Senin, 25 Maret 2019 | 21:49:51 WIB

Duta Baca Sumbar Ajak Generasi Milenial Kreatif di Ranah Literasi

Jum'at, 21 Desember 2018 | 07:37 WIB
Duta Baca Sumbar Ajak Generasi Milenial Kreatif di Ranah Literasi

Ruang Baca Rimba Bulan, Silaiang Bawah, Kota Padang Panjang dikunjungi Duta Baca Sumatra Barat dan rombongan pelajar Kota Pariaman. (FOTO: NUR HALIMAH/LINDO)

PADANG PANJANG, LINDO – Duta Baca Sumatra Barat, Mardhiyan Novita MZ mengajak generasi milenial Sumatra Barat untuk kreatif mengembangkan kreativitas mereka di ranah literasi. Literasi menurutnya tidak sebatas baca-tulis, tapi lebih luas dari itu.

“Para milenial harus jeli menangkap peluang di ranah literasi dan mampu mengelolanya menjadi kerja-kerja kreatif dan produktif,” ujar Mardhiyan saat tampil sebagai pembicara dalam Bincang Literasi di Ruang Baca Rimba Bulan binaan Forum Pegiat Literasi (FPL) Kota Padang Panjang, Kamis (20/12).

Ruang Baca Rimba Bulan hari itu dikunjungi 50-an pelajar Kota Pariaman yang tergabung dalam Klub Sahara Kota Pariaman. Turut hadir anggota Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kota Padang Panjang, mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang dan mahasiswa STAI Imam Bonjol Padang Panjang.

Menurut Mardhiyan, di zaman digital yang memasuki era revolusi industri 4.0 di mana teknologi mengambil peran strategis membangun perubahan di berbagai sektor, generasi milenial yang literat diharapkan dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk mengembangkan kemampuan intelektual dalam mencari peluang yang mengarah pada kesejahteraan.

“Jadi, target literasi hari ini untuk kesejahteraan masyarakat, sehingga para milenial tidak tertinggal di landasan di tengah pesat dan cepatnya peralihan teknologi,” katanya.

Dia mengungapkan, di masa lalu orang berdagang membeli atau menyewa tempat (toko) dan setiap pagi-sore buka-tutup toko. Tapi di era sekarang pelaku usaha tidak terlalu mementingkan tempat sebab mereka bisa memanfaatkan teknologi internet untuk menjual jasa atau barang dagangan mereka.

“Nah, di sini literasi berfungsi mengubah pola pikir (mindset) masyarakat, bahwa berdagang tidak harus lagi ke pasar tapi bisa membuka pasar yang lebih luas di ranah digital,” ujar Mardhiyan yang juga penulis Novel “Penyair Merah Putih” dan “Mahar Cinta Gandoriah”.

Mardhiyan memberi apresiasi atas kerja kreatif relawan Ruang Baca Rimba Bulan yang mampu membangun sebuah Taman Bacaan Masyarakat yang lokasinya berada di teras rumah. Ruang Baca itu tidak hanya perpustakaan tetapi juga memberi ruang diskusi dengan berbagai program, juga ada kafe.

“Ini tempat asyik, nyaman dan inspiratif, padahal hanya teras rumah. Tapi karena disentuh oleh tangan-tangan kreatif jadinya artistik,” ujar Mardhiyan yang saat ini sedang menyelesaikan studinya di Pascasarjana Universitas Indonesia (UI), Depok.

Pengasuh Ruang Baca Rimba Bulan, Alvin Nur Akbar, menyampaikan terima kasih atas kunjungan Duta Baca Sumatra Barat dan rombongan pelajar Klub Sahara Kota Pariaman. Kunjungan itu menambah semangat relawan Ruang Baca Rimba Bulan untuk terus mengembangkan ruang baca itu menjadi destinasi edukasi yang bermanfaat bagi banyak orang.

“Ini kunjungan pelajar ke sekian kali ke Ruang Baca Rimba Bulan di usianya yang masih muda,” kata Alvin Nur Akbar.

Sebelumnya juga berkunjung Penyair Singapura dan rombongan pelajar dari SMK Negeri 1 Lintau Buo, Tanah Datar.

Pada kesempatan itu, Ruang Baca Rimba Bulan mendapat donasi buku, di antaranya dari

Klub Sahara Kota Pariaman yang diserahkan Duta Baca Sumatra Barat dan dari penulis muda Sumatra Barat, Arif Rahman Hakim.

Sumbangan buku juga diterima dari Yosi Aprila (mahasiswi STIT Imam Bonjol Pariaman), Ida Herida (Kepala PLB Asih Putra Kota Padang Panjang yang juga penulis), dan Rivan Dewana (mahasiswa STAI Imam Bonjol Padang Panjang asal Aceh).

Penyerahan buku didampingi Duta Disabilitas Kota Padang Panjang, Indah, yang juga siswi SMA Negeri 3 Padang Panjang.

Sementara Koordinator Forum Pegiat Literasi (FPL) Kota Padang Panjang, Muhammad Subhan, mengatakan, Ruang Baca Rimba Bulan digagas sebagai Taman Bacaan Masyarakat (TBM) “rintisan” yang diharapkan tumbuh menjadi “TBM Percontohan”.

“Pemahaman sebagian orang, TBM hanya tempat membaca buku, padahal banyak program lain yang bisa kembangkan di TBM, seperti diskusi, kelas kreatif, lomba-lomba, maupun menjadi destinasi wisata edukasi,” kata penulis novel “Rumah di Tengah Sawah” yang pernah diundang ke Ubud Writer and Readers Festival (UWRF) 2017 itu.

(NUR HALIMAH)

 

Berita Terkait