Rabu, 19 Desember 2018 | 08:44:15 WIB

Ribuan Massa Gelar Aksi, Save Masyarakat Boyolali, Save NKRI

Senin, 12 November 2018 | 23:42 WIB
Ribuan Massa Gelar Aksi, Save Masyarakat Boyolali, Save NKRI

JATENG MEMANAS, RIBUAN MASSA GELAR DEMO, STOP FITNAH DAN ISU SARA DALAM POLITIK 2019. (FOTO: IST/LINDO)

SEMARANG – Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Jawa Tengah menggelar aksi damai di depan Mapolda Jateng, Kantor Gubernur Jateng dan Kantor DPRD Jateng, Senin (12/11).

Dalam aksi itu massa membawa sejumlah spanduk bertuliskan "Stop Fitnah dan Isu SARA pada Pemilu 2019, Pemilu 2019 ajang Memilih Pemimpin, Bukan Perang dan Adu Domba Rakyat, Masyarakat Harus Cerdas Memilih Pemimpin".

Korlap Aksi, Mahfudz Ali dari Mahasiswa UIN Walisongo Semarang, dalam orasinya memaparkan soal ucapkan oleh Calon Presiden nomor urut 02 tersebut sangat tidak pantas, yakni menganggap “Tampang Boyolali” tidak pernah masuk hotel mewah. (Senin, 12 November 2018).

“Sebagai seorang tokoh bangsa, beliau tidak pantas mengucapkan kalimat yang melukai hati dan perasaan masyarakat, "Stop Fitnah dan Isu SARA pada Pemilu 2019,” tegas Korlap Aksi Mahfudz Ali.

Sikap Ketum Partai Gerindra itu sangat tidak patut untuk dicontoh. Sekalipun Prabowo merupakan tokoh nasional, tapi selera humor semacam itu tidak bisa dibiarkan begitu saja karena dikhawatirkan akan menjadi preseden buruk bagi bangsa ke depan.

“Pemilu 2019 ajang Memilih Pemimpin, Bukan Perang dan Adu Domba Rakyat, maka penghinaan terhadap martabat bangsa Indonesia ini tidak boleh dibiarkan, karena akan menjadi preseden buruk bagi generasi Indonesia ke depan,” katanya.

Dalam aksinya kali ini, mereka juga menilai bahwa seharusnya aparat penegak hukum melihat sisi krusial dari kasus asal ngomong tersebut, yakni potensi perpecahan, apalagi gaya bercanda ala Prabowo Subianto tersebut bukan sekali saja terjadi, bahkan kepada para jurnalis juga mendapatkan narasi yang sejenis.

‘Masyarakat harus cerdas memilih pemimpin 2019 dan juga pelecehan terhadap warga Boyolali dan kepada Bangsa Indonesia oleh Prabowo seharusnya bisa dicermati oleh Polri dan Kejaksaan karena berpotensi timbulkan perpecaha, Jaga persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia,” terangnya.

Mahfudz Ali menilai sejauh ini terlalu sering narasi negatif dilontarkan oleh Prabowo Subianto yang notabane adalah capres di Pilpres 2019. apa yang dilontarkan Prabowo juga berpotensi membawa arah negatif bagi bangsa dan negara Indonesia ke depan.

“Ada lagi yang di lakukan Sandiaga Uno yang melangkahi makam. Dalam Islam tidak boleh melangkahi makam, kami harapkan Prabowo Sandi taubatan nashuka, kalau tidak maka masyarakat Boyolali Jateng tidak akan pilih prabowo sandi,” jelasnya.

Kesan yang diambil dari pidato-pidato beliau adalah agar tidak ada kemajuan dan pesimisme terhadap masyarakat khususnya masyarakat Boyolali, Prabowo Subianto harus meminta maaf secara terbuka atas sikap dan pernyataannya yang melukai hati dan perasaan masyarakat Boyolali dan berjanji agar tidak lagi mengulangi kesalahan serupa di kemudian hari.

"Kami mengecam pidato Prabowo Subianto yang telah menjatuhkan harkat dan martabat rakyat Indonesia. Kami juga meminta kepada bapak Prabowo Subianto agar tidak melecehkan dan menghina rakyat Indonesia lagi. Probowo harus berkomitmen menjaga persatuan dan kesatuan Rakyat Indonesia," pungkas Mahfudz Ali.

(ALDY)

 

Berita Terkait