Selasa, 25 Juni 2019 | 19:10:19 WIB

Soal Hoaks Tujuh Kontainer Surat Suara, Tunggu Penyelidikan Polisi

Kamis, 3 Januari 2019 | 14:27 WIB
Soal Hoaks Tujuh Kontainer Surat Suara, Tunggu Penyelidikan Polisi

Ketua KPU, Arief Budiman (tengah), didampingi anggota-anggota KPU dan Badan Pengawas Pemilu menyampaikan keterangan pers seusai memeriksa langsung kebenaran informasi ada tujuh kontainer surat suara yang sudah tercoblos, di kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (3/1/2019). Ia menegaskan kabar itu tidak benar dan akan memproses secara hukum pihak-pihak yang menyebarkan informasi tersebut. (FOTO: ANTARA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Direktur Eksekutif Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria, mengingatkan semua pihak tidak mengambil kesimpulan sendiri terkait hoaks tujuh kontainer surat suara, dan menyerahkan pengungkapan kasus itu pada polisi.

"Sambil menunggu hasil penyelidikan aparat, marilah kita menunda atau menyimpan kesimpulan, tidak menuduh pihak mana pun. Situasi saling curiga merugikan keluarga besar bangsa Indonesia," kata dia, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (3/1/2019).

Sumber utama hoaks ini adalah sebuah rekaman suara, di dalamnya terdapat suara seorang pria mengatakan ada satu kontainer surat suara yang telah dicoblos di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

"Siapa pria itu, dari kelompok capres mana, apa target dan tujuannya, dan berbagai misteri lainnya akan terungkap jika pria itu ditangkap," kata Hariqo.

Yang jelas, kata dia, harus diwaspadai kemungkinan adu domba antarpendukung calon presiden-wakil presiden, antaragama, antarsuku, dan lain-lain.

"Sebaiknya jangan langsung percaya terhadap isi sebuah screenshoot status medsos, percakapan WhatsApp. Cek ke medsosnya langsung, apakah nama dan status itu benar-benar ada atau hanya editan," katanya.

Jika ternyata asli maka sebaiknya dilaporkan ke aparat dan tidak menggeneralisasi seakan satu mewakili semua. Bisa saja seseorang membuat akun medsos dengan nama yang identik dengan identitas agama tertentu kemudian menyerang agama lain.

Para penghasut dan pengadu domba bisa menyamar menjadi penganut agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konghuchu, Yahudi, Sunni, Syiah, Wahabi, dan lain-lain.

"Para pengadu domba juga bisa menyamar menjadi pendukung Jokowi maupun Prabowo," kata dia.

ANT

Berita Terkait