Rabu, 19 Juni 2019 | 06:20:32 WIB

BI Jaga Pelemahan Rupiah di Kisaran Rp14.435

Kamis, 20 Desember 2018 | 18:40 WIB
BI Jaga Pelemahan Rupiah di Kisaran Rp14.435

Ilustrasi - Rupiah pecahan 50.000. (FOTO: IST/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pagi ini tercatat mengalami pelemahan, yakni di kisaran Rp 14.435 ke posisi Rp 14.525 per dolar AS. Ini disebabkan karena seluruh mata uang Asia juga mengalami pelemahan.

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah untuk menjaga nilai tukar BI juga mengkombinasikan dengan melakukan intervensi di pasar spot secara terukur.

"Rupiah kembali menguat dan ditutup ditutup di 14.465. Pelemahan rupiah dipicu oleh langkah bank sentral Amerika, the Federal Reserve (The Fed) yang kembali menaikkan Fed Fund Rate (FFR) 25 basis point," kata Nanang di Gedung BI, Jakarta, Kamis (20/12).

Nanang menjelaskan kenaikkan 25 bps ini sudah diantisipasi (priced-in) pasar sejak pertengahan tahun. Namun menurut Nanang, stance kebijakan moneter pada FOMC the Fed kali ini tidak terlalu dovish seperti yang diharapkan pasar.

Dia mengungkapkan dari dot-plot yang dihasilkan FOMC, the Fed memperkirakan kenaikan FFR dua kali di tahun 2019, turun dari tiga kali dari FOMC di November lalu.

Sedangkan pasar mengharapkan kenaikkan Fed Fund Rate satu kali di tahun 2019.

"Stance the Fed yang akan menaikkan FFR dua kali di 2019 lebih tinggi dari harapan pasar (satu kali) memicu aksi jual di bursa saham AS dan mendorong pasar melakukan short covering yang dalam beberapa hari terakhir banyak mengambil posisi short dolar AS mengantisipasi stance the Fed yang lebih dovish," ujarnya.

"Di Asia, respons negatif di bursa saham AS menyebabkan harga saham di Asia melemah disertai tekanan terhadap seluruh mata uang Asia termasuk rupiah," tambahnya.

Nanang menyebut BI melihat respon pasar saat ini sebagai "knee jerk reaction" (reaksi seketika dan sementara) atas kekecewaan terhadap hasil FOMC di tengah pelaku pasar valas di domestik yang sebagian besar posisinya kekurangan dolar AS.

"Bila melihat path FFR yang dihasilkan FOMC Desember ini seharusnya sudah jelas bahwa the Fed sudah mulai khawatir dengan konsekuensi yang ditimbulkannya bila The Fed menaikkan FFR terlalu cepat terhadap prospek ekonomi global yang saat ini tengah melemah. The Fed menekankan adanya ketidakpastian yang tinggi ke depan mengenai arah kenaikan suku bunga lebih lanjut," jelasnya.

(DETIK)

Berita Terkait