Jumat, 17 Agustus 2018 | 17:45:58 WIB

Salim Group Memonopoli Air Bersih di Jakarta

Kamis, 10 Mei 2018 | 13:18 WIB
Salim Group Memonopoli Air Bersih di Jakarta

Petugas mengecek persedian air bersih di instalasi pengolahan air Palyja di Jalan Penjernihan, Jakarta Pusat. (FOTO: TIRTO/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Pada 1997, Salim Group diberi konsesi oleh Soeharto untuk mengelola air bersih di wilayah barat Jakarta, dengan menggandeng baron air dari Perancis, Suez Lyonnaise. Konsorsium ini mulai bekerja pada Februari 1998. Sialnya, tiga bulan kemudian, Soeharto tumbang. Salim, sebagai kroni terdekat, hengkang ke Singapura.

Belasan tahun kemudian, Salim kembali berbisnis air di Jakarta. Sejak pertengahan 2017, Salim Group memang telah kembali menguasai separuh air bersih Jakarta lewat pembelian seluruh saham Acuatico Pte. Ltd., induk PT Aetra Jakarta.

Namun, yang masih minim terungkap ke publik adalah ada indikasi Salim kembali mengontrol PT PAM Lyonnaise Jaya alias Palyja. Pendeknya, hampir seluruh hajat kebutuhan air bersih di Jakarta saat ini bergantung di tangan bisnis Salim Group.

Mengepung Jakarta dari Tangerang, Bogor, dan Bekasi
Jika memang Salim ingin kembali berbisnis air di Jakarta, mengapa mereka mesti menguasai Acuatico terlebih dulu dan tak langsung membeli Aetra Jakarta?

Pertanyaan sama juga diajukan saat mereka membeli Moya Asia Holdings, perusahaan di Singapura yang dipakai Salim untuk menguasai 100 persen saham di Acuatico.

Jika Salim ingin membeli Acuatico, kenapa mesti memakai bendera Moya? Kenapa anak usaha yang mereka kontrol langsung, yaitu Tamaris Infrastucture Pte. Ltd., tak langsung membeli saham Acuatico?

Jika dirunutkan secara silsilah keluarga, hubungan antara Aetra, Acuatico, Moya, dan Tamaris akan tergambar seperti ini: Aetra Jakarta adalah anak, Acuatico adalah bapak, Moya adalah kakek, dan Tamaris adalah buyut.

Hanya satu jawaban untuk dua pertanyaan di atas: Aetra dan Moya mendapatkan konsesi mengelola air bersih di Bekasi dan Tangerang dengan durasi 20 tahun ke depan.

Sebelum diakuisisi Salim pada 2015, Moya mendapatkan konsesi dari Pemda Kabupaten Bekasi dan Kota Tangerang pada 18 Agustus 2011 dan 20 Februari 2012.

Mereka diberi keleluasaan mendanai, merancang, membangun, dan mengoperasikan (build-operate-transfer) fasilitas dan pasokan air bersih pada beberapa wilayah di dua daerah tersebut. Konsesi itu diberikan kepada Moya dengan durasi 25 tahun sejak kontrak ditandatangani.

Cekaknya duit pemilik Moya lama membikin kontrak tak berjalan optimal, malah cenderung mandek. Setelah tersendat sejak 2012, barulah proyek di Tangerang kembali berjalan pada Maret 2016. Sementasi di Kab. Bekasi, proyek baru optimal pada 2017.

Tak hanya itu, Moya melebarkan ekspansi ke Kota Bekasi dan Kota Bogor. Di Kota Bekasi, mereka mendapatkan kontrak kerja dengan Pemkot pada Januari 2017; sedangkan kerjasama di Kota Bogor dalam proses penjajakan.

Ekspansi pengembangan bisnis air Moya dalam dua tahun terakhir tak lepas dari peran Salim Group. Saat Salim masuk, Moya memfokuskan seluruh bisnis ke Indonesia dan meninggalkan Kamboja serta Singapura.

Jika Moya Tangerang dan Bekasi masih tertatih-tatih saat diakuisisi Moya, PT Aetra Tangerang malah sebaliknya. Perusahaan yang didirikan oleh Acuatico ini sudah beroperasi sejak 2008. Dengan hak konsesi selama 25 tahun dari Pemkab Tangerang, Aetra Tangerang diberi izin mengelola air pada 8 dari 13 kecamatan di Tangerang. Pelayanan mereka mencakup 62.000 sambungan pelanggan atau menghidupi 360.000 jiwa penduduk Tangerang.

