Senin, 17 Desember 2018 | 19:54:00 WIB

Peran Media Dalam Menjaga Keutuhan dan Persatuan Bangsa

Sabtu, 10 November 2018 | 14:35 WIB
Peran Media Dalam Menjaga Keutuhan dan Persatuan Bangsa

(FOTO: BAMBANG/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Ditengah perkembangan teknologi digital saat ini, bahaya hoax yang sering ditimbulkan dari media sosial perlu diwaspadai. Menyikapi kondisi tersebut, Dewi meminta agar peran media saat ini jangan sampai menjadi follower media sosial dalam hal kebiasaan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Media harus menyampaikan sesuatu yang lebih baik dari apa yang muncul di media sosial. Intinya kalau media ingin mendapatkan kepercayaan dari publik maka kembalilah kepada jurnalisme yang baik dan jangan menjadi follower,” kata Dewi dalam diskusi yang berjudul "Optimalisasi Peran Media Dalam Memerangi Hoax Menjelang Pilpres 2019", di Jalan Raya Matraman, Voltaira Koffie, Jakarta, Kamis (8/11).

Dewi berpendapat, kalau melihat peran media, hoax itu bukan lagi menyasar kepada kandidat tetapi juga menyasar kepada penyelenggara pemilu. Bahayanya, kalau pemilih sudah tidak percaya kepada penyelenggara pemilunya maka akan bisa mempengaruhi banyak hal. Bukan hanya mempengaruhi legitimasi pemilunya, tetapi juga mempengaruhi tingkat partisipasinya.

“Dalam hal ini, saya berharap agar media bisa mengisi ruang-ruang tersebut. Membantu untuk memberi akses yang merata dan memadai bagi pemilih untuk mendapatkan informasi yang layak,” ujar Dewi.

Hal senada diungkapkan Dewi Setyarini, kehati-hatian dan akurasi dalam berita itu sangat penting. Hoax itu tidak akan bisa hidup di kalangan media kalau memang media mengikuti kode etik jurnalistik.

“Secara internal, untuk memerangi hoax kami melakukan pengawasan dengan membentuk tim khusus untuk memfilter berita yang masuk. Kita juga memberikan pengetahuan soal analisis media yang akan menggali sejauh mana kebenaran berita tersebut,” ungkap Dewi.

Sementara itu, Dewi Setyarini komisioner KPI menilai bahwa Hoax ini sebenarnya bukan masalah bagi media saja, tetapi sudah menjadi masalah publik yang perlu disikapi sebagai proses pendewasaan masyarakat menuju publik wishthem. Ketika publik wishthem itu sudah dicapai maka berita hoax tidak akan ada lagi.

“Untuk menghasilkan produk jurnalistik yang baik, seorang jurnalis harus menjadi jurnalisme verifikasi.Karena itu, media sebagai salah satu pilar demokrasi memeng tidak sepenuhnya kokoh, artinya kebebasan berekspresi melampaui batas dan terlanjur kebablasan sehingga kerap disalahgunakan. Faktanya, hoax semakin menjamur dan bahkan menggurita, padahal hoax itu hama alias penyakit bagi masa depan demokrasi kita. Maka harus ada langkah-langkah dan terobosan baru yang dapat digunakan sebagai cara melawan atau perang berita hoax," tuturnya.  (BAMBANG)

Berita Terkait