Jumat, 19 Juli 2019 | 07:03:54 WIB

Kisah Anak Abu Jahal, Gugur Sebagai Syuhada Dimedan Perang

Selasa, 12 Februari 2019 | 11:44 WIB
Kisah Anak Abu Jahal, Gugur Sebagai Syuhada Dimedan Perang

Ilustrasi - Asma Rasullah SAW. (FOTO: REPUBLIKA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Tidak selalu "buah jatuh dekat pohonnya." Maknanya, seorang anak tidak mesti mengikuti jejak orang tuanya. Inilah yang terjadi pada Ikrimah. Dia merupakan putra ‘Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, tokoh Quraisy yang terkenal memusuhi Rasulullah SAW.

Ketika dakwah Islam menyebar terang-terangan di Makkah, Ikrimah sudah berusia dewasa. Namun, pengaruh ayahnya begitu dominan, sehingga membuatnya terpengaruh. Oleh karena itu, kalangan sejarawan menilai Ikrimah mungkin saja masuk Islam lebih awal bila tidak dihalang-halangi reputasi ayahnya itu.

Ikrimah sendiri termasuk pemuda Makkah yang berpandangan progresif. Di antara kawan-kawannya adalah Sa’ad bin Abi Waqqash dan Mush’ab bin Umair. Mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan belajar dan diskusi, alih-alih hura-hura.

Ketika Perang Badar terjadi, Ikrimah ada di sisi ayahnya. Dialah yang menebas lengan Mu’adz bin Afra, pejuang muda Muslim yang berhasil melukai Abu Jahal. Bagaimanapun, nyawa "Fir'aun-nya zaman Nabi SAW" itu tidak terselamatkan.

Beberapa riwayat menyebut, Abu Jahal tewas di depan mata Ikrimah. Sejak saat itu, dia menyimpan dendam kesumat terhadap pasukan Muslim. Pasca-Perang Badar, Ikrimah bersumpah untuk membalaskan kematian ayahnya itu.

Kesempatan datang ketika Perang Uhud terjadi. Bersama dengan istrinya, Ummu Hakam, Ikrimah berupaya memperkuat mental orang-orang Quraisy. Perempuan itu bergabung dalam barisan pengiring yang terletak di belakang pasukan musyrikin. Mereak mendendangkan yel-yel Jahiliyah.

Awalnya, tanda-tanda kemenangan berpihak pada pasukan Islam. Kelompok yang dipimpin Ikrimah juga sempat terpukul mundur.

Namun, kaum musyrikin di bawah pimpinan Khalid bin Walid dapat memanfaatkan kelengahan sebagian orang Islam di bukit. Akhirnya, keadaan berbalik. pasukan musyrikin dapat mengejar lagi pasukan Muslimin. Banyak pejuang Islam yang gugur. Rasulullah SAW bahkan mengalami luka-luka yang cukup parah. Inilah momentum Ikrimah melampiaskan dendam ayahnya.

Dalam beberapa perang berikutnya, sikap Ikrimah tidak berubah. Saat Perang Khandaq terjadi, orang-orang Quraisy tidak menyangka kaum Muslim Madinah menggunakan strategi Persia yang belum pernah mereka jumpai. Mereka harus menghadapi parit yang cukup dalam, yang mencegah akses menuju pusat Madinah.

Tidak ada jalan selain menunggu di seberang parit (khandaq). Berhari-hari lamanya, pasukan musyrikin tidak melihat celah. Bagi Ikrimah, hal itu sangat menjemukan.

Dengan persiapan yang belum matang, putra Abu Jahal itu berupaya menembus blokade parit. Namun, upaya ini sia-sia. Ikrimah justru harus lari tunggang-langgang untuk menghindari hujan panah yang datang dari pasukan Muslim.

Perang Khandaq merupakan sinyal kekalahan telak kaum musyrik. Puncaknya terjadi pada peristiwa penaklukan Makkah (fathu Makkah). Para pemuka Quraisy benar-benar tidak berdaya menghadapi gelombang kaum Muslim yang bergerak dari arah Madinah.

Namun, Rasulullah SAW dan pasukannya tidak melakukan pertumpahan darah. Sasarannya hanya meruntuhkan berhala-berhala di sekitar Ka'bah, sehingga menyadarkan sekalian penduduk bahwa hanya Allah yang berhak disembah.

Ikrimah menyaksikan peristiwa itu. Tidak seperti umumnya petinggi Quraisy, dia masih berupaya menyerang pasukan Muslim yang sejak awal tidak berniat perang. Namun, usaha Ikrimah sia-sia. Khalid bin Walid--sosok yang dahulu pahlawan kafir Quraisy dalam Perang Uhud--berhasil mematahkan perlawanannya.

Karena takut dihukum mati, Ikrimah memutuskan untuk kabur ke Yaman (Arab Selatan). Begitu tahu kekalahan suaminya itu, Ummu Hakam memohon kepada Rasulullah SAW agar mengampuni Ikrimah.

