Minggu, 16 Desember 2018 | 10:50:46 WIB

Perambahan Hutan Mengancam Taman Nasional Gunung Leuser

Rabu, 26 September 2018 | 07:16 WIB
Perambahan Hutan Mengancam Taman Nasional Gunung Leuser

Degradasi Kawasan Hutan. (FOTO: IST/LINDO)

MEDAN, LINDO - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara meminta kepada pemerintah mengatasi sampai tuntas kegiatan para perambah hutan yang secara ilegal menggarap lahan di Taman Nasional Gunung Leuser, mengancam kelestarian kawasan konservasi di Kabupaten Langkat itu.

"Taman Nasional Gunung Leuser harus diselamatkan dari penggarap liar yang merusak lahan hutan lindung," kata Direktur Eksekutif Walhi Sumatera Utara Dana Prima Tarigan di Medan, Rabu (26/9).

Menurut dia, para penggarap telah secara ilegal membuka sebagian area hutan lindung di Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dan menanaminya dengan kelapa sawit, karet dan tananam yang lain. Ia mengatakan sejumlah warga telah sejak lama mengubah sebagian area hutan TNGL menjadi perkebunan.

"Itu merupakan pelanggaran hukum yang cukup berat, karena memasuki secara bebas hutan yang dilindungi oleh pemerintah," ujar Dana.

Dana mengatakan praktik ilegal itu terjadi karena kurangnya pengawasan dan mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperketat pengawasan hutan TNGL supaya tidak dikuasai oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Dia juga mengimbau warga Langkat yang selama ini telah secara ilegal menguasai sebagian area hutan TNGL segera meninggalkan daerah tersebut dengan penuh kesadaran.

"Jangan sampai ada warga yang diamankan petugas karena tidak mau membersihkan tanaman yang mereka kelola di hutan TNGL Langkat," katanya.

"Petugas KLHK dan aparat kepolisian jangan pilih kasih, dalam menertibkan tanaman sawit yang dikelola masyarakat maupun pengusaha, serta oknum pejabat," ia menambahkan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menebangi ratusan pohon kelapa sawit dan karet yang ditanam para penggarap liar di area TNGL.

Kepala Balai Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera Edward Sembiring di Besitang, pekan lalu, mengatakan petugas menghancurkan tanaman para penggarap ilegal dan menawari mereka kerja sama pengelolaan hutan penyangga di sekitar TNGL dengan syarat hanya menanam pohon hutan seperti durian, jengkol, dan mahoni. (ANT)

 

Berita Terkait