Rabu, 24 April 2019 | 21:34:16 WIB

Sri Mulyani Ingin Investor Tak Perlu Khawatir dengan Pilpres 2019

Kamis, 21 Maret 2019 | 07:41 WIB
Sri Mulyani Ingin Investor Tak Perlu Khawatir dengan Pilpres 2019

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sebuah forum di Jakarta. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memastikan investor tak perlu khawatir dengan penyelenggaraan pemilihan presiden (pilpres) 2019. Apalagi Indonesia bukan pertama kali melaksanakan pemilihan secara demokratis.

"Saya ingin meyakinkan Anda dalam pemilihan ini, Anda tidak perlu khawatir tentang bagaimana kami mengelola pemilihan ini," kata Sri Mulyani dalam seminar Fitch on Indonesia 2019, di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Maret 2019.

Dirinya menambahkan, pilpres kali ini dilaksanakan bersamaan dengan pemilihan legislatif (pileg) secara serentak. Hal ini membuat konsentrasi pemilih terpecah sehingga tensi politik terlihat cukup panas meski masih dalam koridor yang baik.

Menurut Sri Mulyani, pemerintah yang akan datang akan tetap memastikan reformasi untuk ekonomi Indonesia terus berjalan. Terlebih setelah Indonesia mengalami tekanan ekonomi yang tidak mudah sepanjang 2018, meski berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,17 persen.

"Ketika bicara ekonomi Indonesia saya harus bilang time period leading is not easy time. 2018 tidak mudah untuk banyak negara, dengan banyaknya perubahan kebijakan di berbagai negara, terutama di Amerika Serikat (AS)," jelas dia.

Pada 2018, kebijakan pemerintah AS untuk melakukan proteksi perdagangan dengan negara lain membawa dampak secara global. Bukan hanya itu, kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve juga memaksa bank sentral negara lain juga melakukan penyesuaian.

Namun di saat terjadi tekanan global yang begitu kencang, Sri Mulyani menceritakan Indonesia mampu bertahan dengan baik. Pemerintah melakukan sinergi dengan bank sentral secara baik, sehingga dampak tekanan global bisa diminimalisir.

"Apa yang dilakukan di Indonesia berbeda dengan India, Turki. Pertama in term of pragmatism, di Indonesia ketika kita melihat volatalitas meningkat, komunikasi bank sentral dengan pemerintah sangat baik. Kami punya political space, kami diskusi di mana tekanan saat ini, membutuhkan respons secara cepat," pungkasnya.

MEDCOM

Berita Terkait