Senin, 17 Desember 2018 | 19:29:19 WIB

P2KLH Tuduh Hilir Sungai Siak Sudah Tercemar Berat

Selasa, 4 Desember 2018 | 19:56 WIB
P2KLH Tuduh Hilir Sungai Siak Sudah Tercemar Berat

Dokumentasi - Sungai Siak di Kota Siak Sri Indrapura, Kabupaten Siak, Riau, Jumat (22/7/2016). (FOTO: RIAUSKY/LINDONEWS)

SIAK, LINDO - Kualitas air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Siak bagian hilir yang bermuara sepanjang kabupaten Siak, Provinsi RIau sudah masuk dalam kategori tercemar berat dan tidak bisa dipergunakan untuk aktivitas sehari-hari bagi masyarakat.

"Kalau untuk perbandingan mutu air, air sungai Siak harus memakai perbandingan kelas III, tidak bisa lagi dibandingkan dengan mutu air kelas II apalagi kelas I. Artinya hilir Sungai Siak ini sudah tercemar berat," ujar Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup (P2KLH) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Siak, Ardayani di Siak, Selasa (4/12).

Dia menyebutkan, Sungai Siak yang bermuara dari Rokan Hulu, Kampar, Pekanbaru, hingga Siak itu membawa banyak limbah dari masing-masing daerah tersebut. Baik itu limbah industri dari pabrik, pertanian, maupun domestik.

Limbah-limbah pabrik yang dibuang ke Sungai Siak bagian hulu terus terbawa hingga hilir menyebabkan akumulasi bahan-bahan pencemaran di Daerah Aliran Sungai Siak bagian hilir lebih berat.

"Semua limbah-limbah pabrik, domestik dan pertanian yang masuk ke anak-anak sungai akan terus mengalir dan masuk ke Sungai Siak. Jadi kita bagian hilir ini ada akumulasi bahan-bahan pencemaran itu berada di Siak ini. Makanya air Sungai Siak yang ada di kabupaten Siak ini bandingannya tidak bisa dibandingkan dengan kelas II lagi sebenarnya," ungkap dia.

Dua pekan terakhir masyarakat di Mempura dan Sabak Auh dihebohkan dengan banyaknya ikan-ikan yang mati akibat air Sungai Siak yang berbau busuk dan tercemar limbah.

Penjasan Ardayani mengenai banyaknya ikan-ikan yang mati ke permukaan disebabkan beberapa hal. Salah satu diantaranya karena tercemarnya air Sungai Siak atau naiknya sampah-sampah didasar sungai.

"Kalau dikatakan ikan mati begitu saja tidak, ikan-ikan itu hanya mabuk. Penyebabnya busa saja karena limbah atau naiknya kotoran-kotoran yang ada didasar sungai ke permukaan air. Bisa saja karena dasar sungai terganggu, sehingga ikan-ikan naik ke permukaan," klaim Ardayani.

Pada tahun 2016 saat kunjungan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya ke Kabupaten Siak, pihak KLHK juga sudah mengambil sampel air Sungai Siak untuk mengetahui kualitas air tersebut.

Kesimpulan dari hasil tersebut menyebutkan bahwa air sungai Siak tidak dapat lagi dijadikan sebagai air baku air minum dan rekreasi layaknya kelas I dan II. Namun, bisa dimanfaatkan untuk budidaya ikan tawar, peternakan dan mengairi sawah atau peruntukannya Kelas III.

Disepanjang sungai Siak terdapat lahan gambut dan juga beberapa kegiatan produksi Pulp and Paper, perkebunan sawit, kayu lapis, sepi minyak dan kegiatan domestik.

"Untuk pengambilan sampel dan pengecekan kualitas air sungai Siak sudah sering kita lakukan. Bahkan, terkait informasi banyaknya ikan-ikan yang mati beberapa pekan terakhir juga sudah diambil sampelnya, Rabu kemarin. Hasilnya laboratoriumnya belum keluar," kata dia.*

(ANT)

Berita Terkait