Jumat, 13 Desember 2019 | 20:25:20 WIB

Usut Tuntas Kasus Surat Suara Tercoblos di Malaysia

Jum'at, 12 April 2019 | 13:52 WIB
Usut Tuntas Kasus Surat Suara Tercoblos di Malaysia

PPLN Kuala Lumpur mengirim surat suara Pemilu 2019 untuk WNI di wilayah Kuala Lumpur, Kamis, 14 Februari 2019. Pengiriman sebanyak 29.000 surat suara tersebut dibantu pimpinan partai politik dari dua pasangan calon dan diawasi Panwaslu Kuala Lumpur. (FOTO: MEDCOM/LINDO)

JAKARTA, LINDO - Komisi Pemilihan Umum (KPU) bakal mengusut tuntas kasus viralnya video terkait temuan surat suara tercoblo. Temuan itu diduga terjadi di Selangor, Malaysia.

"Kami sedang konfirmasi kejadian persisnya dan bagaimana sebetulnya yang terjadi. Kami sedang konfirmasi ke Kelompok Kerja Panitia Pemungutan Luar Negeri (PPLN) untuk mengecek terlebih dahulu," kata Komisioner KPU, Ilham Saputera, Kamis, 11 April 2019.

Ilham mengaku baru mengetahui soal video tersebut. KPU masih menunggu konfirmasi dari PPLN Malaysia. Namun begitu, Ilham memastikan jika video itu benar adanya, KPU akan mengambil tindakan sesuai peraturan perundang-undangan.

"Kita tentu saja harus lihat terlebih dahulu siapa yang melakukan. Kalau sudah tahu siapa yang melakukan, tentu kami akan melakukan tindakan sesuai peraturan perundang-undangan yang ada."

Jika perlu, lanjut Ilham, "kita pecat sesuai dengan temuan-temuan itu. Kemudian, kita serahkan kepada DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilihan Umum) atau menunggu rekomendasi Bawaslu terkait kejadian tersebut," ujarnya.

Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar membenarkan video itu. Menurut Fritz, video itu merupakan temuan dari Panitia Pengawas Luar Negeri (Panwaslu) di Selangor, Malaysia. Surat suara tercoblos itu ditemukan dalam sejumlah kantong hitam.

Dia meminta KPU segera mengevaluasi kinerja PPLN dan menghentikan sementara proses pemungutan suara untuk wilayah Malaysia yang sedianya dilaksanakan pada 14 April 2019.

"Kita sudah membuat rekomendasi soal kinerja PPLN yang diragukan. Kami akan meminta KPU menghentikan sementara proses pemungutan suara di seluruh Malaysia. Jelas ada kegiatan yang TSM (terstruktur, sistematis, dan masif)," kata Fritz.

Kronologi kejadian

Kasus temuan tercoblosnya surat suara bermula dari laporan relawan Sekretaris Bersama Satuan Tugas Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi (Satgas BPN PADI), Parlaungan, pada 11 April 2019 pukul 12.48 waktu Malaysia. Ia mengadukan temuan itu melalui pesan Whatsapp kepada Ketua Panwaslu Kuala Lumpur Yaza Azzahara Ulyana.

Yaza lantas mengajak Anggota Panwaslu Kuala Lumpur, Rizki Israeni Nur, menuju ke lokasi. Pukul 13.00, Yaza dan Rizki tiba di lokasi yang beralamat di Taman Universiti Sungai Tangkas Bangi 43000 Kajang, Selangor.

Lokasi itu merupakan lot toko. Di dalamnya terdapat 20 buah tas diplomatik, 10 kantong plastik hitam, dan sekitar 5 karung goni putih dengan tulisan Pos Malaysia. Kantong-kantong itu disebut berisi surat suara.

Yaza lantas mencoba membuka kantong secara acak. Ditemukan surat suara tercoblos untuk pasangan nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin. Untuk surat suara anggota legislatif, tercoblos di kolom Partai NasDem pada caleg nomor urut 3.

Selang beberapa jam, Panwaslu Kuala Lumpur kembali menerima informasi dari anggota Satgas BPN PADI. Mereka menyebut ada kasus yang sama di sebuah rumah di kawasan Bandar Baru Bangi, Selangor. Sekitar 15 menit dari lokasi pertama.

Di lokasi kedua itu, Panwaslu menemukan 158 karung dengan isi surat suara sekitar 230 lembar per karungnya. Kali ini surat suara yang tercoblos yaitu untuk capres 01 dan caleg NasDem nomor urut 2. Terdapat juga lembar surat suara tercoblos untuk caleg Demokrat nomor urut 3.

"Total jumlah di dua lokasi tersebut berjumlah 40-50 ribu surat suara," kata Yaza.

NasDem mencium praktik kotor

Menanggapi temuan surat suara tercoblos ini, NasDem melihat ada banyak kejanggalan. Terutama dari viralnya video yang menjadi sumber pertama kasus ini.

"Video yang viral soal suara yang tercoblos jika diamati sepintas adalah surat suara yang akan dikirim dengan pos," kata Ketua DPP Partai NasDem, Willy Aditya.

Khusus pemilihan di luar negeri, ada tiga metode pemberian suara, yakni lewat tempat pemungutan suara (TPS), lewat kotak suara keliling, dan dikirim melalui pos memakai amplop dari domisili pemilih.

Menurutnya, ada keganjilan dalam video itu. Pertama, amplop yang ada belum terkirim ke alamat pemilih, tetapi sudah dicoblos."Logikanya, jika amplop sampai ke tangan penerima, tentu akan muncul persoalan," katanya. Maklum, pemungutan suara di Malaysia baru akan dilakukan 14 April 2019.

Keganjilan lain, lanjut dia, adalah bagaimana mungkin surat suara dalam pengawasan PPLN, Panwas Luar Negeri, dan keamanan di kedubes bisa keluar dalam jumlah cukup besar. Dan surat suara itu disimpan di sebuah ruko kosong di luar wilayah yuridiksi kedutaan Indonesia.

"Keganjilan berikutnya adalah ruko kosong itu ditemukan seseorang lalu diviralkan," katanya.

Skenario kotor

Dari sejumlah keganjilan itu, Willy menyatakan sangat mungkin kejadian ini telah dirancang. "Sarat dengan kepentingan politik yang dimainkan oleh pihak-pihak yang takut kalah dengan menyebut bahwa ada kecurangan."

Fakta ini, lanjut dia, beriringan dengan fakta berbagai survei belakangan yang mengunggulkan pasangan Jokowi-Ma'ruf dibandingkan Prabowo-Sandi.

"Karena itu, NasDem mendorong Bawaslu dan kepolisian mengusut tuntas kasus ini. Apakah ini fakta atau rekayasa politik untuk mendelegitimasi pemilu," tegasnya.

NasDem juga mendorong agar kasus ini dibuka di hadapan hukum untuk memastikan pemilu berjalan dengan langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil.

"NasDem sepakat, jika kasus ini belum tuntas, pemungutan suara di Malaysia sebaiknya ditunda," jelas Willy.

Jika kasus itu masuk kategori pidana Pemilu, NasDem pun mendorong agar segera diusut tuntas.

"NasDem mengimbau semua pihak untuk berhati-hati dengan skenario kotor (dirty operation) dari kasus ini. Sebab, kuat diduga ada yang main api untuk membakar rumah sendiri," katanya.

MEDCOM

Berita Terkait