Rabu, 11 Desember 2019 | 20:27:38 WIB

Polisi Selidiki Isu Kiamat di Jatim

Senin, 18 Maret 2019 | 15:23 WIB
Polisi Selidiki Isu Kiamat di Jatim

Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

MALANG, LINDO - Polres Batu tengah mendalami isu terkait puluhan warga Kabupaten Ponorogo yang mendadak hijrah ke Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Falahil Mubtadiin. Sebelumnya, puluhan warga bedol desa karena mendapat bisikan atau doktrin tentang kiamat sudah dekat.

Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto mengaku telah mengunjungi Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin beberapa hari yang lalu. Kunjungan tersebut dilakukan untuk meninjau aktivitas yang ada di dalam pondok.

"Kami sudah melihat langsung lokasi ponpes, kalau kami lihat masih layak sebagai pesantren. Tim kami masih mengambil keterangan dari beberapa saksi," katanya, di Batu, Senin 18 Maret 2019.

Budi menjelaskan jemaah dan santri yang berada di ponpes itu murni datang karena keinginan mereka sendiri. “Mereka juga merasa tidak terpaksa melaksanakan ibadah di sini. Tergerak hati nurani untuk mendalami ajaran Islam yang lebih khusyuk,” jelasnya.

Polisi juga telah meminta keterangan lebih lanjut kepada Pengasuh Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin, Muhammad Romli. Dalam keterangan Romli, fatwa kiamat sudah dekat yang dikabarkan sebelumnya tidak benar.

Romli menjelaskan berdasarkan hadis, jatuhnya meteor merupakan salah satu dari 10 tanda-tanda kiamat. Masih dari hadis, meteor bakal jatuh ke bumi tiga tahun sebelum kiamat terjadi.

Sedangkan disebutkan juga dalam hadis, bahwa tanda-tanda kiamat yakni mulai mengeringnya Danau Tiberias di Israel. Berdasarkan informasi BMKG dunia, Danau Tiberias diperkirakan kering total pada 2022.

"Untuk penyebar isu fatwa kiamat sudah dekat, masih akan kami tindak lanjuti. Sudah teridentifikasi tapi masih kami dalami. Apakah yang bersangkutan pernah sebagai jamaah santri atau hanya baru mendengar saja," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, pihak Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin menampik isu terkait puluhan warga Kabupaten Ponorogo yang mendadak hijrah ke pondok nya setelah mendapat bisikan atau doktrin tentang kiamat sudah dekat.

Ponpes yang berlokasi di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kasembon, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu mengaku isu tersebut tidak benar dan telah disebarkan oknum yang tidak bertanggungjawab di media sosial.

Pengasuh Ponpes Miftahul Falahil Mubtadiin, Muhammad Romli mengatakan puluhan warga Ponorogo tersebut datang ke pondoknya untuk mengikuti pengajian triwulan. Dalam islam bulan Rajab, Sya'ban dan Ramadhan.

"Bagi siapapun jamaah yang mengikuti program pengajian triwulan harus membawa tiga kwintal beras atau gabah untuk persiapan makan selama satu tahun," katanya saat ditemui Medcom.id, Jumat 15 Maret 2019.

MEDCOM

Berita Terkait