Meski secara kapasitas masih kalah jauh dibandingkan Aetra Jakarta, prospek dan aset Aetra Tangerang tetap menarik di mata Salim. Sejak 2015, gerak cepat Salim Group membeli saham perusahaan air di daerah penyangga ibukota sebetulnya tak cuma dilakukan terhadap Moya dan Aetra.

Temuan kami membuktikan Salim Grup juga memegang kendali atas PT Tirta Kencana Cahaya Mandiri (PT Tirta Kencana) dan PT Traya Tirta Cisadane (PT Traya).

PT Tirta Kencana bekerjasama dengan PDAM Tirta Kerta Raharja milik Pemkab Tangerang untuk mengelola instalasi Cikokol. Kerja sama ini sudah terjalin sejak 2004. PT Tirta Kencana merupakan anak perusahaan PT Nusantara Infrastruktur Tbk.

Selain di Tangerang, PT Nusantara memilik anak usaha yang memegang konsesi proyek instalasi penyediaan air bersih di Kota Medan dan Serang, Banten.

Pada 8 November 2017, perusahaan asal Filipina, Metro Pacific Investments Corporation menjadi pemilik saham mayoritas PT Nusantara, dengan membeli 43,3 persen saham.

Metro Pacific adalah anak perusahaan dari First Pacific, perusahaan investasi di Hong Kong yang didirikan Sudono Salim, ayah Anthony Salim, yang juga induk PT Indofood Sukses Makmur Tbk., perusahaan raksasa Salim pada bisnis pangan.

Salim Group juga ditengarai memiliki PT Traya, pemegang konsesi instalasi air di Serpong sejak 1997. Semula PT Traya milik pengusaha Hengki Wijaya. Pada 2015, Henki terjerat kasus korupsi terkait kerja sama instalasi PDAM Kota Makassar periode 2006-2012.

Selain di Tangerang, Hengki memiliki PT Traya Tirta Makassar. Belum genap dua bulan mendekam di penjara, Hengki meninggal di dalam tahanan. Pada Desember 2017, kendali PT Traya, baik di Makassar maupun Tangerang, berpindah ke pemilik baru.

Berdasarkan akta perusahaan, 99,9 persen saham PT Traya dikuasai PT Tanah Alam Makmur, yang masih anak usaha dari PT Nusantara (pemilik saham mayoritas PT Tirta Kencana.)

Bukti Relasi Salim Group di Palyja
Tiga bulan setelah saham PT Aetra Jakarta dilepas Recapital Group kepada Salim, dua korporasi pemilik PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), yaitu PT Astratel Nusantara dan Suez Environtment, menjual seluruh saham pada pemilik baru.

PT Astratel melepas kepemilikan 49 persen saham kepada PT Mulia Semesta Abadi (PT Mulia). Sementara Suez, pemain lama sejak 1998, menjual 51 persen saham kepada Water Future Pte. Ltd., perusahaan yang berbasis di Singapura.

Penjualan saham Palyja kepada dua perusahaan ini agak cukup janggal. Penelusuran kami menemukan Water Future dan PT Mulia tak terdeteksi pernah berbisnis air bersih sebelumnya. Dari segi umur, dua perusahaan ini relatif amat muda sebab baru dibentuk pada Maret 2017. Saat akuisisi berjalan, PT Mulia dan Water Future masih berumur enam bulan.

Dalam akta pemilik saham, PT Bahtera Hijau Mandiri (PT Bahtera Mandiri) dan PT Bahtera Hutama Sentosa (PT Bahtera Sentosa) menguasai masing-masing 50 persen PT Mulia Semesta Abadi. Dua perusahaan ini bergerak pada bidang agrobisnis, terutama kapas, sawit, dan kemiri di Flores.

Setelah ditelisik, kepemilikan dua perusahaan mengerucut pada dua nama: Abraham Pattikawa dan Ronny Alexander Waliry. Pemilik 99,9 saham PT Bahtera Sentosa dikuasai oleh PT Bahtera Mandiri, sementara 52,5 persen saham dan 47,5 persen saham PT Bahtera Mandiri dikuasai Abraham dan Ronny.

Abraham Pattikawa adalah sosok kunci pada jejaring perusahaan ini. Selain pemilik tak langsung, ia menjabat direktur utama di PT Mulia Semesta Abadi. Jadi, sesudah akuisisi saham Palyja, namanya muncul sebagai representasi PT Mulia.

