisa diikuti oleh 400 ribu orang dan dengan melibatkan 4 ribu ins¬truktur.

Sementara itu, Ketua Umum AP2LN periode 2017-2021  Shofiyullah dalam Rakernas tersebut, menyampaikan, bertekad merebut kembali pasar Jepang minimal menjadi  posisi nomor 2 bisa diraih kembali.

Oleh karena itu, agar semua harapan bisa tercapai oleh AP2LN , ia memohon dukungan, bimbingan, arahan dan pembinaan prasarana komunikasi dan sinergisitas  yang berkesinambungan dari pemerintah, khususnya Kemnaker sebagai regulator.

“Kami menyadari, dibailk pemikiran idealisme kami, tentunya sebagai Assosiasi dan perkumpulan SO ( Sending Organisation) tentulah  belum sempurna dan masih banyak kekurangan.  Untuk itu, kami dengan memposisikan diri sebagai mitra strategis, mengusulkan beberapa langkah yang harus dilakukan,” ujar Shofiyullah.

Salah satu kendala anak bangsa yang ingin punya kesempatan ikut program ke jepang tambahnya, adalah masalah pembiayaan.  AP2LN terus berupaya untuk menjembatani dengan melakukan kerja sama baik dengan lembaga perbankan pemerintah maupun lembaga keunganan financial lainnya dengan bunga KUR yang sangat ringan untuk bisa membiayai anak bangsa berkesempatan ikut program ini.  AP2LN sudah melakukan Nota Kesepahaman (MoU), baik dengan Bank BRI, BNI, KYODAI sebagai Lembaga remettance di Jepang dan BFI.

Jika melihat data pemagangan dengan jumlah trainee yang ada di Jepang sampai tahun 2016 sebanyak 18.7245 trainee dengan asumsi per trainee mengirim 20.000 yen atau setara Rp 2.300.000 maka kontribusi remitansi per bulan yang bisa mengalir ke tanah air sebanyak Rp. 43.067.500.000 perbulan  atau sekitar Rp 516.810.000 per tahun, hal inilah bukti nyata bahwa peserta magang Indonesia adalah salah satu contoh Pahlawan devisa negeri ini.

AP2LN kata Shofi, meskipun usia AP2LN  baru dua tahun yang tergolong masih belia bahkan bagaikan bayi Bawah Lima Tahun atau Balita, namun keberadaan dan kiprah AP2LN sudah bisa diperhitungkan dan dirasakan manfaatnya oleh semua pihak.

“Tantangan ke depan dengan menghadapi persaingan kompetensi yang global dan makin kompetitif, tentunya AP2LN harus bisa menjadi salah satu pelopor dan mampu menghadapi tantangan tersebut. Persaingan yang klta hadapi bukan lagi persaingan antar SO Internal kita di Indonesia. Tetapi tantangan ke depan kita harus bisa bersaing dengan SO dari Negara Iuar,” terang Shofiyullah.

Ia menambahkan, pada 1990 –an lndonesia pernah mencapai puncak kejayaannya di Jepang menjadi urutan No 2 setelah China, tapi di tahun 2009 sampai saal ini Indonesia mengalami penurunan.

Indonesia menempati urutan ke 4 dalam penempatan peserta magang ke Jepang, dengan urutan Vietnam (38 5%) yang notabenenya Negara Vietnam yang dulu pemah belajar program pemagangan dl Indonesia, kini bisa menempati urutan teratas, disusul China (35%), Phillplna (9,9%) dan Indonesia (8,2%).

Menurutnya, hal ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) kita,  khususnya darl para steakholder dan lebih khususnya Kemnaker sebagai Induk dan pemangku kepentingan dalam pengambilan kebijakan program pemagang ini.  AP2LN Siap dan selalu menyiapkan diri untuk terus meningkatkan kualitas ,baik kualitas instruktur, kualitas pembelajaran sarana dan prasarana.

“AP2LN diperiode kepengurusan 2017-2021, sudah memiliki dua training center yang ada di Sukabumi dengan kapasitas 500 orang dan di Karanganyar (Jawa Tengah) dengan kapasitas 200 orang.  Tentunya AP2LN juga akan menyiapkan standarisasi pelatihan dengan menyiapkan skema atau kurikulum pembelajaran untuk para SO yang terhubung, sehingga kualitas yang dihasilkan akan sama dan bermutu tentunya,” jelas Shofiyullah.  

AP2LN tambahnya, juga terus melakukan upaya kerja sama untuk meningkatkan kualitas tersebut salah satunya dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dengan segera membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pemagangan anak bangsa yang dilatih memiliki kemampuan dan bisa berdaya saing di era persaingan kompetensi global ini dengam bukti sertifikat kompetensi.

Sementara itu, data Jumlah Pemagang Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2014 sebanyak 3.779 trainee,tahun 2015 sebanyak 5.478 trainee dan tahun 2016 sebanyak 6.620 trainne ada kenaikan rata-rata 30% pertahun dengan jumlah SO 111.

Kontribusi IM Jepang yang notabennya sebagai Mitra Strategis Kemnaker di tahun 2016, mengirim sebanyak 1.443 trainne, sementara sisanya SO swasta murni mengirim sebanyak 5.177 trainee yang sebagian besar dari SO yang terhubung di AP2LN (Sumber Data Ditjen Pemagangan).

“Kami yang tergabung dalam AP2LN sebanyak 76 SO, siap dan bertekad merebut kembali pasar Jepang dengan slogan “Mari Bung Rebut  Jepang Kembali”.  Target 2021 minimal menjadi posisi nomor 2 bisa diraih kembali,” pungkas Shofi.

EDITOR : ARMAN R

Berita Terkait

Baca Juga