Selasa, 21 Agustus 2018 | 10:53:44 WIB

Hakim PN Timur Gali Keterangan Saksi Soal Yayasan Dalam Sidang STT Setia

Rabu, 4 April 2018 | 20:53 WIB
Hakim PN Timur Gali Keterangan Saksi Soal Yayasan Dalam Sidang STT Setia

Suasana sidang STT Setia di PN Timur, Rabu (4/4). (FOTO: AHMAD/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Sidang lanjutan ijazah palsu dari Sekolah Tinggi Teologia Setia (STT Setia) kembali digelar oleh Pengadilan Negeri Jakarta Timur, pada Rabu (4/4) pukul 13.30 WIB.

Hakim yang memimpin sidang dalam perkara itu adalah Antonius Simbolon dan dibantu oleh dua hakim anggota. Dalam persidangan Jaksa Penuntut Umum Asnawi dan rekannya menghadirkan sejumlah saksi fakta yaitu Saudari Boni.

Dalam persidangan itu, para hakim ketua lansung mencecer sejumlah pertanyaan kepada Boni. Dihadapan para hakim Boni mengakui bahwa dirinya pernah menjabat sebagai ketua yayasan Bina Setia Indonesia.

"Yang saya tahu di Yayasan Bina Setia terdiri dari tiga jabatan yaitu, Dewan Pembina Dewan Pengurus dan Dewan Pengawas. Sementara dalam kegiatan di yayasan diantaranya, menyelenggarakan Sekolah Teologia Jurusan ke Pendetaan dan Guru Agama Kristen," katanya.

Sementra ditanya oleh hakim perihal soal berdirinya yayasan, saksi Boni menjawab tidak tahu. Dia hanya menjawab, saat dirinya bergabung di yayasan itu pada tahun 2013 dan berakhit pada bulan Maret 2013.

"Saya tidak tahu berdirinya yayasana yang mulia. Saya bergabung di yayasan itu pada tahun 2013, dan berhenti pada tahun yang sama yaitu pada bulan Maret 2013," kata Boni.

Setelah itu saksi tidak lagi bergabung karena yayasan sudah dibubarkan pada tanggal 18 Maret 2014, namun sekolahnya masih tetap berjalan. Sementara yayasannya sudah berubah nama yaitu Yayasan Sanbas.

Ditanya soal pengurusan yayasan Sanba, saksi tidak tahu nama-namanya, namun sampai sekarang pengelolaan yayasan Sanbas masih berjalan.

Terdakwa Matius saat itu menjabat ketua yayasan Bina Setia, di tanya terkait terdakwa dua bernama Erna, saksi tidak tahu karena saat itu beliau tidak ada. jelas saksi.

Hakim kembali menanyakan dasar terselenggaranya Sekolah Tinggi Teologia (STT), saksi hanya menjawab bahwa pihaknya hanya menjalankan sesuai SOPnya. Sebagian sekolah ini didirikan atas rekomendasi pemerintah untuk di operasionalkan.

Ditanya juga dasar berdirinya yayasan STT ini masak saksi tidak tahu, hakim berpendapat kalau satu sekolah atau yayasan itu harus ada dasar atau tujuan itu sendiri, apa itu, perijinan apakah itu surat-surat keputusan dari yang berkompeten, saksi hanya menjawab kalau selama masih yayasan bina setia saya tahu, dasar-dasarnya yaitu Sekolah Tinggi Teologia Setia (STT Setia) di selenggarakan sesuai petunjuk dari Departemen Agama, dengan nomor 380/tahun 1997/350/1999.

"Dalam menyelenggarakan sekolah tinggi teologia, untuk jurusan ke Pendetaan dan Pendidikan Guru Agama Kristen hanya membutuhakn ijazah diploma satu, dan diploma dua," tandasnya. (AHMAD DAILANGI)

Berita Terkait