Senin, 17 Desember 2018 | 19:44:05 WIB

Kenaikan Harga Daging Ayam Dipicu Permintaan Tinggi

Rabu, 5 Desember 2018 | 19:01 WIB
Kenaikan Harga Daging Ayam Dipicu Permintaan Tinggi

Pedagang menata ayam potong dagangannya di pasar Lombok, NTB. (FOTO: AKURAT/LINDO)

MATARAM, LINDO - Dinas Pertanian Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, menyatakan kenaikan harga daging ayam broiler hingga menjadi Rp44.000 per kilogram dipicu permintaan tinggi.

"Permintaan tinggi juga dipicu peralihan dari konsumsi daging sapi ke daging ayam," kata Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram H Mutawalli di Mataram, Rabu (5/12).

Ia mengatakan, peralihan konsumsi dari daging sapi ke daging ayam disebabkan harga daging sapi yang selama bulan Maulid Nabi Muhammad SAW melonjakdari harga normal Rp120.000 menjadi Rp130.000-135.000 per kilogram.

"Dengan harga daging sapi yang tinggi, masyarakat cenderung membeli daging ayam untuk memenuhi kebutuhannya," ujarnya.

Mutawalli mengakui, kenaikan harga daging ayam, telur ayam broiler yang mencapai Rp2.000 per butir dan daging sapi disebabkan permintaan tinggi selama bulan Maulid, karena warga masyarakat Kota Mataram memiliki tradisi merayakan Maulid selama satu bulan penuh secara bergantian.

Untuk merayakan Maulid, masyarakat menyiapkan berbagai jenis makanan yang akan disajikan kepada para tamu yang datang berkunjung ke rumah mereka, dirangkaikan dengan kegiatan zikir dan doa.

"Kami yakini, setelah bulan Maulid berakhir harga daging ayam, telur dan daging sapi akan kembali normal," katanya.

Seperti halnya, untuk hari ini atau di penghujung bulan Maulid dari hasil pantauannya di Rumah Potong Hewan (RPH) Majeluk, sudah terjadi penurunan drastis terhadap tingkat pemotongan sapi. Dimana biasanya mencapai 34-35 ekor per hari, hari ini hanya dipotong 25 ekor.

"Jumlah itu diprediksi akan terus menurun, karena permintaan setelah Maulid berakhir akan kembali normal. Bahkan, salah seorang jagal mengakui, setelah Maulid berakhir mungkin hanya bisa memotong dua ekor per hari dari biasanya 5-7 ekor per hari," ujarnya.

Mutawalli mengatakan, kenaikan harga saat ini murni karena permintaan tinggi, bukan karena adanya permainan dari para pengepul maupun pedagang. Pasalnya, untuk memastikan tidak ada permainan harga, pihaknya telah bekerja sama dengan para peternak baik dari Mataram, maupun dari Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Timur, begitu juga dengan distributor telur.

"Pada prinsipnya, tidak ada kekurangan stok tetapi karena permintaan banyak memicu kenaikan harga," katanya.

(ANT)

Berita Terkait