Kamis, 22 Agustus 2019 | 19:21:48 WIB

Akses Perempuan Terhadap isu Perubahan iklim Minim

Senin, 23 April 2018 | 02:33 WIB
 Akses Perempuan Terhadap isu Perubahan iklim Minim

Arsip - Sejumlah anak mengikuti pawai iklim menjelang sidang pembukaan Konferensi Perubahan Iklim PBB 2017 COP23, dengan tuan rumah Fiji, tetapi dilaksanakan di Pusat Konferensi Dunia, di Bonn, Jerman, Senin (6/11/2017). (FOTO: REUTERS/ANTARA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Praktisi komunikasi perubahan iklim yang merupakan Founder Center for Public Relations, Outreach and Communication (CPROCOM) Dr Emilia Bassar mengatakan ketersediaan data dan akses terhadap informasi mengenai perubahan iklim masih terbatas, terutama bagi perempuan.

Emilia dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Minggu (22/4), mengatakan berdasarkan data empiris menunjukkan bahwa akses perempuan terhadap informasi perubahan iklim masih kurang.

Perempuan Indonesia jarang membicarakan isu-isu perubahan iklim di media, baik media mainstream maupun media sosial. Sementara data PBB menunjukkan bahwa 80 persen orang yang mengungsi akibat terjadinya perubahan iklim adalah perempuan, lanjutnya.

"Bila perempuan mendapatkan akses informasi dan pengetahuan yang baik tentang perubahan iklim beserta permasalahannya, ia dapat berpartipasi aktif dalam pengambilan keputusan terkait adaptasi dan mitigasi perubahan iklim," katanya,

Lebih lanjut Emil mengatakan bahwa data dan informasi resmi tentang perubahan iklim dari pemerintah menempati posisi paling penting sebagai landasan pembuatan keputusan yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak, namun data dan informasi resmi masih sangat terbatas serta membutuhkan upaya dan waktu ekstra untuk mencari dan mengaksesnya.

Sedangkan Chief Program Officer Greeneration Foundation Syir Asih Amanati yang aktif dalam isu-isu lingkungan mengatakan aksi nyata perempuan dalam penanganan perubahan iklim yakni dengan menjaga lingkungan dan mengurangi produktivitas sampah.

"Ayo kita lakukan sesuatu dari diri kita, kurangi sampah yang sulit diurai, lalu buat ide besar dan ciptakan kolaborasi, lakukan sekarang juga, kalau tidak sekarang, kapan lagi," ajak Syir.

Tantangan ke depan, menurut dia, adalah bagaimana mengembangkan informasi secara online dengan meningkatkan kapasitas perempuan dan memperbaharui infrastruktur agar mereka mudah mengakses informasi, memahami isu-isu perubahan iklim, dan meningkatkan keterlibatan aktif dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Sementara itu, Nur R. Fajar (Jay) selaku Redaktur Mongabay Indonesia mengatakan bahwa tidak mudah mencari informasi tentang peran perempuan dalam perubahan iklim di media. Namun, bukan berarti keterlibatan perempuan dalam penanganan perubahan iklim tidak ada.

"Ada banyak komunitas perempuan di berbagai kota yang aktif dalam menyelesaikan masalah lingkungan, namun Mongabay membaginya atas dua fokus, yaitu rehabilitasi dan pengelolaan sampah. Di Makassar, misalnya, ada Womangrove atau Woman Mangrove yaitu perempuan di daerah pesisir yang aktif menanam dan menjaga mangrove. Ada juga komunitas perempuan yang mengelola sampah," ujar dia. (ANT)

 

Berita Terkait