Kamis, 26 April 2018 | 01:18:46 WIB

Teknologi Industri 4.0 perlu Dibarengi Ketersediaan Pasar

Kamis, 12 April 2018 | 02:33 WIB
Teknologi Industri 4.0 perlu Dibarengi Ketersediaan Pasar

Ilustrasi - Industri 4.0. (FOTO: ANTARA/Biro Humas Kementerian Perindustrian/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Teknologi yang diterapkan dalam sistem Industri 4.0 perlu dibarengi dengan ketersediaan pasar yang jelas, sehingga teknologi yang berkembang memiliki tujuan dan manfaat yang jelas.

Demikian disampaikan Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ernovian G Ismi.

“Kita sudah mulai terintegrasi dalam proses produksi. Mulai dari pengadaan bahan baku, produksi dan penjualan. Kalau pemerintah sudah ngomong ini, artinya harus dilakukan, selanjutnya tolong siapkan pasarnya. Jangan mesin sudah canggih terus mau jual kemana,” kata Ernov di Jakarta, Rabu (11/4).

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Otomotif (IATO) Indonesia Gunadi Sindhuwinata, yang menyampaikan bahwa skala keekonomian menjadi satu pertimbangan untuk mengimplementasikan Industri 4.0

“Yang menjadi problem utama adalah skala ekonomi. Ini supaya industrinya berkembang, dengan satus kemajuan teknologi yang kita lakukan. Bisa dilihat
bagaimana China mengembangkan 5G. Karena dimana-mana berbicara soal skala ekonomi yang sangat tinggi,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minumam Indonesia (Gapmmi) Astri Wahyuni menyampaikan, Indonesia perlu menjadi negara dengan pasar impresif, ketika sistem Industri 4.0 benar-benar telah diimplementasikan.

“Menurut kami, ini sudah banyak perusahaan yang melakukan inovasi. Memang diperlukan satu ekosistem biar larinya bisa sama cepat antara teknologi dan market. Jadi, ketika investasi masuk teknologi yang ada bisa membuat semuanya, sampai produk diterima ke konsumen itu bisa lebih efisien,” tukasnya.

Kendati demikian, Astri menyampaikan bahwa mau tidak mau seluruh industri perlu mengimplementasikan sistem ini, mengingat seluruh dunia sudah memulainya.

Diketahui, lima industri ditetapkan sebagai proyek percontohan untuk penerapan Industri 4.0 di Indonesia, yaitu industri otomotif, industri makanan dan minuman, industri tekstil dan produk tekstil, industri kimia dan industri elektronika.

Kepala Badan Penelitian dan Pengambangan Industri Kementerian Perindustrian Ngakan Timur Antara menyampaikan bahwa kelima industri tersebut dipilih karena memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan ekspor yang paling tinggi dan menyerap tenaga kerja paling banyak.

“Bukan berarti industri yang lain akan didiamkan. Harapan kami, dengan memilih 5 ini akan memberikan dampak konkret yang lebih tinggi. Sehingga industri lain dapat dengan mudah menirunya,” pungkas Ngakan. (ANT)
 

Berita Terkait