Senin, 17 Desember 2018 | 19:30:04 WIB

Jantung Kalimantan Menjadi Model Pembangunan Hijau Inklusif

Rabu, 5 Desember 2018 | 20:58 WIB
Jantung Kalimantan Menjadi Model Pembangunan Hijau Inklusif

Heart of Borneo Leader dari WWF Iwan Wibisono menyampaikan keterangan kepada wartawan usai diskusi pengembangan Heart of Borneo di Jakarta, Rabu (5/11/2018). (FOTO: ANTARA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, organisasi internasional yang menangani masalah konservasi, penelitian dan restorasi lingkungan, mengatakan kawasan Jantung Kalimantan (Heart of Borneo) akan menjadi model pembangunan hijau inklusif.

"Konservasi penting tapi tidak bisa dilepaskan juga bahwa pembangunan wilayah dan ekonomi harus sejalan, seiring," kata Heart of Borneo Leader dari WWF Iwan Wibisono dalam diskusi pengembangan Heart of Borneo di Jakarta, Rabu (5/12).

Heart of Borneo adalah inisatif pemerintah dari Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia untuk melestarikan salah satu hutan hujan tropis dan tangkapan air terbaik di pedalaman Borneo untuk kesejahteraan generasi saat ini dan akan datang.

Lebih lanjut Iwan menuturkan ketiga negara bekerja menjadikan Heart of Borneo sebagai model untuk pembangunan hijau inklusif dengan mengarusutamakan keanekaragaman hayati dan nilai jasa ekosistem dalam kegiatan produktif dan model bisnis di bidang pertanian, kehutanan, ekowisata, energi dan sektor-sektor lainnya.

Kegiatan-kegiatan itu mendorong keberlanjutan selama memastikan masyarakat lokal dan masyarakat adat diberi akses ke sumber daya alam dan mendukung maya pencaharian mereka, mengintegrasikan nilai-nilai sosial yang kuat dan berakar pada pengetahuan tradisional dan warisan budaya masyarakat adat dan lokal di kawasan Jantung Kalimantan.

Pembangunan hijau inklusif mengedepankan upaya konservasi sembari mengembangkan wilayah dan ekonomi untuk perlindungan dan kelestarian alam serta peningkatan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di dalam kawasan itu.

Iwan mengatakan upaya konservasi dan pengembangan kegiatan ekonomi dapat dilakukan dengan pembangunan berkelanjutan di ruang yang tepat dan khusus di areal aktivitas pembangunan.

Sementara, kegiatan konservasi yang dilakukan tetap bisa memberi kontribusi ekonomi kepada masyarakat melalui pengembangan aktivitas ekonomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan seperti perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dan kegiatan budidaya yang memperhatikan aspek lingkungan.

Dia mengatakan kegiatan konservasi di kawasan Jantung Kalimantan berarti meningkatkan manajemen dan tata klelola kawasan lindung seperti taman nasional, suaka margasatwa dan suaka alam.

Pengembangan konservasi juga dilakukan dengan pendekatan secara lanskap dan ekosistem sebagai dasar untuk perencanaan tata guna lahan terutama dalam lanskap-lanskap prioritas dan sub-lanskap di Jantung Kalimantan, serta kawasan yang berdekatan yang sangat penting untuk konektivitas ekologi, aliran spesies dan genetik.

"Kita tidak bilang bahwa hanya konservasi  penting dan pembangunan 'stop' (berhenti), atau pembangunan saja tapi aspek konservasi dan perlindungan alam tidak dilakukan, itu juga bukan pembangunan yang tepat," tuturnya.

Di Bali, pada 12 Februari 2007, pemerintah Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia mendeklarasikan komitmen mereka untuk melestarikan dan mengelola secara berkelanjutan kawasan Heart of Borneo (HoB).

Kawaan HoB mencakup sekitar 23 juta hektar hutan yang terhubung secara ekologis di tiga negara. Sebagian besar dari kawasan ini yakni 71 persen atau sekitar 16, 890 juta  didominasi oleh hutan hujan tropis di Indonesia.

Sejak 2008, kawasan HoB di Indonesia telah ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional oleh pemerintah Indonesia dan hingga saat ini mencakup empat provinsi dan 17 kabupaten.

(ANT)

Berita Terkait