Rabu, 21 November 2018 | 05:12:14 WIB

Biadab! Selain Menyekap, KKSB Juga Memperkosa Korban di Mapenduma

Senin, 22 Oktober 2018 | 15:55 WIB
Biadab! Selain Menyekap, KKSB Juga Memperkosa Korban di Mapenduma

Sesuai dengan laporan yang kami terima dari jajaran bahwa betul telah terjadi penyekapan terhadap para guru dan tenaga medis yang bertugas di Mapenduma oleh KKSB pimpinan Egianus Kogeya sejak tanggal 3 Oktober hingga 17 Oktober 2018. Kata Kapendam XVII/Cend Kolonel Inf Muhammad Aidi saat dikonfirmasi oleh Media.

 

Salah seorang korban berinisial MT memberikan keterangan kepada kami terkait Kejadian penyekapan dan pemerkosaan terhadap Tenaga Guru dan Tenaga Kesehatan di distrik Mapenduma Kabupaten Nduga, Papua.

 

Sdri MT menjelaskan bahwa mereka adalah rombongan pertama yang masuk ke Distrik Mapenduma pada hari Rabu tanggal 3 Oktober 2018 bersama-sama dengan 3 rekan lainya antara lain : EL (guru SD) suku Flores, LY (guru SMP) suku Toraja dan FN (guru SMP  suku Paniai. Mereka ditugaskan oleh Dinas Pendidikan Kab. Nduga untuk memberikan pelayanan pendidikan di Distrik Mapenduma.

 

Pada saat mereka tiba di Bandara Mapenduma sdri MT bersama 3 rekanya disambut dan dikepung oleh Pok KKSB lengkap dengan senjata api berbagai jenis. Setelah pesawat jenis Caravan yang ditumpangi sdri MT dan rekan-rekanya meninggalkan Bandara Mapenduma, Pimpinan dari KKSB mengambil alih pasukan. Mereka mengumpulkan dan melakukan pemeriksaan dan penggeledahan  terhadap sdri MT dkk. “Mereka menyita HP dan KTP. Kami tidak tahu persis berapa jumlah mereka tapi kami perkirakan diatas 20 orang,” MT menuturkan.

 

Setelah dikumpulkan dan dilakukan pemeriksaan sdri MT bersama rekannya diarahkan oleh Kepala Sekolah untuk tinggal di perumahan guru. Saudara MT menempati sebuah rumah bersama 2 orang temannya. Pimpinan KKSB menyampaikan bahwa tenaga guru dan tenaga kesehatan tidak boleh keluar rumah  sebelum acara KKSB di distrik Mapenduma selesai. Tidak diketahui acara apa yang dimaksud.

 

Sdri MT menyampaikan bahwa Sekitar 1 minggu (lupa hari dan tanggalnya) semenjak mereka disekap. Suatu malam sekitar pukul 00.30 wit telah datang ke tempat tinggal sdri MT  anggota KKSB sebanyak 7 orang yang tidak dikenal dengan cara mencongkel jendela belakang rumah dan masuk ke dalam rumah yang ditempati sdri MT dan 2 orang temannya.

 

Anggota KKSB berjumlah 7 orang masuk ke rumah, mereka langsung memadamkan listrik rumah dan pada saat itu dalam kondisi hujan deras, sdri MT dan teman-temannya sudah berupaya berteriak dan meminta pertolongan karena merasa takut, namun tidak ada yang mendengar. “Kami diancam dengan todongan senjata dan diperkosa secara bergilir oleh 5 orang dari 7 anggota KKSB tersebut,” MT mengisahkan.

 

Sekitar Pukul 03.30 WIT Anggota KKSB baru meninggalkan rumah. Pada pagi harinya MT melaporkan kepada kepala sekolah apa yang telah dialami semalam bersama temanya di rumah guru tempat mereka disekap.

 

Setelah kejadian tersebut para guru dan tenaga kesehatan dikumpulkan dan diungsikan ke perumahan Puskesmas Distrik Mapenduma. Dimana ditempat tersebut sudah ada yang lain dengan rincian Guru SMP sejumlah 6 orang, Guru SD sejumlah 3 orang, dan Tenaga Kesehatan perempuan sejumlah 4 orang, sedangkan Saya bertiga dengan teman. “Jadi jumlah seluruhnya 16 orang,” MT menuturkan.

 

Setelah berselang 1 minggu tepatnya pada hari Kamis tanggal 18 Oktober para tenaga guru dan tenaga kesehatan dipulangkan menuju Wamena dengan dikawal oleh KKSB lengkap dengan senjatanya sampai ke Bandara Mapenduma.

 

Sebelum mereka naik pesawat pimpinan KKSB mengancam akan membunuh semua tenaga guru dan tenaga kesehatan apabila ada yang melapor ke pihak Aparat Keamanan.

 

“Sesusai dengan data yang kami himpun, pelaku penyekapan adalah KKSB Pimpinan Egianus Kogeya, yang bersangkutan masih hubungan keluarga dengan almahrum Kelly Kwalik pelaku penyanderaan terhadap tim Lorentz tahun 1995/1996 di Mapenduma,” Aidi menuturkan.

 

Kelompok Egianus Kageya juga adalah pelaku penembakan pesawat dan pembantaian terhadap masyarakat sipil termasuk anak kecil di Nduga beberapa waktu yang lalu.

 

Ditanya tentang langkah-langkah dilakukan aparat keamanan menyikapi kasus ini, Aidi menjelaskan bahwa aparat keamanan pasti akan melakukan tindakan, namun mekanismenya tidak perlu disampaikan ke publik. “Kan Pangdam dan Kapolda sudah membentuk Satgas Penegakkan Hukum (Satgas Gakkum). Hal ini demi menjamin kepastian dan kewibawaan hukum di wilayah kedaulatan NKRI,” Aidi menjelaskan.

 

Ini adalah tindakan keji dan biadab yang tidak berprikemanusiaan. “Mereka (red. Korban) adalah pekerja sosial, mereka rela meninggalkan kampung halaman dan keluarga demi untuk mensejahterahkan dan memajukan masyarakat pedalaman Papua. Tapi mereka justru mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi,” Aidi menyesalkan.

Berita Terkait