Senin, 17 Desember 2018 | 19:30:16 WIB

AJI Malut Kutuk Keras Aksi Kekerasan Terhadap Wartawan di Ternate

Senin, 12 November 2018 | 17:36 WIB
AJI Malut Kutuk Keras Aksi Kekerasan Terhadap Wartawan di Ternate

Salah satu wartawan media harian Malut Post atas nama Hizbullah Muji memberikan keterangan seputar kejadian pemukulan pada dirinya saat pelaksanaan aksi unjukrasa di Ternate, Malut, Senin (12/11). (FOTO: RRI TERNATE/LINDO)

TERNATE, LINDO - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Maluku Utara (Malut) mengutuk keras insiden kekerasan terhadap wartawan yang diduga dilakukan oleh masa aksi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Maluku Utara (Malut) Ahmad Hidayat Mus-Rivai Umar (AHM-Rivai) pada salah satu wartawan media harian Malut Post atas nama Hizbullah Muji.

“Menyikapi kejadian pemukulan terhadap salah satu journalist di Malut, tepatnya wartawan harian Malut Post yang juga sebagai photographer, kami secara organisasi media meminta kepada pihak kepolisian segera memproses secara tuntas kasus ini, karena ini merupakan kekerasan terhadap journalis,” kata Ketua AJI Malut, Mahmud Ici di Ternate, Maluku Utara, Senin (12/11).

Menurut dia, apapun alasannya, wartawan tidak bisa di pukul ataupun dilarang dan sebagainya, karena wartawan telah bekerja sesuai dengan undang-undang yang mewajibkan untuk menghimpun dan mendapatkan informasi yang kemudian menyebarluaskan ke publik.

Oleh karena itu dirinya meminta kepada pihak kepolisian khsusunya Polres Ternate, untuk bisa memproses kasus ini, karena ini merupakan pidana murni yang terjadi di Kota Ternate.

“Makanya pihak Kepolisian untuk tidak segan-segan mengambil tindakan secara baik,” akunya.

Karena lanjut Mici sapaan akrabnya, aparat kepolisian pasti tau undang-undang pers, untuk itu polisi juga selain bersandar pada undang-undang pidana juga harus mengutamakan pada undang-undang pers, karena ini bagian dari menghalangi-halangi wartawan dalam melakukan peliputan sesuai dengan undang-undang pers Nomor 40 tahun 1999.

Sementara itu, Kapolres Ternate AKBP Azhari Juanda dalam keterangannya mengatakan, Polres Ternate akan berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan yang baik terhadap setiap unjuk rasa (unras) sebagai bentuk penghormatan terhadap penyampaian pendapat dimuka umum, namun apabila sudah diluar batas dan tidak bisa diajak baik maka apa boleh buat.

“Kami tadi terpaksa bubarkan paksa massa aksi, kami dari kemarin-kemarin cukup persuasif menghadapi kegiatan penyampaian pendapat dari massa AHM-Rivai, namun sepertinya mereka tidak bisa menghormati orang lain,” katanya.

Mantan Kapolres Tidore Kepulauan juga meminta kepada rekan-rekan media untuk tetap mendukung polres dalam mengusut tuntas kasus yang dilaporkan tersebut.

“Kami akan upayakan untuk mengusut tuntas kasus ini,” pungkasnya. (RRI-TERNATE)

Berita Terkait