Minggu, 19 Agustus 2018 | 07:19:15 WIB

Penyanyi Tulus Memaknai Tahun 2017 Sebagai Tahun Kerja Keras

Senin, 1 Januari 2018 | 15:36 WIB
Penyanyi Tulus Memaknai Tahun 2017 Sebagai Tahun Kerja Keras

Line Concert 2017 Penyanyi Tulus membawakan lagu andalannya dalam konser Line Concert 2017 di Surabaya, Jawa Timur. (FOTO: ANT/LINDO)

BEKASI, LINDO - Musisi Muhammad Tulus Rusydi (30) menganggap 2017 sebagai tahun kerja keras yang dilaluinya bersama tim untuk berkiprah dalam dunia musik dan berkegiatan sosial.

"Di tahun 2017 saya rasakan sangat cepat sekali berlalu. Tiba-tiba sudah masuk 2018. 2017 bagi saya merupakan tahun kerja keras dan kolaborasi," katanya.

Hal itu diungkapkan musisi yang akrab disapa Tulus menjelang penampilan keduanya di The Downtown Walk Summarecon Mal Bekasi, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (31/12) malam.

Selain menyelesaikan album ketiganya bertajuk "Monokrom", pada periode 2017 pria yang memboyong empat trofi AMI Awards itu juga aktif melakukan kolaborasi bersama sejumlah seniman ternama Indonesia.

"Banyak kegiatan yang saya lakukan pada 2017, rata-rata adalah kegiatan berkolaborasi dengan para seniman, salah satunya di Yogyakarta," katanya.

Kegiatan tersebut berbentuk penggarapan video klip berjudul "Manusia Kuat" lewat kolaborasi Tulus dengan Papermoon Puppet Theatre, sebuah kelompok seniman teater boneka asal Yogyakarta yang karyanya telah mendunia.

Papermoon dikenal lewat karya imajinatif dan bingkai unik dari berbagai kisah peradaban.

Pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 1987 silam itu juga menyisihkan waktunya sepanjang 2017 pada kegiatan sosial pengumpulan donasi untuk penyelenggaraan pelatihan dan pendampingan guru di Kelurahan Sumur Batu, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.

"Program Bantu Guru Belajar Lagi ini berawal dari informasi teman di lingkungan saya, bahwa banyak tenaga pendidikan di Bantargebang yang membutuhkan peningkatan kapasitas mengajar. Yang penting bagaimana saya bisa berkontribusi aktif pada kebutuhan tenaga pendidik di sana," katanya.

Dikatakan Tulus, pengumpulan donasi masyarakat bagi guru yang semula diproyeksikan hanya berkisar Rp50 juta, nyatanya melonjak hingga Rp222.010.679.

"Programnya saat ini sudah berjalan. Ada tiga sekolah negeri di Bantargebang yang terlibat dalam kegiatan sosial ini. Yang terpenting bagiaman kualitas pendidikan bisa terus berkembang melalui pelatihan kepada guru yang diadakan secara berkala," katanya.

Ia menambahkan, alokasi donasi itu murni diperoleh pihaknya dari sejumlah hasil penjualan karya, marchendise, pengumpulan masa dan lainnya.

"Pada 2017, tidak ada keinginan yang muluk. Saya merasa sudah dilalui dengan maksimal. Awal tahun ini saya mau istirahat dulu untuk liburan," demikian Tulus. (ANT)

Berita Terkait