Minggu, 16 Desember 2018 | 10:50:49 WIB

Alasan Ekonomi RI Stabil, Meski Dolar Dekati Level Krismon 1998

Sabtu, 1 September 2018 | 11:43 WIB
Alasan Ekonomi RI Stabil, Meski Dolar Dekati Level Krismon 1998

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat makin tinggi. (FOTO: ELSHINTA/LINDO)

JAKARTA, LINDO – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga Jumat (31/8) sore menembus level tertingginya sejak tiga tahun terakhir. Meski terus melemah namun kondisi tersebut tak seperti kondisi di saat krisis moneter yang terjadi pada 1998.

Dikutip dari Reuters, Sabtu 1 September 2018, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah sepanjang Agustus 2018. Di mana pada 1 Agustus 2018 rupiah ada di level  Rp14.442 per dolar dan hingga 31 Agustus 2018 melemah hingga Rp14.839 per dolar.

Melemahnya rupiah terhadap dolar AS tak lepas dari sejumlah faktor eksternal global yang selama ini menghantam ekonomi Indonesia dan sejumlah negara emerging market. Rupiah juga semakin terpuruk akibat besarnya defisit transaksi berjalan di Tanah Air.

Untuk itu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan pihaknya akan terus berada di pasar untuk melakukan intervensi dan menjaga pasar valas. Bahkan, dalam dua hari terakhir BI telah melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN).

"Kita beli SBN di pasar sekunder dan BI beli hingga Rp3 triliun dari semua yang dijual oleh asing, dan BI akan terus lakukan langkah-langkah stabilisasi keuangan dan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan," jelas Perry, Jumat (31/8).

Tak sampai di situ, upaya menjaga ekonomi tetap stabil di tengah pelemahan rupiah juga dilakukan pihak pemerintah. Salah satunya adalah mengerem impor barang yang selama ini membuat berat neraca perdagangan.

Salah satunya adalah menerapkan perluasan bahan bakar campuran solar dengan minyak kelapa sawit 20 persen atau yang dikenal Biodiesel 20 (B20). Upaya itu dilakukan mulai hari ini, Sabtu (1/9).

"Dengan berlakukan B20 pada 1 September 2018, kita bisa menghemat devisa kita hingga US$2,2 miliar. Itu semua langkah jangka pendek untuk atasi pelemahan rupiah, sehingga defisit transaksi berjalan akhir tahun bisa 2,5 persen dari PDB," ujar Perry.

Ia pun menambahkan, meski dilanda pelemahan nilai tukar, Perry memastikan kondisi ekonomi RI tetap tahan dan kuat. Di mana bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi RI yang masih tetap bagus di sekitar lima persen dan inflasi Agustus yang tetap rendah. (VIVA)

Berita Terkait