Tapi ada hal janggal lain: nama Abraham Pattikawa muncul di Water Future, berposisi sebagai direktur. Posisi ini dijabatnya sejak 14 September 2017, tanggal yang sama saat Water Future membeli saham Suez.

Informasi umum yang mendalami tata kelola bisnis air bersih di Jakarta menduga bahwa Water Future dan PT Mulia Semesta Abadi adalah dua perusahaan dari grup terpisah. Munculnya Abraham Pattikawa sebagai Direktur Water Future dan PT Mulia mengindikasikan ada relasi antara dua perusahaan pemilik Palyja ini.

Masalahnya, Abraham adalah nama asing pada lingkaran bisnis air. Kita kembali pada teori penting yang jadi pijakan bisnis ini: mengelola air bersih membutuhkan kekuasaan modal yang besar. Dan dugaan kami mengarah pada Salim Group.

Peran Sentral I: Abraham Pattikawa
Kami menelusuri alamat kantor PT Mulia Semesta Abadi di Jalan Pahlawan Seribu Ruko sektor VII, Serpong Utara, Tangerang Selatan, pada 25 April 2018. Alamat ini sesuai yang tertera pada akta perusahaan. Alamat ini juga dipakai oleh PT Bahtera Sentosa.

Lokasi ini mengarah pada sebuah ruko berlantai tiga selebar sekitar lima meter. Ruko ini berkaca gelap. Orang tidak akan tahu ruko ini adalah kantor sebab tak ada papan nama perusahaan.

Saat kami bertanya, orang yang bekerja di sana tak tahu PT Mulia Semesta Abadi. Namun, saat disebut PT Bahtera Sentosa, ia mengangguk.

Ia membenarkan Abraham Pattikawa adalah atasannya. Ia menunjuk ruko di seberangnya dan berkata ruko itu juga bagian dari PT Bahtera Sentosa. "Di situlah biasa Abraham berkantor," katanya.

Ruko yang ditunjuk itu terlihat mengilap. Seluruh temboknya dari kaca. Keramik teras dari marmer abu-abu mengilat. Pintu masuk ruko dilengkapi mesin pemindai sidik jari.

Orang keluar-masuk dari gedung lama ke gedung baru. Para karyawan memakai kemeja biru langit dan celana biru gelap. Di bagian dada sebelah kanan seragam dibordir huruf TKCM. Beberapa karyawan lain mengenakan seragam dengan huruf TTC.

Kami bertanya kepanjangan TKCM dan TTC. Seorang pegawai menjawab TKCM adalah kependekan dari Tirta Kencana Cahaya Mandiri dan TTC adalah Traya Tirta Cisadane.

"Jadi ini kantor perusahaan air?"

"Iya, betul," katanya. "Sudah beroperasi sekitar satu tahun lebih." Dua ruko ini kantor operasional dari PT Tirta Kencana dan PT Traya, tambahnya.

Karyawan di sana menyebut, sejak Salim menguasai dua perusahaan ini, semua operasional kantor dipindahkan ke ruko baru. "Semuanya di gedung baru," katanya.

Pegawai di sana mengatakan Abraham jarang terlihat di kantor.

Saya berbincang dengan sopir operasional kantor. Ia berkata pernah mengantar Abraham ke tempatnya bekerja di Kawasan Kuningan, lebih tepatnya ke Gedung Setiabudi 2.

Kami mendatangi gedung ini pada 26 April 2018. Hal yang cukup menarik ternyata di gedung ini juga berkantor PT Moya Indonesia, anak Moya Holdings Asia di Indonesia.

Saat menanyakan kepada resepsionis PT Moya di lantai empat, si resepsionis mempersilakan kami naik satu lantai, "Pak Abraham bukan di sini, tapi kantornya di lantai lima."

Perusahaan yang berkantor di lantai 4 ternyata PT GMT Kapital Asia. Ketika ditanya soal Abraham, sang penjaga membenarkan Abraham bekerja di sana. Beberapa kali kami bertanya untuk lebih memastikan, dan kami menerima jawaban yang sama.

"Betul, Pak Abraham bekerja di sini," kata si penjaga.

Namun, sayang, saat hendak ditemui, Abraham tidak di kantor.

