Minggu, 24 Februari 2019 | 10:54:59 WIB

Polres Halur Rilis Pelaku Aborsi dari PNS

Rabu, 23 Januari 2019 | 21:31 WIB
Polres Halur Rilis Pelaku Aborsi dari PNS

Kasat Reskrim Polres Halut AKP Rusli Mangoda, dan Kasubag Humas Polres Halut Aiptu Hopni Saribu menggelar jumpa pers di ruangan Humas Polres Halut, Rabu (23/1/2019). (FOTO: JEFRI/LINDO)

HALUT, LINDO - Kasus aborsi atau pembunuhan terhadap janin bayi yang dilakukan oleh salah satu oknum pegawai negeri sipil (PNS) berinisial NA (35), beberapa waktu lalu yang di temukan di Desa Popilo, Kecamatan Tobelo Utara, Kabupaten Halmahera Utara, kini yang bersangkutan sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak Kepolisian Resort Halmahera Utara.

Demikian hal itu ditegaskan oleh Kasat Reskrim Polres Halut AKP Rusli Mangoda, yang didampingi oleh Kasubag Humas Polres Halut Aiptu Hopni Saribu di ruangan Humas Polres Halut, Rabu (23/1/2019).

Menurut Kasat Reskrim kasus aborsi dilakukan oleh saudara NA, asal Desa Gorua, Kecamatan Tobelo Utara, Kabupaten Halmahera Utara. Kasus itu bermula dari pemeriksaan saksi-saksi yang berada di tempat kejadian perkara (TKP).

"Dan hasil pemeriksan penyidik, tersangka NA berhasil kami amankan," kata Kasat Reskrim di Mapolres Halut.

Kemudian atas pemeriksaan lanjutan terhadap tersangka. Tersangka mengakui semua atas perbuatannya.

"Berdasarkan fakta dan saksi-saksi, tersangka mengakui semua atas perbuatannya dengan cara menggugurkan kandungannya yang berusia 5-6 bulan," ujarnya.

Menurut Kasat, tersangka mengaku mengugurkan kandungannya dengan cara mengkonsumsi obat sakit kepala yakni pil bodrex.

"Tersangka mengaku beberapa kali mengkonsumsi obat sakit kepala, sehingga mengakibatkan tersangka mengalami keguguran kandungan," terang Kasat.

Lebih lanjut, Kasat menegaskan, tersangka melakukan hal itu dengan unsur kesengajaan karena yang bersangkutan tidak menginginkan kehamilannya itu di ketahui oleh orang lain.

"Tersangka merasa malu dengan kehamilan itu. Karena janin yang dikandung itu hasilnya berhubungan gelap dengan sang kekasih. Tersangka mengaku sudah menyampaikan kehamilan itu kepada sang kekasih, tetapi kekasihnya menghiraukan begitu saja," tandas Kasat.

Atas perbuatan itu, tersangka NA di jerat dengan Pasal 45 a ayat 1 jo, pasal 77 huruf a, ayat 1 UU nomor 35 tahun 2014, dan perubahan atas UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman pidana 10 tahun penjara atau dengan denda sebesar satu milyar rupiah.

"Tersangka kami jerat dengan UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman pidana 20 tahun penjara atau dengan denda sebesar satu milyar rupiah," paparnya.

Sementara itu soal keterlibatan sang kekasinya, lanjut kasat pihaknya akan di melakukan pendalaman soal keterlibatan dalam kasusu ini maka yang bersangkutan juga akan kami proses.

"Kalau ada keterlibata kekasihnya akan kami tetapakan sebagai tersangka. Saat ini penyidik masih bekerja memeriksa para saksi-saksi di lapangan. Tunggu saja akan kami publikasikan," tutur Kasat.

JEFRI

 

Berita Terkait