Jumat, 19 Oktober 2018 | 16:32:12 WIB

Hadapi Era Perubahan, Menaker Dorong Mahasiswa Miliki Jiwa Petarung

Rabu, 5 September 2018 | 08:48 WIB
Hadapi Era Perubahan, Menaker Dorong Mahasiswa Miliki Jiwa Petarung

(FOTO : HUMASNAKER/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri mendorong mahasiswa Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker) menanamkan jiwa petarung, sikap optimistis, berpikir positif, dan bekerja keras dalam menghadapi era persaingan di masa mendatang.

 

Suntikan moril tersebut diberikan Menaker Hanif saat memberikan kuliah umum dalam Dies Natalis ke-1 Polteknaker kepada mahasiswa Polteknaker bertema "Skill, Knowledge, dan Attitude sebagai Kunci Utama untuk Berdaya Saing dalam Menghadapi Digitalisasi Dunia Industri" di Auditorium Polteknaker, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (4/9).

 

"Saya titip pesan dua hal. Kerja keras diiringi inovasi dan kreasi itu menghasilkan prestasi. Kedua, percaya kebaikan, apalagi kebaikan itu dilakukan secara terus menerus akan melahirkan kebaikan. Itu berarti keberkahan dalam hidup. Percaya kerja keras dan kebaikan, maka Insya Allah hidup jadi enak," pesan Hanif.

 

Turut hadir pada acara ini Sekjen Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Hery Sudarmanto, Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Dirjen Binapenta PKK) Kemnaker Maruli A. Hasoloan, Dirjen Binwasnaker dan K3 Sugeng Priyanto, Kepala Balai Besar Pusat Pelatihan Kerja (BBPLK) Bekasi Helmiaty Basri, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Polteknaker Retna Pertiwi, dan 180 mahasiswa Polteknaker.

 

Dies Natalis dihadiri pula oleh Sekolah Vokasi UGM, Kepala JIS, BPJS Ketenagakerjaan, Wakil Rektor I Universitas Tanri Abeng, perwakilan Kawasan M2100, Kawasan EJIP dan PT Jhonlin Baratama.

 

Menurut Hanif, untuk menghadapi perubahan industri di era digitalisasi di masa depan, dibutuhkan 5K, yaitu Karakter, Kompetensi, Kreativitas, Kolaborasi, dan kontribusi.

 

"Saya ingin mahasiswa Polteknaker menguasai 5K ini. Kalau kalian menguasai 5K, mau berhadapan dengan mahasiwa UI, UGM pasti tetap percaya diri dan menang," ujar menteri asal Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini. 

 

Pada akhirnya, untuk menghadapi persaingan di era perubahan industri, bukan nama besar perguruan tinggi yang jadi faktor utama, tapi karakter pribadi masing-masing.

 

"Kalau pribadinya bukan petarung, mau tarung di manapun ya gitu-gitu saja. Tapi kalau petarung, meski berada di Polteknaker, kampus yang baru berdiri ini, petarung tetap akan menjadi petarung," kata Hanif disambut applaus yang meriah.

 

Ia menambahkan, maqom, derajat atau pangkat sebagai manusia itu adalah bekerja keras. Soal hasil, itu urusan yang Maha kuasa. Yang tak boleh terjadi adalah tidak bekerja keras.

 

"Biasanya hasil tak mengingkari kerja keras. Kalau orang kerja keras, biasanya hasilnya bagus.  Kalau anda gagal, tidak perlu menyesal karena penyesalan itu tak terkait dengan hasilnya. Tetapi sesali usahanya. Tetapi kalau kalian sudah bekerja keras dan  tetap tak bisa, itu namanya nasib. Tuhan berkehendak kalian tidak bisa," katanya.

 

Hanif menjelaskan, secara umum ada tiga problem tantangan ketenagakerjaan. Dari hasil survei International Labour Organization (ILO) ada tiga kelemahan ketenegakerjaan Indonesia, yakni lemah di leadership, komputer, dan bahasa. 

 

"Karena tahu ketenagakerjaan lemahnya di tiga hal ini, maka saya ingin Polteknaker tiga hal ini tak boleh lemah. Saya tak mau tahu, tiga hal ini mahasiswa Polteknaker tak boleh lemah," tegasnya. (ARMAN R)

Berita Terkait