Peran Sentral 2: Irwan Dinata
Dalam hierarki kepemilikan Moya, memang ada relasi PT GMT Kapital Asia. Mayoritas saham Moya Holdings Asia dimiliki oleh Tamaris Infrastucture Pte. Ltd. milik Salim. Di Indonesia, Tamaris membentuk PT Tamaris Prima Energi, dan 50 persen sahamnya dikendalikan oleh PT GMT Kapital Asia. Temuan ini mengindikasikan Abraham bekerja untuk Salim Group.

Posisi Abraham, yang menjadi pegawai PT GMT Kapital Asia, mengindikasikan relasinya dengan Direktur Eksekutif Moya, Irwan Atmadja Dinata. Dari penelusuran kami, nama Irwan muncul hampir di seluruh perusahaan Salim Grup yang berkaitan dengan bisnis air.

Kepada Tirto, saat ditemui di kawasan Sudirman kemarin, Irwan menceritakan ia diminta Anthony Salim, pemilik Salim Group, untuk berbisnis air sejak tiga tahun silam.

Irwan menjabat Direktur Utama di PT GMT Kapital Asia; posisi yang sama pada PT Moya Indonesia. Di PT Tamaris, Irwan memegang komisaris.

Dalam cakupan lebih luas pada Moya Holdings Asia, Irwan ditempatkan sebagai Direktur Operasional. Menariknya, nama Irwan juga muncul di Acuatico, induk Aetra. Di Acuatico, ia terdaftar sebagai direktur.

Para karyawan PT Tirta Kencana dan PT Traya yang kami temui di kantor mereka di Serpong membenarkan atasan mereka adalah Irwan Atmadja Dinata.

Soal kabar kehadiran Moya di Palyja dibenarkan oleh mayoritas karyawan Palyja yang kami tanyai.

Saya mendatangi Roswita Simanjutak di rumahnya di daerah Bendungan Hilir pada 2 Mei 2018. Roswita adalah pensiunan karyawan PAM Jaya dan sempat duduk di direksi Palyja.

Di Palyja, Rowsita berkiprah cukup lama, bekerja sejak era Salim menguasai Palyja pada era Soeharto hingga Suez hengkang tahun lalu. Di PAM Jaya, posisinya adalah staf ahli; sedangkan di Palyja, ia diangkat sebagai direktur eksternal. Saat sudah pensiun, Roswita sering diperbantukan Palyja sebagai konsultan.

Soal sosok pemilik baru Palyja, ia hanya tersenyum sembari menjawab singkat: "Ya memang balik lagi ke yang dulu."

Bantahan Abraham Pattikawa & Irwan Atmadja Dinata
Kami memberi kesempatan kepada Abraham Pattikawa dan Irwan Dinata untuk menjelaskan temuan kami yang menyebut nama keduanya dalam jejaring indikasi Salim di balik pemilik Palyja.

Kami lebih dulu menjumpai Abraham pada Sabtu, 5 Mei 2018, di sebuah restoran di Mall Pacific Place, kawasan Sudirman. Di mal yang sama juga kami bertemu janji dengan Irwan Dinata pada Selasa kemarin, 8 Mei 2018.

Irwan menampik tudingan bahwa Moya Indonesia mengontrol PT Tirta Kencana dan PT Traya Tirta. Ia membenarkan PT Nusantara Infrastruktur Tbk. dimiliki Salim Group. Namun, Irwan mengatakan yang mengelola perusahaan itu mayoritas orang-orang Filipina.

"Kami enggak tahu dan enggak dilibatkan," katanya. Bantahan serupa saat kami menanyakan apakah Moya mengontrol PT Traya Tirta.

Meski begitu, ia bercerita soal Hengki Wijaya yang terbelit kasus di KPK. Ia bercerita belum lama ini sempat ditelepon oleh pewaris PT Traya Tirta.

"Enggak tahu gimana caranya, saya ditelepon lagi sama dia (pewaris perusahaan). 'Masih mau ngobrol enggak di Makassar?'"

"Saya jawab, 'Ya mau lah saya kalau dikasih kesempatan'," kata Irwan. Ia enggan menjawab apakah obrolan basa-basi ini terealisasi atau tidak.

Saat bertanya relasinya dengan Abraham, ia menjawab pendek: "Dia kawan saya sudah lama."

Dalam kesempatan lain, ketika kami bertanya kenapa bisnis air Salim Group di bawah kontrolnya berkembang luas, ia memberikan kiat-kiat, dan pada saat itulah terselip nama Abraham.

"Saya enggak jago. Yang saya lakukan hanya bersama-sama. Saya bicara sama Adaro Water, ATB, dan Abraham. Invest to this (bisnis air) together," katanya.

