Minggu, 24 Februari 2019 | 10:52:38 WIB

Pimpinan Gereja Berharap Mendapat Dana Rehabilitasi Rumah Ibadah

Senin, 4 Februari 2019 | 12:53 WIB
Pimpinan Gereja Berharap Mendapat Dana Rehabilitasi Rumah Ibadah

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (tengah) meninjau ke Kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu yang rusak akibat terdampak gempa bumi dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (19/11/2018). Selain meninjau kerusakan sejumlah fasilitas pendidikan, kantor pelayanan masyarakat di lingkungan Kementerian Agama serta rumah ibadah, Menteri Lukman Hakim Saifuddin juga menyerahkan sejumlah bantuan yang disumbangkan oleh ASN Kementerian Agama di Indonesia untuk korban bencana di daerah tersebut sebesar Rp 14,2 Miliar.(FOTO: ANTARA/LINDO)

SIGI, LINDO - Sejumlah pimpinan gereja di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah berharap kepada pemerintah pusat dan daerah mendapatkan bantuan dana rehabilitasi sarana rumah-rumah ibadah yang rusak karena diterjang bencana alam gempabumi berkekuatan 7,4 SR pada 28 September 2018.

"Sudah berlangsung hampir empat bulan terakhir ini, beribadah sementara di gereja darurat, sebab bangunan gereja yang lama sudah rata tanah akibat diterjang gempa beberapa bulan lalu," kata Pendeta Heru Pamuso, pimpinan Gereja Sidang Jemaat Allah di Desa Saluki, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi, Senin (4/2/2019).

Ia sangat berharap bisa mendapatkan bantuan anggaran untuk membangun kembali gedung gereja yang permanen.

Bagaimanapun menjalankan kegiatan kerohanian di rumah ibadah yang memadai akan lebih nyaman bagi jemaat.

Meski hanya beribadah dalam gereja darurat, tetapi tidak mengurangi semangat jemaat tetap tinggi dalam memuji dan menyembah Tuhan.

Hal senada juga disampaikan Mince, seorang jemaat Gereja Katolik Desa Jono Oge. Ia juga mengaku gereja mereka sudah rata tanah terdampak gempabumi.

Untuk sementara ini, sedang dibangun gereja darurat untuk tempat ibadah. Gereja darurat dibangun dengan memanfaatkan puing-puing bangunan gereja yang rusak diterjang gempa.

Untuk dindingnya, kata dia, menggunakan atap seng dan rangka kayu/papan. Semua bahan yang digunakan adalah sisa-sisa bangunan gereja yang lama. Karena untuk membangun gereja yang permanen, butuh dana cukup besar.

Mereka pun berharap adanya perhatian dari pemerintah pusat dan daerah untuk membantu rumah-rumah ibadah yang rusak diterjang gempabumi, tsunami dan likuifaksi di sejumlah daerah di Sulteng, termasuk pula di Palu, Donggala dan Parigi Moutong.

"Kami berharap mendapatkan bantuan dana rehabilitasi," harap Mince.

Desa Jono Oge, merupakan salah satu desa di Kabupaten yang cukup parah dilanda bencana alam gempabumi. Satu dusun di desa itu lenyap karena likuifaksi dan 100 persen rumah penduduk dan sarana ibadah gereja maupun masjid di Desa Jono Oge rusak berantakan diobok-obok gempa berkekuatan 7,4 SR yang terjadi akhir September 2018 itu.

ANT

Berita Terkait