Minggu, 16 Desember 2018 | 20:10:19 WIB

Ribuan Masyarakat dan Mahasiswa Gelar Mimbar Bebas di Solo

Rabu, 21 November 2018 | 18:06 WIB
Ribuan Masyarakat dan Mahasiswa Gelar Mimbar Bebas di Solo

Di Solo, ribuan warga gelar mimbar bebas. (FOTO: SOLO-INDEPENDEN/LINDO)

SOLO, LINDO – Ribuan masyarakat dan elemen Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Solo Raya, Jawa Tengah, menggelar aksi damai dan mimbar bebas di kawasan Patung Slamet Riyadi, Jalan Brigjend Slamet Riyadi, Kampung Baru, Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Senin (19/11).

Aksi damai tersebut dalam rangka menyambut pesta demokrasi Pemilu Presiden 2019 dan Pemilu Legislatif 2019 yang banyak sekali fenomena yang terjadi, munculnya banyak fitnah dan isu sara sangat meresahkan dan menimbulkan potensi perpecahan anak bangsa.

Koordinator aksi Agus Yusuf dalam aksinya menyerukan agar stop fitnah dan isu SARA pada Pemilu 2019. Pemilu 2019 menurutnya, adalah ajang memeilih pemimpin, bukan perang dan adu domba rakyat.

“Kami menyerukan agar stop fitnah dan isu SARA pada Pemilu 2019. Pemilu 2019, adalah ajang mememilih pemimpin, bukan perang dan adu domba rakyat. Rakyat harus cerdas memilih pemimpin di tahun 2019,″ jelas Agus.

Profokasi dan sikap yang berpotensi memecah belah bangsa indonesia harus bisa dicermati oleh Polri dan Kejaksaan karena berpotensi timbulkan perpecahan. Maka jaga ucapan dan sikap sebagai negarawan dalam kontestasi politik 2019, agar tidak ada gesekan dan perpecahan dalam masyarakat. Termasuk dalam menjaga secara bersama persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.

“Kami berharap Polri dan Kejaksaan cermat dan tegas menindak potensi yang akan menimbulkan pecan belah. Kami harap Komisi Pemilihan Umum harus transparan dan adil pada pemilu 2019, Bawaslu harus tegas dalam menindak setiap pelanggaran Pemilu 2019,” tegas Agus.

Salah satu orator, Sa’roni dalam orasinya menjelaskan, sebagaimana yang diucapkan oleh calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto beberapa waktu yang lalu dalam pidato politiknya sangat tidak pantas, yakni pada poin "Tampang Boyolali" yang sangat tendensius terhadap kelompok tertentu.

Sebagai seorang tokoh bangsa, beliau tidak pantas mengucapkan kalimat yang melukai hati dan perasaan masyarakat. Sangat tidak patut untuk dicontoh," tuturnya.

Sekalipun Prabowo Subianto merupakan sosok tokoh nasional, kata dia, tapi selera humor semacam itu tidak bisa dibiarkan begitu saja karena dikhawatirkan akan menjadi preseden buruk bagi bangsa ke depan. Penghinaan terhadap martabat bangsa Indonesia ini tidak boleh dibiarkan, maka cukup dan jangan adu domba rakyat Indonesia dalam kontestasi politik 2019.

“Kami tak ingin memiliki pemimpin yang suka menyinggung dan merendahkan harkat dan martabat masyarakat termasuk warga Boyolali. Kami sebagai sesama warga Jawa Tengah merasa gaya bercanda "Tampang Boyolali" tidak pantas disampaikan, termasuk oleh Calon Presiden Prabowo,” jelas Sa’roni di tengah-tengah orasinya, Senin (19/11).

Seharusnya aparat penegak hukum melihat sisi krusial dari kasus asal ngomong tersebut, yakni potensi perpecahan, apalagi gaya bercanda ala Prabowo Subianto tersebut bukan sekali saja terjadi.

Meskipun Prabowo sudah menyampaikan permohonan maafnya, mereka tetap ingin agar Ketum Partai Gerindra tersebut menyampaikan permohonan maaf secara resmi dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari.

“Kami minta Prabowo minta maaf secara resmi dan terbuka kepada masyarakat Indonesia khususnya warga Boyolali, serta berjanji tidak akan mengulangi perbutannya lagi,” tegasnya.

Menurut dia, sikap Sandiaga Salahuddin Uno baru-baru ini Cawapres Prabowo tersebut melangkahi makam sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) KH Bisri Syansuri saat berziarah.

"Kita ingat Sandiaga Uno pernah dilabeli Santri oleh salah satu kelompok. Mana ada santri yang ziarah tapi melangkahi makan yang diziarahi, apalagi makam itu sesepuh Umat Islam, sesepuh warga Nahdliyyin, sesepuh NU, sikap Sandi sangat tidak bisa dibenarkan begitu saja," jelasnya.

Bahkan ia menilai sikap tersebut adalah bentuk penghinaan terhadap marwah Ulama. “Tanpa harus diminta keluarga Mbah Bisri (KH Bisri Syansuri -red), Anda seharusnya minta maaf. Itu perbuatan yang tidak menghargai marwah ulama,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, hadir pula mahasiswa yang mengatasnamakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se Jawa Tengah. Mereka mengaku sepakat dengan apa yang disuarakan oleh Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Jawa Tengah tersebut atas keresahan yang mereka suarakan. Bahkan mereka sampai menyatakan tak ingin negara dipimpin dengan cara otoriteristik dan militeristik.

“Kita sudah merasakan bagaimana orba memimpin negeri ini dengan penuh ketakutan dan batasan yang tidak wajar, suara Mahasiswa dibungkam dan sebagainya,” ujar Mahasiswa dari Universitas Surakarta (UNSA) Adwar dalam orasinya.

Aksi damai diatas mimbar bebas itu terpantau berjalan dengan aman dan tertib. Bagkan dalam aksinya, masyarakat juga sempat melakukan treatrikal adat jawa sebagai bentuk simbolis pengusiran aura negatif, seperti rasa saling permusuhan dan sebar hoax hingga banyaknya fitnah antar sesama bangsa Indonesia. 

“Maka kami sampaikan, kami tidak akan memilih pemimpin yang berusaha mengembalikan kekuasaan ala orba,” tutupnya. (AAD)

 

Berita Terkait