Rabu, 24 Juli 2019 | 14:16:23 WIB

Di titik Nol Kilometer Distrik Sota Marauke

Rabu, 23 Januari 2019 | 12:21 WIB
Di titik Nol Kilometer Distrik Sota Marauke

Suasana titik nol kilometer Indonesia di Distrik Sota, Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, Senin (24/9/2018). Titik nol kilometer di ujung timur Indonesia ini menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan berswafoto saat berkunjung ke Merauke. (FOTO: Antara/LINDO)

LINDO - Dari Sabang sampai Merauke, dari Sangihe hingga Pulau Rote. Ini cara paling sederhana dan tercepat untuk menggambarkan cakupan wilayah Indonesia.

Begitu luasnya negara kepulauan terbesar di dunia ini hingga mungkin tidak semua warga negaranya memiliki kesempatan untuk mencapai titik-titik terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Distrik Sota yang berada di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, menjadi lokasi nol kilometer (km) di sisi paling timur Indonesia. Berjarak tempuh 80 km atau sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari Kota Merauke, hampir separuh perjalanan dari Kota Merauke menuju ke sana akan menembus Taman Nasional Wasur (TNW).

Taman nasional seluas 4.138 kilometer persegi (km2) yang merupakan lahan basah terluas di Papua ini memang menjadi rumah dari berbagai jenis flora, mulai dari api-api (Avicennia sp.), tancang (Bruguiera sp.), ketapang (Terminalia sp.) hingga kayu putih (Melaleuca sp.).

Untuk fauna yang bisa ditemui mulai dari kanguru pohon (Dendrolagus spadix), kesturi raja (Psittrichus fulgidus), kasuari gelambir (Casuarius casuarius sclateri), dara mahkota/mambruk (Goura cristata), cendrawasih kuning besar (Paradisea apoda novaeguineae), cendrawasih raja (Cicinnurus regius rex), cendrawasih merah (Paradisea rubra), buaya air tawar (Crocodylus novaeguineae) hingga buaya air asin (C. porosus).

Jika kebetulan melintas saat musim hujan seperti saat ini, mungkin akan tampak hijau. Namun saat kemarau, yang terlihat dari jalan Trans Papua yang membelah hutan konservasi ini memang pepohonan dan semak belukar sedikit lebih coklat.

Sejumlah pengunjung melewati tapal batas dua negara Indonesia dan Papua Nugini di Distrik Sota, Merauke, Papua, Senin (24/9/2018). (Antara/Virna P Setyorini)

Menurut Pujiyo, supir yang mengantar sejumlah wartawan ke titik nol km Sota, terkadang ada yang sengaja membakar dengan harapan segera kembali terlihat hijau, sehingga satwa akan berdatangan.

Larangan untuk membakar sebenarnya cukup banyak dipasang di sepanjang jalan Trans Papua tersebut. Dengan tegas tulisan di papan-papan peringatan mengingatkan warga untuk meninggalkan budaya membakar hutan, namun tampaknya belum juga berhasil.

Pada satu kesempatan, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Wiratno pernah mengeluhkan perburuan rusa di wilayah taman nasional ini. Ini menjadi pekerjaan rumah untuk menyosialisasikan agar warga tidak lagi melakukan perburuan tersebut.

Dan ini memang menjadi sulit, mana kala panganan dari daging rusa juga menjadi salah satu oleh-oleh khas Merauke.

Dalam perjalanan menuju titik nol km Sota juga akan terlihat warga yang sengaja tinggal di hutan untuk membuat minyak kayu putih. Biasanya mereka akan berada di sana berhari-hari untuk menyuling.

Jalan Trans Papua yang menghubungkan Merauke ke Boven Digoel terus dikebut pengerjaannya. Menurut Pujiyo, setiap kali ada pejabat setingkat menteri dari Jakarta dikabarkan akan berkunjung, jalanan semakin cepat dipermulus, apalagi ketika kabar Presiden akan berkunjung maka pengerjaannya semakin lebih cepat.

Ini yang jadi sisi positif jika pejabat dari pusat pemerintahan datang ke Papua, kata Pujiyo sambil tertawa.

Sebuah kotak bergambar mirip bendera Papua Nugini diletakkan di perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini di dekat Distrik Sota, Merauke, Papua, Senin (24/9/2018). (Antara/Virna P Setyorini)

Melintasi Sota

Sebuah tugu kecil dengan patung Garuda Pancasila di puncaknya dan peta Indonesia persis di bawahnya terlihat di sebuah pertigaan jalan, menandai bahwa perjalanan semakin dekat dengan titik nol km Sota.

