Senin, 17 Desember 2018 | 19:29:10 WIB

Pentingnya Menjaga Sang Raksasa Pengendali Banjir

Rabu, 21 November 2018 | 07:26 WIB
Pentingnya Menjaga Sang Raksasa Pengendali Banjir

Bendungan Mila di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) siap untuk dilakukan penggenangan atau impounding pada awal Desember 2018. (FOTO: ANT/Kementerian PUPR/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Aktivis lingkungan dari Irlandia Utara, Patrick McCully, pernah mengatakan bahwa "a dam tears at all the interconnected webs of river valley life" (bendungan membelah seluruh jaringan sungai lembah kehidupan).

Dalam bukunya bertajuk "Silence Rivers: The Ecology and Politics of Large Dams" (2001), diterangkan bahwa bendungan adalah bangunan besar atau monumen yang statis yang berupaya untuk mengendalikan sungai, serta mengelola pola banjir dan aliran airnya.

Sebagai sebuah bangunan raksasa, bendungan memerlukan perawatan dan penjagaan yang tepat dan telaten agar tetap dapat melaksanakan fungsinya.

Tidak hanya dalam kondisi kerangka betonnya, tetapi juga di dalam kondisi reservoir atau tempat penyimpanan air yang terbentuk dari infrastruktur mega tersebut.

Berdasarkan ensiklopedia dunia maya, Wikipedia, reservoir yang diciptakan oleh bendungan tidak hanya bermanfaat untuk menahan banjir, tetapi juga menyediakan air untuk beragam aktivitas, seperti irigasi, konsumsi, penggunaan untuk keperluan industri, dan akuakultur atau budi daya perikanan.

Selain itu, bendungan juga kerap dikaitkan dengan pembangkit listrik tenaga air untuk keperluan energi masyarakat.

Di dalam lintasan sejarah, bendungan paling awal yang diketahui pada saat ini adalah bendungan Jawa yang terletak di Yordania. Bendungan setinggi sembilan meter yang terletak sekitar 100 kilometer dari Amman (ibu kota Yordania) ini diperkirakan dibentuk dari sekitar tahun 3.000 SM.

Dari kawasan Mesopotamia di Timur Tengah, penggunaan bendungan terus menyebar ke berbagai belahan penjuru dunia.

Nama "dam" atau bendungan dalam bahasa Inggris, berasal dari bahasa Belanda abad pertengahan. Pada saat ini, di negeri Belanda (yang sebagian wilayahnya terletak di bawah permukaan laut) banyak kota yang memakai unsur kata "dam", seperti Amsterdam dan Rotterdam.

Di Indonesia, selaras dengan visi Presiden Joko Widodo yang memprioritaskan pembangunan infrastruktur, maka pemerintah juga mendorong pembangunan berbagai bendungan di beragam lokasi di Tanah Air.

Salah satunya adalah pembangunan Bendungan Logung Kudus di Provinsi Jawa Tengah yang saat ini telah rampung dan siap diisi atau digenangi air pada periode akhir November 2018.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan pembangunan bendungan akan meningkatkan suplai air untuk lahan pertanian di sekitarnya secara lebih merata dan berkelanjutan.

Dengan adanya suplai air dari bendungan, ujar dia, maka kalangan petani yang sebelumnya hanya satu kali tanam setahun, nantinya akan bisa bertambah menjadi 2-3 kali dalam satu tahun.

Ketahanan Pangan

Ia mengemukakan bahwa bendungan ini salah satu di antara 65 bendungan yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada tahun 2015-2019 untuk mendukung Nawa Cita Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla mewujudkan ketahanan pangan dan air nasional.

Kehadiran Bendungan Logun sudah sangat dinanti masyarakat Kabupaten Kudus yang sebagian besar bekerja pada lahan pertanian.

Pada musim kemarau, wilayah tersebut sering mengalami kekeringan sehingga para petani tidak tercukupi kebutuhan airnya untuk bercocok tanam.

Dengan hadirnya bendungan yang memiliki daya tampung sekitar 20,15 juta meter kubik dapat menambah luasan sawah yang diairi dari semula 2.200 ha menjadi 5.355 ha.

