Rabu, 19 Juni 2019 | 12:15:14 WIB

Data Pemerintah, Belanja riset Indonesia sekitar Rp30,8 triliun menurut

Sabtu, 16 Februari 2019 | 13:59 WIB
Data Pemerintah, Belanja riset Indonesia sekitar Rp30,8 triliun menurut

Peneliti di Laboratorium Genetika Molekuler DNA Tanaman Balai Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta melakukan tes ekstraksi DNA di Yogyakarta, Jumat (16/11/2018). (FOTO: ANTARA/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menyatakan bahwa menurut hasil survei belanja untuk penelitian dan pengembangan Indonesia tahun 2016-2017 sebanyak Rp30,8 triliun atau 0,25 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Mengutip data survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2016, Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Muhammad Dimyati mengatakan belanja riset dan pengembangan (litbang) periode 2016-2017 lebih besar dibandingkan dengan belanja riset 2013-2014 yang menurut data masih 0,08 persen dari PDB.

"Data tersebut dari survei yang kita punya. Walau kita tahu, banyak industri swasta yang tidak memberikan angka dan juga ada yang tidak memberikan angka yang sesungguhnya," katanya saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (16/2/2019).

Bisa saja, menurut dia, anggaran riset swasta lebih besar dari yang masuk dalam data pemerintah.

Berdasarkan asumsi anggaran pemerintah tahun 2016-2017, persentase belanja litbang pemerintah pusat masih dominan di Indonesia, mencapai 80,97 persen atau Rp24,92 triliun, sedang pemerintah daerah hanya 2,91 persen atau sekitar Rp900 miliar. Dengan demikian total belanja riset pemerintah pusat dan daerah Rp25,8 trilin atau 0,21 persen dari PDB.

Sementara belanja litbang perguruan tinggi tercatat sekitar Rp810 miliar atau 2,65 persen dari PDB dan belanja lembaga litbang swasta sekitar Rp1,33 triliun atau 4,33 persen dari PDB.

Hasil survei juga menunjukkan belanja litbang industri manufaktur di Indonesia mencapai 9,15 persen dari PDB atau sekitar Rp2,81 triliun menurut hasil ekstraporasi berdasarkan survei litbang industri manufaktur 2015.

Sebelumnya Dimyati mengatakan litbang merupakan bagian dari investasi dan mesin pembangunan, dan instrumen percepatan kemajuan sebuah bangsa. Ia juga mengatakan bahwa riset harus ditempatkan sebagai investasi, bukan sekedar belanja, sehingga perlakuannya harus dibedakan dengan pengadaan barang atau jasa biasa.

ANT

Berita Terkait