Senin, 17 Desember 2018 | 19:29:51 WIB

Bejat! Ayah Kandung Perkosa Anak Kandungnya Hingga Hamil Tua

Kamis, 29 November 2018 | 13:22 WIB
Bejat! Ayah Kandung Perkosa Anak Kandungnya Hingga Hamil Tua

Ilustrasi - Seorang perempuan telah menjadi korban pemerkosaan oleh ayah kandungnya sendiri di Mangoli Timur, Kepulauan Sula, Maluku Utara. (FOTO: IST/LINDO)

SANANA, LINDO - Seorang ayah berinisial (RK) di Desa Waitina, Kecamatan Mangoli Timur, Kabupaten Kepulauan Sula, Provinsi Maluku Utara, telah melakukan pemerkosaan pada anak kandungnya sendiri (AS) selama empat tahun.

Terbongkar kasus bejat ini bermula saat korban tidak mau dinikahkan dengan sang pacarnya dari tetangga desanya sendiri. Menurut warga, kasus ini sudah lama sejak tahun 2015, sejak korban berusia (15) dan masih duduk dibangku SMP.

Korban berinisial (AS), digagahi berulang-ulang kali, korban merasa perlakuan tidak senono itu dilakaukan oleh ayahnya pada siang hari saat korban usai pulang sekolah.

Korban mengaku digagahi pelaku pada siang hari di saat suasana rumah sedang sepih. Menurut warga, korban digagahi pelaku dikamar pribadi korban saat korban sedang sendiri dirumah usai pulang sekolah.

“Waktu itu ibu kandung saya tidak berada dirumah. Dan suasana rumah sedang sepih, saya juga tidak tahu kalau ayah saya masih ada di dalam rumah. Saat saya tidur siang, ayah saya masuk ke kamar saya dan memaksa saya melayani nafsu bejatnya,” kata korban seperti yang ditirukan beberapa warga Desa Waitina.

Lebih lanjut kata warga, perbuatan itu di lakukan berulang-ulang kali oleh sang pelaku disaat rumah sedang sepih. Korban digagahi berulang kali hingga hamil muda, namun kehamilan itu digugurkan korban atas permintaan ayah kandungnya. Hal itu dilakukan guna menutupi aibnya agar aksi bejatnya tidak tercium oleh warga desa tersebut.

“Korban disetubuhi berulang-ulang kali hingga hamil. Namun kehamilan itu, sempat digugurkan oleh korban dan pelaku di desanya pada tahun 2015. Saya rasa mereka berdua sengaja melakukan hal itu untuk menutupi aib mereka,” ujar warga lagi.

Sedangkan kasusnya terbongkar dimulai saat korban meminta restu pada orang tuanya agar korban mau menikah dengan sang kekasih dari desa tetangganya sendiri. Saat korban ingin menyampaikan niat baiknya itu, ayah korban justru menolak.

Korban tidak merasa puas dengan pernyataan ayahnya, ia memilih mendatangi Kantor Urusan Agama (KUA) Mangoli Timur, dengan maksud hendak kawin lari dengan pacarnya dari kampung tetangga sebelah, pada Minggu (25/11).

Mendengar aduan kawin lari itu, salah satu staf KUA lantas membawa AS ke rumahnya sembari menunggu proses pernikahan. Staf KUA tersebut juga mengambarkan hal tersebut kepada RK yang tak lain adalah ayah kandung AS. Mendengar putrinya hendak menikah, RK marah besar, dia mendatangi rumah staf  KUA dan memarahi AS beserta sang staf KUA.

Usai melampiaskan kemarahannya, RK menyeret AS pulang. Dirumah, AS tersebut dipukuli hingga memar. AS tak tahan lagi dengan perlakuan ayahnya, langsung menceritakan perbuatan RK kepada bibinya. Ia mengaku sejak 2015 lalu, atau saat masih duduk dibangku kelas 3 SMP, RK telah rutin menggaulinya. Selama itu pula, AS diancam agar tak menceritakan aksi bejatnya kepada siapa pun.

Pengakuan AS sontak membuat naik pitam sang bibi. Ia lalu meneruskan cerita ponakannya pada anggota keluarga lain. Gegerlah seluruh kelaurag besar. Warga setempat pun akhirnya tahu.

“Dari situ semua terbongkar,” kata salah satu warga Desa Waitina, Selasa (27/11).

Mendengar kejadian itu, warga pun marah dan mendatangi RK, lalu mengeroyok hingga babak belur. Mereka juga diam-diam melaporkan perbuatan mesum pelaku ke pihak kepolisian. Belum sempat dijemput polisi, RK justru mendatangi ruang penyidik Satreskrim Polres Kepsul, Senin (26/11).

Kedatngan RK itu, untuk melaporkan aksi pengeroyokan warga terhadap dirinya. Ibarat senjata makan tuan, polisi malah memprosesnya atas tuduhan pemerkosaan.

RK langsung digiring keruang unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) untuk dimintai keterangan sebagai tersangka. Dia juga langsung ditahan saat itu juga. “Iya dia sendiri yang datang melapor soal pengeroyokan dirinya pada polisi,” kata salah satu petugas polisi.

Dihadapan polisi, RK mengakui semua atas perbuatannya. Dia pun dijerat dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016, tentang perlindungan anak.

Kasat Serse Iptu Paul Yustiam membenarkan adanya kejadian tersebut. “Tersangka sudah kami tahan, dan saat ini kami sedang memeriksa para saksi-saksi,” tandas Kasat Serse.  (ALDY/MP)

 

Berita Terkait