Minggu, 23 September 2018 | 06:41:00 WIB

Kemensos Instruksikan Tagana Tingkatkan Kewaspadaan di Banjarnegara

Senin, 23 April 2018 | 01:21 WIB
Kemensos Instruksikan Tagana Tingkatkan Kewaspadaan di Banjarnegara

Kapolres Banjarnegara AKBP Nona Pricillia Ohei membantu warga untuk mengungsi ditempat aman di Balai Desa Sidakangen, Kalibening, Banjarnegara, Jateng, Rabu (18/4/2018). Jumlah pengungsi korban gempa di Kabupaten Banjarnegara, terus bertambah menjadi 2.104 jiwa, karena banyak warga mengaku takut bila harus tinggal di dalam rumah yang rusak akibat gempa, dan masih trauma terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan. (FOTO: POLRES BANJAR/LINDO)

BANJARNEGARA, LINDO - Kementerian Sosial menginstruksikan Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan Tim Dukungan Psikososial (LDP) Kemensos untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengutamakan perlindungan terhadap warga karena gempa bumi susulan masih terus menguncang Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

"Terutama perlindungan kepada kelompok rentan, yakni ibu hamil, lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas," kata Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) Kemensos Harry Hikmat saat meninjau proses penanganan kebencanaan gempa bumi di Posko Pengungsi Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Minggu (22/4).

Menurut dia, pengungsi memerlukan sapaan serta penguatan sesaat setelah terjadinya gempa susulan dan hal itu menjadi tugas tim LDP beserta Tagana Psikososial.

Dirjen mengatakan berdasarkan hasil kunjungan ke Desa Kasinoman, Kertosari, Plorengan, dan Sidakangen, dia melihat perhatian kepada kelompok rentan harus ditingkatkan.

"Berdasarkan hasil asesmen tim LDP, ketika ada gempa susulan, anak-anak panik, ketakutan, menangis, dan menjerit-jerit. Para lansia terutama ibu-ibu mengalami kecemasan di luar kewajaran dan takut masuk rumah," katanya.

Bahkan, pengungsi yang anggota keluarganya meninggal dunia mengalami kesedihan yang mendalam, takut masuk rumah, sulit tidur, dan tidak mau makan serta mengalami kebingungan.

Harry mengatakan kesimpulan dari hasil asesmen menunjukkan bahwa pengungsi mengalami kesedihan yang mendalam dan merasakan trauma serta kecemasan akan kehidupan selanjutnya.

Oleh karena itu, kata dia, pengungsi memerlukan layanan psikososial secara berkelanjutan dan dalam jangka panjang diperlukan penanganan pascatrauma atau "Post Trauma Stres Disorder (PTSD)".

Menurut dia, layanan psikososial secara berkelanjutan itu meliputi penyembuhan trauma, konseling, semangat hidup, terapi tinjauan kehidupan, terapi spiritual, dan terapi permainan.

"Layanan `trauma healing` (penyembuhan trauma), konseling, dan psikoterapi akan terus dilakukan hingga beberapa bulan ke depan sesuai dengan kebutuhan meskipun masa tanggap darurat selesai," katanya.

Saat ditemui Dirjen Linjamsos di salah satu tempat pengungsian Desa Kasinoman, salah seorang pengungsi, Dakemi (90) mengaku masih belum berani pulang ke rumah sehingga tetap bertahan di tempat itu bersama anak, cucu, dan cicitnya sejak gempa yang terjadi pada hari Rabu, 18 April 2018.

Dia mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumahnya yang rusak akibat gempa berkekuatan 4,4 Skala Richter itu.

"Sebenarnya ingin pulang ke rumah. Kalau malam di tenda (pengungsi) dingin, kadang hujan juga," katanya. (ANT)

Berita Terkait