Selanjutnya, Menteri Basuki mengatakan program pembangunan bendungan diikuti oleh program irigasi premium yakni irigasi yang mendapat suplai air dari bendungan tersebut.

Sebelumnya, pada tahun ini juga telah diresmikan Bendungan Tanju di Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kementerian PUPR juga menargetkan lima bendungan lainnya yang akan selesai secara bertahap pada akhir tahun 2018, yakni Bendungan Rotiklot di Nusa Tenggara Timur (NTT), Mila di NTB, Gondang di Jawa Tengah, Sei Gong di Batam, dan Sindang Heula di Banten.

Selanjutnya ditargetkan pada awal 2019 akan selesai konstruksi Bendungan Passaloreng di Sulawesi Selatan serta Bendungan Kuningan di Jawa Barat.

Menteri PUPR mengingatkan bahwa pembangunan bendungan yang sedang digalakkan pemerintah di berbagai lokasi itu juga bermanfaat, antara lain untuk mengendalikan banjir.

Menurut dia, pada saat ini, masih banyak Daerah Aliran Sungai (DAS) yang belum mempunyai bendungan, sehingga masih terdapat potensi dan risiko banjir ketika terjadi curah hujan tinggi.

Padahal, tanpa ada penampungan air seperti infrastruktur bendungan, maka debit air juga tidak bisa diatur sehingga berpotensi mengakibatkan banjir besar di kawasan tanpa bendungan.

Pengendalian Banjir

Untuk itu, ujar dia, pembangunan 65 bendungan, salah satunya bertujuan pengendalian banjir.

Dari 49 bendungan baru, dua bendungan khusus dibangun untuk mengendalikan banjir di Jakarta dan sekitarnya, yakni Bendungan Sukamahi dan Ciawi di Jawa Barat.

Sementara pada tahun ini Kementerian PUPR menargetkan delapan bendungan akan selesai secara bertahap.

Bendungan tersebut meliputi Bendungan Rotiklot di NTT, Mila di NTB, Gondang dan Logung di Jawa Tengah, Sei Gong di Batam, Sindang Heula di Banten, Passaloreng di Sulawesi Selatan, serta Bendungan Kuningan di Jawa Barat.

Selain itu, untuk mengantisipasi dan sekaligus merespons risiko terhadap banjir saat musim hujan, Menteri Basuki telah menginstruksikan seluruh Kepala Balai Besar Wilayah Sungai dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional untuk senantiasa siaga di wilayah kerjanya.

Kesiagaan personel dan peralatan diperlukan agar penanganan darurat ketika terjadi bencana dapat direspons dengan cepat.

Contohnya, salah satu kebijakan yang ada bahwa memasuki musim penghujan, kepala balai agar tidak meninggalkan wilayah tugasnya tanpa seijin Menteri.

Siap bencana

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan dalam menghadapi musim penghujan serta ancaman bencana banjir dan tanah longsor, anggaran pemerintah siap untuk penanganan bencana.

Mensos mengatakan terkait dengan penanganan bencana, sebenarnya bisa dicegah lewat penanganan yang tepat karena semua terkait dengan perilaku manusia kecuali kemungkinan bencana gempa bumi.

Sepanjang catatan sejarah, telah banyak bencana yang terjadi karena kegagalan fungsi bendungan yang terjadi akibat malfungsi, konstruksi yang buruk, atau perawatan yang tidak memadai, atau bisa juga karena kondisi cuaca atau hujan deras yang sangat lebat.

Salah satu tragedi terkait bendungan yang banyak mengakibatkan korban jiwa adalah peristiwa jebolnya tanggul Situ Gintung di Tangerang Selatan pada 27 Maret 2009, yang mengakibatkan setidaknya 98 orang tewas.

Tragedi "tsunami kecil" di Situ Gintung itu menghasilkan korban jiwa yang kedua terbesar pada abad ke-21 ini, setelah jebolnya tanggul Koshi Barrage di perbatasan Nepal-India, pada 18 Agustus 2008.

Untuk itu, berbagai pihak juga harus menyadari pentingnya menjaga infrastruktur raksasa yang dikenal sebagai bendungan, sebagai upaya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, terutama dalam menghadapi musim penghujan yang telah masuk pada saat ini. (ANT)

 

Berita Terkait