Selasa, 16 Juli 2019 | 11:33:56 WIB

Polda Tak Menangani Konsumsi Tahanan Terorisme

Jum'at, 22 Maret 2019 | 10:01 WIB
Polda Tak Menangani Konsumsi Tahanan Terorisme

Ilustrasi - Densus 88 Polda Metro. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Direktur Tahanan dan Barang Bukti (Dirtahti) Polda Metro Jaya AKBP Barnabas mengaku tak mengetahui soal makanan sehari-hari terduga teroris Y alias Khodijah. Menurut dia tanggung jawab penanganan tahanan terorisme ada di Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri.

"Dia kan tahanan teroris yang merupakan titipan Densus 88. Jadi, yang memberikan makanan dan merawat itu ya Densus 88," kata Barnabas saat dikonfirmasi di Jakarta, Jumat, 22 Maret 2019.

Meski begitu, Barnabas meyakini pengawasan makanan dari tim Densus 88 baik. Ia juga memastikan tak ada keteledoran dari tim Densus 88 terkait pemberian makanan kepada Y.

"Semua pengawasan makanan sudah ketat," ujar dia.

Barnabas mengaku, saat ini penyidik tengah mencari tahu makanan terakhir yang dikonsumsi Y. Ini untuk mengetahui apakah kematian Y akibat keracunan makanan atau sebab lain.

"Saat ini masih dalam penanganan penyidik sebelumnya dia itu mengonsumsi apa," tutur Barnabas.

Setelah ditangkap Densus 88, Y dititipkan di rumah tahanan Polda Metro Jaya. Penitipan ini, sedianya dilakukan hingga Y menjalani persidangan.

Namun beberapa waktu setelah penahanan, terduga teroris Y tewas di Rumah Sakit Polri, Jakarta Timur. Hasil autopsi menunjukkan adanya cairan asam klorida atau HCl di lambung Y.

Barnabas mengungkapkan, Y awalnya mengeluh sakit. Polisi kemudian membawa Y ke RS Polri namun beberapa saat setelah tiba untuk dilakukan perawatan, Y tewas.

"Kalau melihat hasil laboratorium ada asam klorida di lambungnya. Tapi, kemungkinan dia minum atau apa gitu di kamar mandi rutan Polda Metro Jaya," terang Barnabas.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengungkapkan, pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Saat ini polisi masih menunggu hasil laboratorium forensik untuk memastikan bahan kimia yang masuk ke tubuh Y.

"Temuan di dalam perut sudah jelas kandungan asam klorida, tinggal dicocokkan ada berapa barang di TKP cocok enggak, identik enggak dengan yang ada di dalam perut," ujar Dedi di Mabes Polri, Jakarta, Kamis, 21 Maret 2019.

Dokter RS Polri Kramat Jati, Asri, mengatakan di dalam lambung Y terdapat asam klorida dengan konsentrasi 8,5 persen. Akibat menelan itu, organ cerna mulai dari mulut hingga lambung Y mengalami kerusakan parah.

"Korban mengalami pendarahan hebat. Cairan ini ada di lambung. Kita tidak tahu dia konsumsi apa, tapi zat asam sebesar itu tidak alami ada di tubuh manusia," beber dia.

Asri menyebut pihaknya tidak mengetahui sesuatu yang dimakan atau diminum oleh Y hingga menyebabkan tewas. Dokter spesialis forensik Mabes Polri Kombes Eddy mengatakan tak bisa menentukan bahan yang dikonsumsi Y.

"Tapi kita cari tahu sebab dan proses meninggalnya," ucap dia.

Kematian Y disebabkan karena kerusakan saluran pencernaan hingga menghasilkan pendarahan. Sehingga disimpulkan asam lambung."Tapi ini asam lambung dari mana, masih diusut," imbuh dia.

Eddy mengungkapkan cairan asam klorida mudah ditemukan. Salah satunya dari cairan pembersih lantai. "Tapi konsentrasinya berbeda-beda. Nanti tunggu pengembangan penyidik," jelas dia.

Terduga teroris yang baru saja ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, Y, meninggal di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta, pada Senin, 18 Maret 2019. Dia meninggal diduga karena sakit pada bagian lambung.

Perempuan berusia 35 tahun itu meninggal setelah empat hari sebelumnya ditangkap Densus 88 di kampungnya, Desa Joton, Jogonalan, Klaten.

MEDCOM

Berita Terkait