Kamis, 22 November 2018 | 01:33:24 WIB

Unhan Peringati Hari Perdamaian Dunia 2018

Jum'at, 21 September 2018 | 21:50 WIB
Unhan Peringati Hari Perdamaian Dunia 2018

(FOTO: ARMAN/LINDO)

BOGOR, LINDO - Universitas Pertahanan (Unhan) memperingati Hari perdamaian Dunia ke 70, yang diperingati setiap tahun pada tanggal 21 September, tahun ini Hari Perdamaian internasionai mengusung tema: “The Right to Peace The Universal Declaration of Human Rights at 70”, yang dipimpin langsung oleh Plt. Rektor Unhan Prof. Dr. Ir. Dadang Gunawan, M.Eng, di Gedung Auditorium Lt-1, Kampus Bela Negara, Komplek IPSC - Sentul, Bogor, Jawa Barat (Jabar), Jumat (21/9). 

Hari Perdamaian Dunia ini diperingati dengan mengeiar kegiatan seminar mengundang keynote speaker Prof. Dr. Haffid Abbas (Ketua Komnas HAM periode 2014/2015), Prof. Dr. Franz Magnis Suseso, SJ., Dr. Margaretha Hanita, MSi dan Dr. Mulya La Tadampali. 

Pada peringatan hari perdamaian dunia ke-70 ini, dilakukan pembacaan deklarasi perdamaian, dalam deklarasi ini berisi tentang mengecam mengecam keras segata bentuk kekerasan dan kewenang-wenangan yang terjadi di seluruh dunia, menyerukan penghapusan segaia bentuk diskriminasi yang terkait suku, agama, dan ras, menyerukan untuk saiing menghargai, menghormati, dan menyebarkan budaya damai dalam semua aspek kehidupan dalam mencegah dan menyelesaikan kekerasan dan konfiik, seluruh civitas akademik Unhan berkomitmen untuk teriibat aktif menjadi pelopor dan pelaku dalam mewujudkan dunia yang penuh dengan damai, harmonis, dan cinta. 

Pelaksana tugas Rektor Unhan Prof. Dr. Ir. Dadang Gunawan, M.Eng menyampaikan, melalui tema hari perdamaian dunia ini difokuskan pada penumbuhan kesadaran dan penggugahan semangat memperjuangkan Hak Asasi Manusia (HAM), salah satunya hak untuk mendapatkan perdamaian. Pada 2019 Indonesia akan menghadapi pemilu, sehingga perlu pemahaman Pemilu damai agar stabilitas tetap terjaga. 

Mengawali seminar ini, Keynote Speaker Prof. Dr. Haffid Abbas memaparkan materi seminar dengan tema “Hak atas Perdamaian menuju Pemilu 2019”, dilanjutkan pemaparan materi seminar oieh Prof. Dr. Franz Magnis Suseso, SJ. berjudul ”Hak atas Perdamaian sebagai Hak asasi Manusia”, kemudian materi dari Dr. Margaretha Hanita M.Si berjudul "Refleksi dan Proyeksi Hak Perdamaian di Indonesia di Masa Pemilu 2019", 

Sementara Dr. Mulya La Tadampali memaparkan tema :”Ancama Ujaran Kebencian, Hoax dan Pemilu Damai 2019” dalam seminar ini dipandu oieh moderator Dra. Yosephin R. Marieta, M.Psi.T.

Terkait pemilu 2019, Prof. Dr. Franz Magnis Suseso, SJ kepada wartawan di sela - sela acara tersebut menyampaikan, Indonesia sudah sering menyelenggarakan pemilu yang berjalan secara damai, ia mengharapkan pemililu 2019 juga damai.

"Untuk Isyu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) tidak saya harapkan.  Dari sudut agama tidak ada alasan untuk membela agama bagi mereka yang terlibat dalam pemilu. Kalau isyu agama mau dipakai, secara tidak langsung lawannya difitnah seperti tidak beragama, itu sama sekali tidak baik," ujar Franz Magnis Suseso.

Ia mengharapkan, masalah identitas agama, tidak masuk dalam pemilu 2019, Franz mengharapkan masalah identitas agama tidak masuk dalam pemilu ini. 

"Dalam kompetisi pemilu ini, yang dimasukkan adalah masalah pembangunan, keadilan, dan lainnya, bukan SARA nya. Tokoh agama juga harus menenangkan orang agar tidak mudah terhasut oleh pihak - pihak yang merusak suasana pemilu," katanya. (ARMAN R)

Berita Terkait