Kamis, 22 Agustus 2019 | 18:50:13 WIB

Ada Apa, Genderuwo Diseret ke Ranah Politik Nasional

Jum'at, 8 Februari 2019 | 07:18 WIB
Ada Apa, Genderuwo Diseret ke Ranah Politik Nasional

Ilustrasi - Sosok siluman genderuwo yang diarak. (FOTO: DETIK/LINDO)

JAKARTA, LINDO - "Hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat." Demikianlah definisi 'genderuwo' menurut kamus. Nama hantu itu disebut oleh kontestan Pilpres 2019, baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto.

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Profesor Sunyoto Usman, menilai setan itu telah diseret ke ranah politik, dijadikan kiasan yang menggambarkan kesan seram. Ada tujuan kenapa bahasa tertentu digunakan dalam konteks politik.

"Itu adalah istilah hiperbol," kata Sunyoto kepada wartawan, Jumat (8/2/2019).

Dia menjelaskan, kampanye pada dasarnya merupakan tindakan menonjolkan pihak sendiri dan merendahkan pihak lawan. Kadarnya macam-macam. Bahasa kampanye yang digunakan bakal menyesuaikan dengan dinamika masyarakat. Sebagai bagian dari bahasa, istilah genderuwo telah menyimpan kesan seram sejak dulu di sebagian masyarakat Indonesia.

"Kalau dalam konteks ini, bahasa dipergunakan bukan sekadar berinteraksi, tapi untuk meraih, mengembangkan, dan memelihara kekuasaan," kata Sunyoto yang membidangi area keilmuan sosiologi politik di kampusnya.

Sosiolog dari UGM, Arie Sudjito, menilai politik pada dasarnya sebagai seni dalam mengelola kekuasaan. Namun politik bisa berubah menjadi seram.

"Bila politik diisi hoax, umpatan, kebencian antaragama, fitnah, ancaman, dan saling serang menghukumi, maka politik menjadi menakutkan," kata Arie.

Pilpres sebagai pesta demokrasi sepatutnya diisi dengan cara-cara politik yang sehat. Kritik antarkubu perlu bermuatan data yang jelas, bukan ujaran kebencian. Dengan demikian, kesan seram yang kerap ada di politik bakal hilang. Bukan hanya elite politik, tapi masyarakat juga perlu mempraktikkan bahasa-bahasa politik yang menyadarkan tanpa memancing kemarahan.

Seringkali, rakyat justru menjadi korban 'genderuwo' yang lahir dari sirkuit persaingan para elite.

"Di level masyarakat, sebenarnya politik bukanlah sesuatu yang menakutkan. Yang membuat politik jadi menakutkan seperti genderuwo adalah para elite dan tim suksesnya, menggunakan segala cara meraih kekuasaan. Justru seringkali rakyat jadi korban," tutur Arie.

Istilah genderuwo kian sering digunakan di perbincangan politik nasional sejak November 2018 lalu. Saat itu Jokowi menggunakan istilah genderuwo untuk menyebut cara-cara politik menebar ketakutan. Dia menggunakan istilah itu supaya semua pihak menghindari propaganda yang mengundang perpecahan, ketakutan, dan keragu-raguan. Jangan sampai gara-gara pemilu, kerukunan di level warga jadi rusak.

"Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Nggak benar kan? itu sering saya sampaikan itu namanya 'politik genderuwo', nakut-nakuti," kata Jokowi saat pidato pembagian sertifikat tanah untuk masyarakat Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (9/11/2018).

Prabowo juga menggunakan istilah genderuwo saat bercerita saat dirinya kesulitan menjalankan bisnisnya, yakni sulit mendapat pinjaman di bank. Ini yang menyebabkan biaya politiknya dihemat. Di sisi lain, Prabowo merasa ada sebagian orang yang bisa diberi kredit terus-menerus secara mudah. Pada konteks inilah dia menggunakan istilah genderuwo.

"Ini negara punya siapa? Punya genderuwo katanya ini. Punya genderuwo," kata Prabowo di Hall Sport Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (6/2/2019) kemarin.

AAD/DETIK

Berita Terkait