Kami menanyakan maksudnya menyebut Abraham. "Bukan," ia cepat meralat. "Jadi begini, Pak Abraham dengan saya itu teman cukup lama, kami sering diskusi beberapa hal. Dan mungkin dia lihat saya main air, dan dia masuk air. Ya saya enggak bisa melarang."

Saat kami bertemu dengan Abraham, ia didampingi Presiden Direktur Palyja Robert Rerimassie. Abraham menyebut sama seperti dirinya, kehadiran Rerimassie di Palyja adalah perwakilan dari PT Mulia. Setelah berbasa-basi selama 40 menit, kami mengajukan pertanyaan mengenai kepemilikan saham.

Ia tak membantah saat disebut namanya muncul sebagai Direktur Water Future. Namun, ketika kami bertanya kenapa namanya ada di situ, Abraham mengutarakan jawaban yang kurang logis: "Saya dimintain tolong. Kalau ada apa-apa enak kontrolnya karena posisi saya di Jakarta."

Jawaban ini menimbulkan pertanyaan bagaimana mungkin sang pemilik Water Future mau memberi jabatan strategis macam direktur kepada mitra yang baru mereka kenal?

Dalam dokumen akta perusahaan, selain Abraham, ada nama Lee Choon Chin dan Anthony Anne Catherine. Lee berposisi sebagai direktur, sedangkan Catherine sebatas sekretaris.

Anehnya, saat ditanya soal dua profil itu, terutama Lee Choon Chin, Abraham mengaku tidak kenal. Lee akrab disapa Dato Lee; pengusaha Malaysia pemilik Weida Grup, perusahaan pengelola air yang beroperasi di Sabah dan Sarawak.

Abraham menggeleng saat ditanya apakah Weida ikut menyokongnya. "Enggak kenal. Saya enggak tahu kalau yang urusan di Singapura."

Dalam konteks pemodal di belakangnya, Abraham memilih bungkam. Ia berargumen dengan nada pembelaan yang menyiratkan memang ada pemodal besar.

"Kalau saya suka kamu, saya yakin kamu bener dan saya punya uang, terus saya bilang, 'Tolong deh, gantiin saya buat beli perusahaan ini.' Kamu enggak pernah dikenal dan perusahaan itu terdaftar atas nama saya. Itu boleh enggak?" kata Abraham, lalu menambahkan, "Ya enggak apa-apa, kan."

Namun, saat ditanya tudingan ada Moya dan Salim Group dibalik Palyja, Abraham membantahnya. "Maka saya bilang, kami ini selalu ribut pada isu tapi enggak pernah lihat di legal."

Dalih yang diutarakan Abaraham memang benar secara legal PT Mulia Semesta Abadi tak berelasi langsung dengan Moya. Tetapi hubungan ini terjalin secara tak langsung lewat beberapa perusahaan, salah satu di antaranya PT GMT Kapital Asia.

Ia membantah bekerja pada PT GMT Kapital Asia, tapi Abraham mengakui kenal dekat dengan Irwan Dinata.

"Dia teman saya dulu. Orangnya waktu itu masih muda. Dia teman waktu masih kerja. Ruangan kami bersebelahan," katanya.

Penelusuran kami menemukan Irwan dan Abraham memang pernah sama-sama bekerja di PT Riau Andalan Pulp & Paper pada 1999-2000.

Meski terus membantah, ada satu jawaban Abraham menegaskan ada relasi antara Palyja dan Salim Group saat ini. Kami menyodorkan pertanyaan soal temuan PT Tirta Kencana dan PT Traya yang ternyata satu kantor dengan PT Mulia dan PT Bahtera Sentosa. Semula Abraham membantah, "Itu perusahaan di depan kami saja, bukan satu kantor."

Namun, setelah mengajukan pertanyaan yang sama di pengujung wawancara, ia mengakui, "Itu masih anak perusahaan BHM. Itu perusahaan kita. Maka, kalau ditanya kami ujug-ujug masuk ke bisnis air, ya enggak juga. Justru kami ke sana dulu (PT Tirta Kencana dan PT Traya). Kami belajar dari situ."

Saat disodorkan pertanyaan bahwa dua perusahaan itu berafiliasi dengan Salim Grup, ia menjadi agak sedikit gugup. "Kalau Salim masuk sudah dari dulu. Kami baru-baru ini saja," katanya.  (TIRTO)

 

Berita Terkait