Tidak lama setelah berbelok ke arah timur, mulai tampak jalan-jalan lebih kecil lainnya di sisi kanan dan kiri jalan mulus beraspal. Ada sedikit perbedaan memang jika diperhatikan dengan lebih seksama dari kedua sisi tersebut.

Pemandangan di sisi kiri terlihat lebih alami, tampak belum terlalu banyak intervensi. Namun jika melihat di sisi kanan, lebih banyak lahan yang telah tergarap menjadi ladang.

Distrik Sota dihuni oleh penduduk asli Papua dan pendatang. Kebanyakan aktivitas penduduk asli memang berburu, sedangkan mereka yang merupakan warga pendatang lebih banyak bertani dan berdagang.

Setibanya di perbatasan, tidak lupa rombongan melapor ke Pos Lintas Batas Negara (PLBN) yang tentu saja dijaga pasukan TNI. Pada saat bersamaan seorang warga yang tampaknya habis berburu di wilayah PGN mengendarai motor bebek dengan hasil buruan di belakangnya juga melapor untuk masuk ke wilayah Indonesia.

Masih berada di wilayah NKRI, berjalan sekitar 10 hingga 20 meter menuju Desa Wariaber di Papua Nugini (PGN), terlihat gapura dengan tulisan goodbye and see you again another day.

Baru setelah itu terpampang dengan sangat jelas huruf-huruf berukuran besar berwarna merah-putih dan kuning yang merangkai kata-kata 0 km Merauke-Sabang di sebelah kiri. Ini lah lokasi favorit bagi wisatawan yang berkunjung karena sangat Instagramable.

Salah satu sarang semut berukuran besar di perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini di Distrik Sota, Merauke, Papua, Senin (24/9/2018). (Antara/Virna P Setyorini)

Sedangkan di sisi kanan sebuah pos kecil lainnya berdindingkan bambu dan beratapkan kulit pohon berdiri tegak lengkap dengan bendera Merah-Putih yang berkibar. Pada sebuah kayu kecil yang tergantung di pos kecil tersebut tertulis Proper: Gaudia Petronela S Sos Tahun 2017 Badan Pengelola Perbatasan Negara.

Patok perbatasan hasil survei Indonesia dan Papua Nugini tahun 1983 yang menjadi batas dua negara masih berjarak puluhan meter setelah gapura. Tidak begitu banyak hal yang terlihat setelah melewati patok tersebut, sebuah kotak kayu bergambar bendera Papua Nugini diletakkan di atas sebuah kursi kayu.

Setelah itu, dua sarang semut berukuran sangat besar dengan tinggi mencapai dua hingga tiga meter menjadi obyek yang menarik untuk dieksplorasi di wilayah Papua Nugini. Karena jika ingin melihat desa terdekat masih harus berjalan puluhan meter lagi dari patok bercat putih tadi.

Selalu ada yang berkunjung ke titik nol km Sota ini dan, menurut Kepala Polisi Sektor (Kapolsek) Sota Ma’ruf Suroto, biasanya akhir pekan menjadi saat teramai warga dari distrik lain berkunjung. Sedangkan tamu dari berbagai provinsi Indonesia juga selalu ada yang berkunjung, bahkan beberapa dari mereka mengincar untuk mendapat sertifikat sebagai bukti telah menginjakan kaki di nol km Indonesia.

Sota, menurut dia, juga menjadi daerah yang sering dikunjungi oleh warga Papua Nugini khususnya warga desa Wariaber. Ini karena mereka sering melakukan jual-beli, ada pula beberapa warga mereka yang bersekolah di distrik tersebut.

Bahkan ada pula 56 anak dari Papua Nugini yang kerap melintas batas di Sota telah ikut mendapat imunisasi polio.

Presiden Joko Widodo di akhir 2018 menyambangi titik nol km Sota ini. Seperti yang sebelumnya dikatakan Pujiyo, jika ada pejabat dari pusat pemerintahan hadir, maka pembangunan di sana akan dipercepat.

Begitu lah adanya. Jika tidak ada perubahan, maka pada Januari 2019 ini PLBN di Distrik Sota akan segera mengikuti nasib tujuh PLBN lainnya yang berubah megah seperti di Kalimantan Barat ada PLBN Entikong, Badau dan Aruk, di Nusa Tenggara Timur ada PLBN Motaain, Motamasin dan Wini, serta di Papua ada PLBN Skouw di Jayapura. Harapannya pembangunan tersebut mampu berdampak pada kesejahteraan masyarakat yang ada di garis terdepan Indonesia.

Kepala Polisi Sektor Sota Ma'ruf Suroto di Distrik Sota, Merauke, Papua, Senin (24/09/2018), memperlihatkan foto-foto lama saat survei patok perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini dilakukan pada 1983.

ANT

 

Berita Terkait