Jumat, 19 Juli 2019 | 23:49:16 WIB

Eks Pejabat Kemenpora Beli Fortuner Gunakan Nama Sopir

Jum'at, 5 April 2019 | 05:10 WIB
Eks Pejabat Kemenpora Beli Fortuner Gunakan Nama Sopir

Sidang pemeriksaan saksi untuk terdakwa penyuap pejabat Kemenpora. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Mantan Bendahara Pengeluaran Pembantu Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Supriyono mengaku pernah membelikan mobil Toyota Fortuner untuk Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Mulyana. Pembelian mobil itu menggunakan nama supir Supriyono, Widi Ramadhoni.

Supriyono yang hadir sebagai saksi dalam sidang lanjutan dengan terdakwa mantan Sekjen KONI, Ending Fuad Hamidy mengatakan, awalnya ia sempat meminta KTP milik Mulyana untuk membelikan mobil. Namun, Mulyana menolak dan meminta agar pembelian mobil menggunakan nama pihak lain.

"Karena Pak Mulyana tidak mau berikan KTP saat saya minta, terus Pak Mulyana bilang, atas nama sopir kamu saja. Lalu sopir saya mau, ya sudah atas nama Pak Widi," ungkap Supriyono di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis, 4 April 2019.

Supriyono mengaku pembelian mobil menggunakan nama Widi untuk menghindari pajak progresif kepemilikan mobil. Jaksa kemudian mengonfirmasi apakah Mulyana memiliki banyak mobil atau tidak.

Namun, Supriyono mengaku tidak mengetahui hal tersebut. Yang pasti, menurut dia, di rumah Mulyana terdapat cukup banyak mobil.

Sebelumnya, Supriyono mengaku pernah membelikan mobil Toyota Fortuner atas permintaan Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Mulyana. Pembelian Fortuner itu menggunakan uang dari Sekjen KONI, Ending Fuad Hamidy.

"Saya pergi ke Pak Hamidy, saya sampaikan mau pinjam uang Rp1 miliar, salah satunya untuk beli Fortuner," tuturnya.

Menurut Supriyono, uang itu sedianya dipinjam untuk operasional Kemenpora di awal tahun. Namun, di dalam perjalanannya, uang itu digunakan untuk membelikan Fortuner.

"Sisa beli Fortuner untuk operasional, seingat saya Rp520 juta beli Fortuner, sisanya untuk operasional," ungkap dia.

Hamidy bersama Bendahara Umum KONI Johnny E Awuy sebelumnya didakwa memberikan hadiah berupa satu unit Mobil Fortuner VRZ TRD warna hitam metalik dengan nomor polisi B 1749 ZJB kepada Mulyana. Selain itu, Mulyana turut menerima uang sejumlah Rp300 juta.

Hamidy juga memberikan satu kartu ATM Debit BNI dengan saldo senilai Rp100 juta dan satu unit handphone merek Samsung Galaxy Note 9 ke Mulyana. Tidak hanya itu, Hamidy juga turut berperan memberikan hadiah kepada pejabat pembuat komitmen (PPK) pada Kemenpora Adhi Purnomo dan staf Kemenpora Eko Triyanto berupa uang Rp215 juta.

Pemberian hadiah tersebut supaya Mulyana dan Adhi membantu mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah yang diajukan KONI pusat kepada Kemenpora tahun kegiatan 2018.

Sebelumnya, pejabat pembuat komitmen (PPK) pada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Adhi Purnomo mengaku ingin mempergunakan uang suap untuk bayar cicilan rumah. Pengakuan Adhi itu usai pencairan dana proposal dukungan KONI senilai Rp17,971 miliar.

Dalam surat dakwaan terhadap Ending, terungkap jika dana proposal tersebut untuk dukungan KONI pusat dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon asisten dan pelatih atlet berprestasi tahun kegiatan 2018.

Awalnya Adhi menyampaikan pada staf Kemenpora Eko Triyanta bahwa surat perintah pencairan dana (SP2D) proposal program tersebut telah terbit. Eko melaporkan kepada Adhi bahwa ada uang 'tanda terima kasih' dari Sekretaris Jenderal Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ending Fuad Hamidy.

"Akan ada 'tanda terima kasih' dari Ending untuk Adhi Purnomo yang dijawab dengan mengatakan 'kalau ada tanda terimakasih, Insyaallah akan saya gunakan untuk menambah pembayaran cicilan rumah,'" kata jaksa pada KPK, Ronald Worotikan saat membacakan surat dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin, 11 Maret 2019.

Dalam dakwaan disebutkan, Ending berperan memberikan hadiah kepada Adhi dan Eko berupa uang Rp215 juta. Ending memberikan uang tersebut di Gedung KONI, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Ending dan Bendahara Umum KONI Johny E Awuy didakwa menyuap Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Mulyana. Keduanya diyakini memberikan hadiah berupa satu unit Mobil Fortuner VRZ TRD warna hitam metalik dengan nomor polisi B 1749 ZJB kepada Mulyana. Selain itu, Mulyana turut menerima uang sejumlah Rp300 juta.

Kemudian, satu buah kartu ATM Debit BNI nomor 5371 7606 3014 6404 dengan saldo senilai Rp100 juta dan satu buah handphone merk Samsung Galaxy Note 9.

Suap tersebut terkait bantuan dana hibah kepada Kemenpora dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan dan pendampingan program peningkatan prestasi olahraga nasional, pada Multi Event Asian Games 2018 dan Asian Para Games 2018.

Selain itu, suap terkait pula dengan pencairan dana proposal dalam rangka pengawasan dan pendampingan seleksi calon asisten dan pelatih atlet berprestasi tahun kegiatan 2018.

Akibat perbuatannya, Johny dan Ending disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 jo Pasal 64 ayat 1 KUHP.

MEDCOM

Berita Terkait