Kamis, 13 Desember 2018 | 18:53:13 WIB

Serikat Petani Nilai Serapan Beras oleh Bulog Belum Maksimal

Selasa, 20 November 2018 | 16:07 WIB
Serikat Petani Nilai Serapan Beras oleh Bulog Belum Maksimal

Menteri Pertanian Amran Sulaiman (kanan) bersama Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Budi Waseso (kiri) berbincang saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Beras Induk Cipinang (PIBC), Jakarta, Kamis (8/11/2018). Sidak tersebut dilakukan untuk memonitor stabilisasi pasokan dan harga beras di pasar umum, sebagai tindak lanjut dari gerakan Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH). (FOTO: ANTARA / LINDO)

JAKARTA, LINDO - Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Pusat Serikat Petani Indonesia (DPP SPI), Agus Ruli menilai serapan beras yang diambil oleh Bulog belum maksimal.

Agus Ruli dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (20/11), mengungkapkan minimnya penyerapan beras petani juga disebabkan harga pembelian gabah dari pemerintah melalui Bulog lebih rendah dibanding harga di lapangan.

"Kita prediksi di akhir tahun ini atau awal tahun, diperkirakan akan kurang juga karena panen kita tidak maksimal," ungkap Agus.

Dia berharap Bulog bisa membeli dari petani dengan harga yang layak. Selain itu menurutnya petani harus diberikan insentif dan dukungan. Kemudian Bulog harus menyiapkan gudang penampungan dan pengeringan beras dari petani, agar kualitas berasnya baik dan bisa lama disimpan. Intinya, kata dia, bagaimana memaksimalkan beras dari petani.

Ia menegaskan, terlebih dalam tahun politik Indonesia saat ini, persoalan pangan harus terjamin. Karenanya menjadi pertanyaan jika harga beras mahal dan ada defisit.

Kondisi ini berbeda hal dengan pernyataan Dirut Bulog Budi Waseso, bahwa gudang penyimpanan beras milik Perum Bulog penuh. Ia mengatakan, gudang berkapasitas 3 juta ton itu tidak mencukupi lagi untuk menyimpan stok beras Bulog. Bahkan, dia mengatakan bahwa Bulog terpaksa harus menyewa gudang lain untuk menyimpan stok beras milik mereka.

"Hari ini riil yang tidak bergerak di gudang kita 2,4 juta ton. Kurang lebih ada 500 ribu ton beras kita, beras milik negara ini harus kita simpan di luar gudangnya Bulog, hari ini masih kita sewa," kata Buwas.

Sementara itu, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, di kesempatan berbeda, Senin mengatakan senada. Bulog seharusnya antisipatif terhadap kenaikan harga beras.

Beberapa daerah, contohnya Riau, bahkan telah menyatakan mengalami defisit beras. Padahal, di sisi lain, stok beras di gudang Bulog melimpah ruah hingga 2,5 juta ton.

"Harusnya diantisipasi. Buat pemetaan di tiap daerah. Kan banyak gudangnya Bulog, bisa dipantau dari tiap gudang di daerah masih aman atau nggak," ucap Ahmad Heri Firdaus.  (ANT)

 

Berita Terkait