Permohonan itu dikabulkan. Ummu Hakam segera menyusul ke Yaman. Belum sampai di tujuan, dia mendapati suaminya sedang bersembunyi di suatu gua. Ummu Hakam lantas membujuknya agar kembali ke Mekkah, dengan jaminan keamanan dari Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, Rasulullah SAW mengumpulkan beberapa sahabatnya. “Ikrimah bin Abu Jahl akan datang ke tengah-tengah kalian sebagai orang beriman dan kaum muhajirin. Karena itu, janganlah kalian memaki-maki tentang ayahnya. Sebab memaki orang yang sudah meninggal berarti menyakiti orang yang masih hidup. Sekalipun makian itu tidak dapat terdengar orang yang sudah meninggal,” kata Nabi SAW kepada mereka.

Begitu tiba di Mekkah, Ikrimah dan Ummu Hakam disambut para sahabat dan Rasulullah SAW sendiri. Bahkan, beliau SAW sengaja berdiri untuk menghormati kedatangan keduanya. Hanya ada wajah gembira di tengah kaum Muslimin.

Ikrimah pun meminta izin kepada Rasulullah SAW untuk mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapannya. Itu dilakukan bersama dengan istrinya.

“Demi Allah, ya Rasulullah. Tidak ada satu dinar pun uang yang telah kuhabiskan untuk menghentikan agama Allah di masa lalu, melainkan mulai kini aku akan menebusnya dengan pengorbanan dan hartaku yang berlipat ganda untuk menegakkan agama Allah," ucap Ikrimah.

"Tidak seorang pun kaum Muslimin yang telah gugur di tanganku, melainkan akan kutebus dengan membunuh kaum musyrikin secara berlipat ganda. Semua demi menegakkan agama Allah,” sambung putra Abu Jahal itu.

Inilah mulanya keislaman Ikrimah, yang dahulu sangat dibayang-bayangi pengaruh ayahnya itu.

Ikrimah terus meningkatkan kualitas iman dan ketakwaannya. Di samping belajar, dia juga ikut ke kancah peperangan dalam membela kehormatan agama Islam.

Salah satu pertempuran yang dia ikuti adalah Perang Yarmuk. Di sini, pasukan Muslim menghadapi Romawi yang terus mengusik ketenangan umat Islam di perbatasan. Pimpinan pasukan Muslim ada di tangan Khalid bin Walid.

Dalam perang tersebut, pasukan Muslim sempat terdesak. Namun, dengan gagah berani Ikrimah memimpin beberapa orang untuk menggempur gelombang pasukan Romawi. Padahal, saat itu Khalid bin Walid sudah meminta Ikrimah agar mundur sejenak.

“Ikrimah, kamu jangan bodoh! Kembali ke sini! Bila engkau mati, itu adalah kerugian besar bagi kaum Muslimin,” seru Khalid.

“Biarkan saja, wahai Khalid. Biarkan aku menebus dosa-dosaku yang telah lalu. Aku telah memerangi Rasulullah SAW di beberapa medan peperangan sebelum ini. Maka pantaskah aku setelah masuk Islam lari dari kejaran tentara Romawi? Tidak. Sama sekali tidak!” jawabnya sambil tetap melangkah maju.

Ikrimah lantas berseru kepada para pengikutnya, “Siapakah di antara kalian yang berani mati bersamaku!?”

Segera, beberapa Muslim berdiri di samping Ikrimah. Mereka lantas menerjang pasukan Romawi. Bagaikan singa kelaparan, Ikrimah berhasil memukul mundur tentara musuh.

Namun, luka-luka di tubuhnya semakin parah. Di akhir pertempuran, banyak jasad pasukan Muslim yang bergeletak. Di antara mereka, ada tiga mujahid Muslim dalam keadaan kritis.

Sakaratul maut membayang di mata mereka: Ikrimah bin Abu Jahal, Al-Harits bin Hisyam dan Ayyasy bin Abi Rabi’ah.

Ketiganya merintih karena menahan haus yang luar biasa. Seorang tentara Muslim mendengar suara mereka. Dia segera menghampiri Al-Harits bin Hisyam yang sedang terkapar. Bejana yang berisi air didekatkan ke mulutnya.

Namun, pandangan mata al-Harits tertuju pada Ikrimah yang sedang terbaring lemah. Kondisinya persis seperti dirinya.

“Berikan terlebih dulu air ini kepada Ikrimah,” pinta al-Harits kepada tentara Muslim itu.

Si pembawa air lalu beranjak untuk mendekati Ikrimah. Ketika air didekatkan ke mulutnya, Ikrimah melihat sosok Ayyasy yang juga sedang terkapar tidak jauh dari tempatnya berada.

"Berikan dulu air ini kepada Ayyasy,” pinta Ikrimah dengan suara parau.

Tentara tadi lalu pindah ke dekat Ayyasy. Begitu air minum hendak dituangkan ke mulut Ayyasy, ajalnya sudah tiba. Ayyasy menghembuskan nafas terakhir.

Ketika pembawa minum itu hendak menghampiri Ikrimah dan al-Harits, kedua syuhada itu juga sudah wafat. Demikianlah, tiga pejuang Muslim itu. Walaupun sedang menderita, mereka tetap memikirkan kawannya. Semua itu dibingkai dalam semangat perjuangan dan keimanan kepada Allah.

REPUBLIKA

Berita Terkait