Rabu, 19 September 2018 | 12:36:52 WIB

Cegah Radikalisme, Pesantren An-Nahdlah Depok Adakan Seminar Santri Untuk NKRI

Senin, 22 Januari 2018 | 21:36 WIB
Cegah Radikalisme, Pesantren An-Nahdlah Depok Adakan Seminar Santri Untuk NKRI

(FOTO : PMII/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat (Jabar) menyelenggarakan Seminar berjudul “Santri Cerdas dan Beriman untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)”, yang digelar pada Minggu (21/1).

Acara ini terselenggara atas kerja sama dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Depok, Pondok Pesantren An-Nahdlah, dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Depok.

Tujuan diselenggarakannya acara ini adalah untuk memperkuat pemahaman para santri terhadap hubungan nilai-nilai Islam Ahlu sunnah wal Jamaah an-Nahdliyah dengan NKRI.

Selain itu, acara ini juga bertujuan mengelola dan membina santri agar memahami pentingnya ideologi dan sistem demokrasi Indonesia. Terutama dalam rangka menangkal radikalisme dan isyu Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA).

Acara ini dihadiri oleh Wakil Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Depok Kyai Ahmad Solechan dan Analis Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Kunto Nugroho beserta jajaran pimpinan, kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah An-Nahdlah.

Acara diawali dengan penampilan rebana dari Grup Hadrah An-Nahdlah, yang dilanjutkan dengan pembacaan yasin dan tahlil bersama-sama yang langsung dipimpin oleh Kyai Achmad Solechan.

Acara dilanjutkan dengan acara seminar, yang diikuti oleh 180 lebih santri dan berjalan semarak. Terlihat para santri sangat antusias mengajukan pertanyaan dalam sesi tanya jawab seminar.

Dalam seminar tersebut, Achmad Solechan sebagai pembicara pertama, memaparkan tentang pentingnya aswaja an-nahdliyah bagi para santri. Selain itu, ia juga menjelaskan tentang sistem khilafah Islamiyah yang tidak relevan dengan bangsa ini. Sebab, masyarakat Indonesia sangat beragam dan sudah berdamai dengan system demokrasi.

Ia juga memaparkan terkait perbedaan sistem khilafah pada zaman Khulafaur Rasyidin dan masa dinasti. Ia berpesan kepada para santri untuk selalu cinta tanah air dan tidak mudah terpancing dengan isyu-isyu SARA.

“Harapan kami, edukasi tentang aswaja dan NKRI akan terus diselenggarakan di pesantren-pesantren yang ada di Depok. Hal itu penting untuk mengajarkan kepada santri tentang hubbul wathan,” harap Kyai Alech.

Hal senada juga diungkapkan oleh pembicara kedua, Kunto Nugroho. Menurutnya, radikalisme merupakan awal mula terjadinya tindakan seperti ektremisme dan terorisme.

Ia menyebutkan, berdasarkan data yang dihimpun pada 2016 hingga 2017, anak muda dan remaja di usia sekolah sangat rentan terkena ideologisasi negatif semacam itu.

“Saya kira acara ini sangat penting, agar para santri tahu apa itu radikalisme, dan seperti apa menyikapinya agar tidak terjebak di dalamnya. Selain itu, penting juga untuk para santri mengimplementasikan toleransi dalam kehidupannya sehari-hari,” terang Kunto.

Kunto memaparkan tentang data-data dan penyebab terorisme yang terjadi di Indonesia. Media sosial menjadi sorotan utama penyebaran paham radikalisme. Beberapa kasus bom yang terjadi di Indonesia, ternyata disebabkan oleh proses radikalisasi yang terjadi di Media Sosial (Medsos)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      facebook.

Ia mencontohkan, kasus pengeboman di Surabaya dan Mojokerto baru-baru ini menunjukkan bahwa pengebomnya telah diradikalisasi dengan kurun waktu yang tidak begitu lama, yakni sekitar 4 hingga 6 bulan saja. Dalam kurun waktu yang singkat, mereka dapat sangat radikal dan akhirnya menjadi ekstremis.

Dalam acara tersebut, turut hadir pula Ketua Umum PMII Cabang Kota Depok, Ahmad Luthfi. Ia menyambut baik dan berkomitmen untuk meneruskan program penguatan kebangsaan dan nasionalisme di pesantren-pesantren di Kota Depok.

“Saya kira sinergitas pesantren dan PMII perlu dijaga. Hal itu mengingat maraknya berita hoax dan ujaran kebencian bermunculan di Medsos. Sebagai penguat kaum intelektual muda NU, peran serta PMII sangat dibutuhkan untuk mengedukasi para santri untuk selalu selektif,” ujar Luthfi.

Dengan terselenggaranya acara ini lanjutnya, Pesantren An-Nahdlah, PCNU dan PMII Kota Depok akan terus ikhtiar dan berkomitmen menyerukan kewaspadaan terhadap isu-isu SARA, radikalisme, dan ekstremisme. (ARMAN R)

Berita Terkait