Minggu, 22 September 2019 | 19:56:43 WIB

Ditjen Pothan Kemhan Selenggarakan Rakor Pembinaan Kesadaran Bela Negara

Senin, 11 Maret 2019 | 10:31 WIB
Ditjen Pothan Kemhan Selenggarakan Rakor Pembinaan Kesadaran Bela Negara

(FOTO : PUSKOMPUBLIKKEMHAN/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Kementerian Pertahanan (Kemhan) melalui Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan (Ditjen Pothan) menyelenggarakan Rapat Koordinasi (Rakor) tentang Pembinaan Kesadaran Bela Negara bersama Kementerian/Lembaga, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Pemda/Kesbangpol seluruh Indonesia. 

Rapat Koordinasi diselenggarakan selama 2 hari, pada 6 - 8 Maret 2019, di Media Hotel & Tower's, jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, mengangkat tema “Melalui sinergitas Kementerian dan Lembaga Kita Tingkatkan Pembinaan Kesadaran Bela Negara Dalam Rangka Mewujudkan Gerakan Nasional Bela Negara”. 

Tema ini sesuai dengan kondisi sekarang, karena Bela Negara harus dilakukan oleh seluruh komponen bangsa melalui sinergis kegiatan agar lebih masif. 

"Rakor ini dipandang penting dan strategis, disamping sebagai wahana menjalin silaturahmi dan komunikasi antara Kemhan dengan seluruh Kementerian/ Lembaga, TNI, Pemda dan komponen bangsa lainnya, juga ditujukan untuk menyamakan persepsi dan menyatukan langkah dalam upaya pembinaan kesadaran bela negara kepada seluruh warga negara," kata Direktur Bela Negara, Ditjen Pothan Kemhan, Brigjen TNI Tandiyo Budi R dalam sambutan pembukaan Rakor yang dihadiri 180 orang peserta.

Menurutnya, sinergitas dan kerjasama dalam Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN( sangat penting guna menghadapi tantangan kedepan, sehingga dalam pelaksanaannya dapat dilakukan secara masif guna mewujudkan gerakan nasional bela negara. 

Membela negara bukan hanya menjadi tugas dan tanggung jawab Kementerian Pertahanan dan TNI semata, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh Kementerian/Lembaga dan Pemerintah Daerah serta komponen bangsa lainnya," terang Brigjen TNI Tandiyo Budi R.

Mengingat lanjutnya, pengertian bela negara itu sendiri adalah sikap dan perilaku setiap warga negara yang didasari oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar (UUD) 1945 guna menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara, sebagaimana tertuang dalam UU No.3 Tahun 2002 tentang Pertahanan negara. 

Dari pengertian tersebut kata Brigjen TNI Tandiyo, jelas bahwa bela negara bukan wajib militer atau kegiatan berbau kemiliteran dengan mengangkat senjata, tetapi membela negara juga dilakukan dalam menghadapi ancaman non militer yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa. 

"Ancaman tersebut nyata kita hadapi saat ini seperti radikalisme, terorisme, penyalahgunaan narkoba, wabah penyakit, kejahatan siber, pencurian sumber kekayaan alam, dan pelanggaran wilayah," paparnya. 

Dalam Rakor PKBN ini, para peserta banyak menerima pembekalan oleh Narasumber dari Kemhan, Kemendagri, Kemdikbud, Kemeristekdikti, Pusdiklat Bela Negara Kemhan dan Rindam III/ Siliwangi, sehingga para peserta memiliki pemahaman yang sama bagaimana warga negara untuk Bela Negara.

Kegiatan Rakor PKBN pada akhir kegiatan menyimpulkan, bahwa Bela Negara adalah sikap mental dan perilaku warga negara agar memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik bagi kepentingan bangsa dan negara sesuai dengan profesinya masing-masing, sehingga warga negara memiliki daya tangkal sekaligus kesiapsiagaan dalam menghadapi berbagai ancaman yang timbul. (ARMAN R)

Berita Terkait