Rabu, 27 Maret 2019 | 10:11:36 WIB

Pengamat Penerbangan Nilai Harga Tiket Pesawat Sulit Turun

Jum'at, 8 Maret 2019 | 21:18 WIB
Pengamat Penerbangan Nilai Harga Tiket Pesawat Sulit Turun

Para penumpang pesawat sedang mengeluh kenaikan harga tiket di Bandara Kualanamu, Deli, Serdang. (FOTO: KOMPAS/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Tarif tiket penerbangan dipercaya bakal sulit turun meski harga bahan bakar pesawat atau avtur mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan maskapai masih mengoreksi kinerja keuangan yang memburuk dua tahun terakhir.

Pengamat Penerbangan Arista menilai sejumlah maskapai tidak mungkin mengembalikan tarif tiket penerbangan ke harga batas bawah. Menurunkan harga tiket pesawat saat ini sama dengan bunuh diri.

"Enggak mungkin kembali ke tarif batas bawah. Itu sama saja bunuh diri karena banyak maskapai cenderung bangkrut," ujar Arista di Jakarta, Jumat, 8 Maret 2019.

Menurutnya maskapai bakal terus bermain dalam kisaran harga menengah hingga batas atas. Terbukti saat low season pada Januari hingga Maret, kenaikan harga tiket pesawat di sejumlah rute domestik masih terpaut 130 persen.

"Walau low season maskapai LCC, Lion Grup, AirAsia juga tidak menurunkan, main di level menengah," imbuh dia.

Arista pun memberikan sejumlah tips untuk menyiasati harga tiket yang mahal. Penumpang disarankan memesan tiket di luar jam-jam favorit dan pada hari kerja.

"Tips saya ya ambil jam yang tidak favorit memang agak repot tapi kita harus bangun pagi," jelasnya.

Sementara itu, Pengamat Penerbangan Alvin Lie menilai faktor eksternal berupa harga avtur, biaya sewa fasilitas bandara hingga biaya layanan navigasi bukanlah satu-satunya biang kerok atas naiknya harga tiket pesawat. Masih ada sisi internal maskapai berupa leasing, administrasi dan marketing serta utilitas pesawat yang perlu dikaji.

"Sisi internal airlines juga harus dikaji untuk pemangkasan biaya atau efisiensi," kata Alvin saat dihubungi Medcom.id.

Alvin menduga keputusan maskapai menetapkan harga tiket pada batas atas lantaran tingginya biaya operasi pesawat. Hal ini dikarenakan pertumbuhan jumlah armada pesawat melampaui pertumbuhan jumlah penumpang. Faktor itu menyebabkan utilitas pesawat mengalami penurunan sehingga berujung pada kenaikan biaya operasi.

"Ada maskapai yang agresif menambah armada dan saat ini cukup banyak pesawatnya yang diparkir atau tidak dioperasikan. Namun biaya sewa, biaya pendanaan, biaya perawatan tetap terus berjalan. Utilitas rendah tapi fixed cost tetap jalan," ungkap Alvin.

Berdasarkan harga tiket yang terpampang di aplikasi penyedia jasa penjualan tiket transportasi pekan ini, tarif maskapai berbiaya murah atau low-cost carrier (LCC) masih berada di rentang kenaikan 80-100 persen untuk semua rute gemuk.

Contohnya, tarif rute Jakarta-Surabaya masih berada di harga Rp800 ribu-Rp1,3 juta, rute Jakarta-Yogyakarta masih di harga Rp600 ribu, rute Jakarta-Padang rata-rata Rp1,2 juta. Begitu pula dengan rute Jakarta-Medan turun rata-rata hanya 20 persen mejadi Rp1,3 juta. Rute Jakarta-Batam dan Jakarta-Pekanbaru hanya juga turun 20 persen tapi masih berada di rentang Rp900 ribu sampai Rp1,1 juta, sedangkan rute Jakarta-Aceh masih mahal di angka Rp1,7 juta.

Adapun PT Pertamina (Persero) telah menurunkan harga jual avtur per 16 Februari 2019. Pertamina sendiri menyediakan bahan bakar avtur ini di 67 bandara yang tersebar di Indonesia.

Mengutip laman Pertamina Aviation, harga avtur di Bandara Soetta turun dari Rp8.210 per liter menjadi Rp7.960 per liter. Selanjutnya, di Bandara Internasional Kualanamu, sebelumnya avtur dijual Rp9.320 per liter. Setelah diturunkan harganya kini menjadi Rp9.170 per liter.

MEDCOM

Berita Terkait