Minggu, 22 September 2019 | 21:45:46 WIB

Dinkes Malang Gagas "panen jentik nyamuk" Upaya Meminimalisasi DBD

Senin, 4 Februari 2019 | 11:15 WIB
Dinkes Malang Gagas

Ilustrasi - Para jumantik cilik sedang berburu jentik nyamuk di pekarangan SDN 10 Taratak. (FOTO: INSTA/LINDO)

MALANG, LINDO - Dinas Kesehatan Kota Malang menggagas program "Panen Jentik Nyamuk" sebagai upaya untuk meminimalisasi wabah Demam Berdarah Dengue (DBD) di kota itu yang jumlah penderitanya meningkat dibanding tahun lalu.

Kepala Dinkes Kota Malang Asih Tri Rachmi Nuswantari di Malang, Jawa Timur, Senin (4/2/2019), menjelaskan teknik untuk Panen Jentik Nyamuk itu dilakukan dengan menggunakan alat tampung air yang sengaja ditempatkan di sebuah tempat dengan bak tampungan terbuka.

"Alat tampung air itu harus ditutup dengan sesuatu yang berwarna hitam. Sebab, nyamuk Aedes Aegypti suka dengan sesuatu berwarna gelap, apalagi hitam," kata Asih.

Selanjutnya, tunggu hingga 6 hari. Jika jentiknya sudah ada, baru dipanen. Jentik-jentik ini bisa dijadikan makanan ikan atau dibuang. Hanya saja, cara ini tidak boleh dilakukan lebih dari 6 hari sejak nyamuk bertelur di tempat tersebut. Sebab, setelah 6 hari jentik akan berubah menjadi nyamuk lagi.

Menurut Asih, pihaknya telah melakukan langkah-langkah antisipasi agar wabah DBD tidak menyerang Kota Malang. Selain dengan panen jentik, langkah lainnya yaitu dengan mengerahkan kader-kader posyandu untuk memberikan informasi kepada masyarakat terkait wabah DBD.

Asih mengakui pihaknya memang tidak melakukan fogging (pengasapan) karena cara tersebut dinilai tidak efektif. "Beberapa tahun terakhir ini fogging justru malah membantu nyamuk untuk berkembang biak. Nyamuk hanya pindah, dan tidak mengenai nyamuk yang sedang bertelur, termasuk jentiknya," paparnya.

Berdasarkan data Dinkes Kota Malang,?pada 2016 kasus DBD di kota pendidikan itu tercatat 464 kasus dengan penderita meninggal dunia 3 orang. Pada 2017, mengalami penurunan yakni 105 kasus dengan kasus meninggal 3 orang. Sedangkan pada 2018 ada penurunan lagi, yakni 82 kasus dengan catatan penderita meninggal dunia 1 orang.

Akan tetapi, pada awal tahun 2019, kasus DBD mengalami peningkatan cukup signifikan dibanding periode yang sama tahun lalu. Januari 2018 terdapat 9 kasus, hingga akhir Januari 2019 meningkat menjadi 46 kasus.

Peningkatan jumlah penderita DBD pada awal tahun ini disebabkan cuaca. "Ini bisa jadi siklus lima tahunan nyamuk, namun yang utama adalah cuaca. Kota Malang beberapa bulan belakangan hujan lalu tidak hujan kemudian hujan lagi. Cuaca ini menimbulkan banyak genangan air," paparnya.

Dari total 46 kasus itu paling banyak dilaporkan oleh Puskesmas Bareng, yakni 11 laporan, sedangkan tiga puskesmas lain, seperti Rampal Celaket, Cisadea dan Janti masih belum ada laporan penderita DBD," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Malang Husnul Muarif.

ANT

Berita Terkait